Pemkot Depok Gelar Musyawarah Kebudayaan, Supian Suri Apresiasi untuk Seluruh Tokoh Budaya

JawaPos.com — Pemerintah Kota Depok resmi menggelar Musyawarah Kebudayaan Kota Depok 2025 sebagai langkah konkret dalam implementasi Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2023 tentang Pemajuan Kebudayaan. Acara ini berlangsung di Aula Teratai, Balai Kota Depok, kemarin.
Musyawarah ini bertujuan memilih Ketua Dewan Kebudayaan Daerah periode 2025–2028, sekaligus menyusun pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah secara partisipatif bersama para tokoh budaya dan masyarakat.
Supian Suri menyampaikan apresiasi kepada seluruh tokoh budaya yang hadir dan menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga serta mengembangkan kekayaan budaya Kota Depok.
’’Saya berterima kasih kepada bapak dan ibu, khususnya para tokoh budaya, karena saya diberi kesempatan untuk bisa melayani masyarakat Kota Depok, termasuk mendengar harapan, ide, dan masukan dari para tokoh budaya,’’ ujar Supian.
Dia menyebutkan, posisi geografis Depok yang strategis memberikan keunggulan tersendiri dalam pengembangan kebudayaan. Namun, tantangan utama justru terletak pada bagaimana menghadirkan daya tarik budaya yang autentik.
’’Kita semua menyadari, Depok ini punya potensi besar. Letaknya sangat strategis dan bisa dijangkau dari berbagai penjuru. Jarak kita dengan Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, bahkan jalan tol yang menghubungkan Sumatera hingga Jawa Timur, semuanya mengarah ke sini. Depok sangat terbuka bagi siapa saja,'' katanya.
’’Tugas kita hari ini tinggal menentukan, apa yang mau kita tonjolkan? Magnet budaya apa yang bisa kita hadirkan agar orang dari berbagai daerah ingin datang ke Depok?’’ tambahnya.
Dalam forum tersebut, Supian Suri memaparkan tiga rencana besar sebagai bagian dari strategi kebudayaan yang akan dikembangkan selama masa kepemimpinannya.
Pertama, pengembangan kawasan Depok Lama sebagai kawasan heritage kota. Wali Kota menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai sejarah di Depok Lama sebagai bagian dari identitas kota. Kawasan ini akan dijadikan kawasan warisan budaya yang dilindungi dan dikembangkan.
’’Depok Lama memiliki cerita sejarah yang tidak boleh kita lupakan. Kita ingin kawasan ini benar-benar menjadi kawasan warisan budaya, karena ceritanya memang harus kita abadikan,” jelasnya.
Kedua, penetapan Lebaran Depok sebagai agenda budaya tahunan. Supian juga menyatakan komitmennya menjadikan Lebaran Depok sebagai agenda budaya tetap yang harus dijalankan setiap tahun oleh kepala daerah yang menjabat.
’’Lebaran Depok ini saya ingin tetapkan sebagai event tahunan. Siapa pun nanti wali kotanya, wajib menjalankan kegiatan ini,’’ tegasnya.
Ketiga, pembangunan gedung kesenian sebagai pusat aktivitas budaya. Untuk mendukung ruang ekspresi para seniman lokal, Supian merencanakan pembangunan gedung kesenian di Kota Depok.
’’Saya sedang merumuskan pembangunan gedung kesenian sebagai tempat berkumpul dan tampilnya para tokoh serta seniman lokal. Kami sedang mencari beberapa alternatif lokasi. Mohon masukan dan sarannya,” katanya.
Lebih jauh, Supian menyoroti potensi industri kebudayaan sebagai penggerak ekonomi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
’’Industri kebudayaan sangat mungkin menjadi jalan untuk mencapai kesejahteraan. Karena itu, jangan ragu. Kita bisa maju lewat budaya,” kata dia.
Musyawarah Kebudayaan Kota Depok ini diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat arah kebijakan budaya yang inklusif dan berkelanjutan, dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam membangun Depok sebagai kota budaya yang dinamis dan berdaya saing.






