Awas Menular! Dinkes Kota Tangerang Sebut Ada 1.746 Kasus Positif TBC

Muhtamimah • Dipublikasikan Selasa, 11 Maret 2025 | 01:08 WIB
Petugas Dinkes Kota Tangerang memeriksa pasien yang diduga memiliki penyakit TBC.
Petugas Dinkes Kota Tangerang memeriksa pasien yang diduga memiliki penyakit TBC.

JawaPos.com – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit yang mengancam karena menular dan berisiko mengancam. Tercatat, di 2025 sudah ada 1.746 kasus positif TBC di Kota Tangerang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Dini Anggraeni mengungkapkan, Pemkot Tangerang berhasil menangani dengan melakukan tata laksana pengobatan kepada 13.382 kasus atau 92 persen dari 14.687 akumulasi kasus selama 2024. Kemudian, selama tahun 2025 telah ditemukan 1.746 kasus positif di Kota Tangerang.

’’Pertama, penanggulangan penyakit menular adalah mencari kasus sebanyak mungkin, putus rantai penularannya dan obati pasien sampai tuntas. Upaya dalam menemukan kasus sebanyak-banyaknya, kami sudah memiliki inovasi Ransel TBC, di mana masyarakat dapat melakukan skrining mandiri dari gejala-gejala TBC dan apabila diperlukan pemeriksaan lebih lanjut akan dilakukan oleh puskesmas,’’ ungkap Dini Senin (10/2).

Dia menuturkan, Pemkot Tangerang juga melakukan pencarian kasus melalui puskesmas menggunakan rontgen mobile langsung ke masyarakat. Selain itu, pihaknya juga telah memiliki 16 laboratorium Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk mendeteksi TBC dengan diagnosis pasti dan terus kami upayakan penambahan unit setiap tahunnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga berkolaborasi dengan dinas perumahan permukiman dan pertanahan untuk melakukan bedah rumah tidak layak huni bagi pasien TBC. Khususnya, rumah pasien TBC yang tidak layak huni baik dari segi sanitasi dan sirkulasi udara.

’’Kami juga memiliki kader Asmara TBC untuk membantu petugas di puskesmas untuk mencari dan menindaklanjuti pasien dengan TBC. Para kader akan melakukan tracing dan memastikan para pasien TBC meminum obatnya hingga tuntas. Sebab, apabila pengobatan tidak tuntas maka pasien akan resisten obat dan proses penyembuhan lebih lama dari kasus TBC ringan’’ imbuhnya.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
kota tangerang Dinas Kesehatan (Dinkes) tuberkulosis (TBC)