JawaPos.com - Sebagai kota yang dikenal menggulirkan program sejuta maulid, keberadaan perjalanan islam di Kota Depok begitu kental. Salah satu buktinya yaitu bangunan Masjid Al-Ittihad yang terletak di Kawasan Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung. Masjid ini memiliki sejarah panjang dan penuh makna bagi penyebaran islam di Kota Depok.
Dikenal sebagai salah satu masjid tertua di kota itu, masjid ini telah mengalami berbagai renovasi sepanjang sejarahnya, dari yang sederhana hingga kini menjadi bangunan yang kokoh dan mampu menampung ratusan jamaah.
Menurut H. Rusli Widya Permana, Tokoh Agama setempat, masjid ini awalnya dibangun pada abad ke-19 dan dikenal dengan nama "langgar" pada masa itu. Warga sekitar menyebutnya "langgar" karena bentuknya yang sederhana dan belum permanen.
"Dulu ini langgar, bukan masjid seperti sekarang," kata dia.
Pembangunan masjid pertama kali dilakukan dengan gotong royong warga yang mengambil pasir dan batu dari kali Ciliwung. Mereka bekerja bersama-sama, membawa bahan bangunan secara manual, yang tentu saja sangat berbeda dengan cara pembangunan masjid saat ini.
Renovasi pertama dilakukan secara bergotong royong, diikuti dengan beberapa renovasi berikutnya. Salah satu renovasi besar dilakukan pada tahun 2014, ketika masjid ini mengalami penambahan bangunan, menjadi dua lantai. Meskipun lantai kedua dibangun baru, struktur dasar dan tiang-tiang utama masjid tetap dipertahankan, termasuk sokoguru yang menjadi bagian integral dari bangunan masjid ini.
Masjid ini juga memiliki sejarah terkait dengan peran masyarakat dan peran pemerintah dalam pembangunan dan renovasi masjid. Meskipun renovasi terakhir pada tahun 2014 tidak melibatkan peran besar dari pemerintah, belakangan terdapat bantuan berupa dana senilai 100 juta rupiah. "Masyarakat harus mengajukan IMB untuk bisa mendapat dana dari pemerintah," kata Rusli.
Masjid Al-Ittihad juga memiliki nilai sejarah yang tak kalah penting. Beberapa tokoh agama setempat, telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan masjid ini. Terdapat pula makam-makam tua di sekitar masjid yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah panjang kawasan ini. Sebagian nisan yang ada di sana bahkan diperkirakan berasal dari kerajaaan Banten, yang menunjukkan hubungan masjid ini dengan sejarah Islam di Indonesia.
Berdasarkan catatan, masjid ini sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia, dan beberapa referensi menunjukkan bahwa masjid ini telah ada sejak tahun 1810. Keberadaan masjid lebih dari satu abad ini kata Haji Rusli, juga terdeteksi dari tulisan koran berbahasa Belanda yang menyoroti kunjungan seorang tokoh agama Batavia, yaitu Habib Ali Kwitang.
"Saya juga tengah meneliti kapan pastinya Masjid di bangun. Beberapa tokoh agama juga sudah dimintai informasi. Dari bagian Pemkot juga pernah menunjukan foto tulisan koran belanda yang diperkirakan tentang masjid ini, " papar dia.
Sebagai situs cagar budaya Kota Depok, masjid ini kini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga tempat yang penuh dengan nilai sejarah dan sosial.
Bagi warga sekitar, masjid ini adalah tempat berkumpulnya umat Islam, tempat ibadah, serta tempat untuk mempererat silaturahmi antar warga. "Masjid ini bukan hanya tempat untuk beribadah, tetapi juga tempat untuk meningkatkan semangat beragama dan mempererat ukhuwah," ungkap dia.
Dengan segala sejarah dan nilai yang dimilikinya, Masjid Al-Ittihad menjadi saksi bisu perjalanan waktu, perubahan zaman, dan perkembangan umat Islam di Depok. Kini, dengan statusnya sebagai cagar budaya, masjid ini tetap mempertahankan keaslian dan fungsinya, sekaligus melanjutkan warisan sejarah yang tak ternilai bagi generasi mendatang.
Editor : Susilo.