JawaPos.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menyatakan kesiapan penuh untuk menjadi bagian dari 33 kota dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Hal ini ditegaskan Wali Kota Depok Supian Suri, saat mendampingi Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, dalam dialog bersama masyarakat dan komunitas lingkungan di tepi Situ Jatijajar, belum lama ini.
“Yang pertama sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Menteri atas kehadirannya di Kota Depok. Yang kedua, terima kasih atas dukungan yang diberikan kepada Pak Menteri berkaitan dengan penyelesaian sampah di Indonesia, khususnya di Kota Depok,” ujar Supian Suri.
Menurut Supian, Kota Depok telah memenuhi sejumlah kriteria untuk masuk dalam program pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Kriteria tersebut antara lain volume sampah yang mencapai 1.300 ton per hari, adanya perda retribusi sampah, armada pengangkut yang siap operasional, serta ketersediaan lahan seluas lima hektare yang disiapkan sebagai lokasi pengelolaan.
“Pertama adalah sampahnya di satu kota atau kabupaten itu minimal 1.000 ton per hari. Di Depok kurang lebih 1.300 ton per hari. Pak Menteri, jadi Depok sudah masuk kriteria itu. Kedua, ada perda yang mengatur tentang retribusi sampah kita juga sudah miliki itu,” ungkapnya.
“Ketiga, ada armada atau angkutan yang siap digunakan untuk pengambilan sampah dari masyarakat menuju pengelolaan sampah dan itu juga kita sudah miliki. Yang keempat, ada lahan kurang lebih 5 hektare yang akan digunakan sebagai pengelolaan sampah menjadi energi listrik,” tambahnya.
Supian juga menyampaikan, Pemkot Depok bersama DPRD telah menyiapkan anggaran sebesar Rp60 miliar untuk pembelian lahan di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.
“Mudah-mudahan ini menjadi ikhtiar. Saya sudah bersurat kepada Pak Menteri untuk Depok salah satu kota yang siap mengelola sampah menjadi energi listrik,” ucapnya.
Selain menyiapkan proyek konversi sampah menjadi energi, Supian Suri menekankan pentingnya penyelesaian masalah sampah mulai dari rumah tangga dengan melibatkan masyarakat secara aktif.
“Kami berikhtiar menyelesaikan sampah dari rumah. Kita punya pengelolaan sampah melalui maggot, mengolah sampah organik, dan juga ada bank sampah, walaupun progresnya memang belum signifikan untuk mengurangi sampah yang dikirim ke TPA Cipayung,” ujar Supian.
Dia menambahkan, edukasi masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Memilah sampah organik, mengelola sampah menjadi hal yang lebih bermanfaat, ini terus kita lakukan. Alhamdulillah dengan dukungan komunitas, Karang Taruna, dan seluruh elemen, kita bisa terus bersinergi,” jelasnya.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mendorong kolaborasi lintas pihak untuk menjaga kebersihan Sungai Cipinang yang melintasi tujuh kelurahan di Kota Depok.
“Maka izinkan saya untuk kembali diskusi dengan bapak-bapak sekalian. Saya sangat berharap komunitas-komunitas penggiat sungai ini bisa terbentuk, bisa kita fasilitasi, bisa difasilitasi oleh bapak Wali Kota,” ujarnya.
Hanif menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menciptakan perubahan nyata di lapangan.
“Justru yang paling penting adalah keterlibatan partisipasi aktif dari seluruh jajaran masyarakat yang ada di bantaran Sungai Cipinang ini,” katanya.
Dia juga menyatakan dukungan penuh terhadap upaya Pemerintah Kota Depok dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Ayo kalau bapak memerlukan kewenangan apapun itu, saya akan berikan. Perlengkapan apapun itu, saya akan usahakan. Yang penting sungainya bersih dulu,” tegas Menteri LH.