Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Sekolah Bersebelahan dengan Pemkot Tangsel! Siswi SMK Waskito Diduga Jadi Korban Pelecehan dari Kakak Kelas

Muhtamimah • Kamis, 8 Mei 2025 | 11:25 WIB
Siswa-siswi SMK Waskito berunjuk rasa meminta pihak sekolah untuk mengusut tuntas kasus dugaan pelecehan seksual Rabu (7/5).
Siswa-siswi SMK Waskito berunjuk rasa meminta pihak sekolah untuk mengusut tuntas kasus dugaan pelecehan seksual Rabu (7/5).

JawaPos.com – Pelecehan seksual diduga terjadi di SMK Waskito. Kemarin (7/5) sekolah swasta yang jaraknya berdekatan dengan Pemkot Tangsel di wilayah Serua, Kecamatan Ciputat, tersebut mendadak ramai.

Ratusan siswa-siswi sekolah tersebut menggelar unjuk rasa meminta pihak sekolah mengusut tuntas kasus pelecehan seksual yang diduga pelakunya adalah kaka kelas dari korban pelecehan yang dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler sinematografi.

Sebagaimana diketahui, pelecehan pertama terjadi di dalam kelas pada Oktober 2024. Kemudian, kejadian kedua pada November 2024, terakhir pada 5 April 2025. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangsel Cahyadi mengatakan, sebagai upaya mencegah kekerasan perempuan dan anak, pihaknya sudah melakukan sosialisasi dan edukasi pencegahan di sekolah-sekolah. Kegiatan itu telah rutin dilakukan oleh pihaknya.

Selain itu, dinasnya juga telah melakukan penguatan terhadap Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah sesuai dengan Permendikbud Nomor 46 Tahun 2024. ’’Terkait dengan kasus yang terjadi di SMK Waskito, kami sudah berkoordinasi dengan Polres untuk penanganannya. Hari ini (kemarin) kami melakukan pendampingan terkait dengan visum di RSUD dan juga penjadwalan untuk korban mendapatkan pendampingan dari sisi psikolog untuk konselingnya,’’ kata Cahyadi kemarin (7/5).

Dia memastikan, kasus itu akan dikawal sampai dengan selesai dengan baik. Sehingga memberikan efek jera kepada pelaku. ’’Korban mengalami tekanan mental sehingga kondisinya sempat nge-drop. Kami sudah melakukan pendampingan ke RSUD untuk melakukan visum. Jadi, memang terus kita dampingi supaya pulih secara kejiwaannya,’’ terangnya.

Dia menambahkan, mestinya kejadian-kejadian seperti itu ditangani oleh TPPK di sekolah. Padahal, hampir di seluruh sekolah di Tangsel sudah terbentuk TPPK. ’’Namun, pelaksanaannya agak sulit. Karena beberapa fungsi yang dijalankan oleh guru yang menjadi anggota TPPK-nya tidak mudah, mulai dari pencegahan sampai penanganan,’’ ujarnya.

Menurut dia, kondisi saat ini sudah mengharuskan masuk dalam penanganan kejadian. Yakni, pemanggilan, BAP, dan merekomendasikan. ’’Memang banyak sekolah yang belum memahami secara utuh Permdikbud 46 itu,’’ katanya.

Dengan adanya kejadian itu menunjukkan bahwa TPPK di sekolah tidak berjalan maksimal. ’’Sepertinya seperti itu (pengawasannya lemah), mungkin pengawasan dan lain-lain halnya boleh dikatakan seperti itu, sehingga terjadi seperti sekarang,’’ pungkasnya.

Humas SMK Waskito Kristi mengatakan, setelah kasus tersebut terungkap, pihak sekolah langsung menangani sesuai prosedur internal. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan KCD Tangsel. 

"Dari pihak Dinas Pendidikan, kami telah mendapatkan arahan terkait langkah-langkah yang perlu diambil. Selain itu, Kementerian Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) juga telah turut serta menangani kasus ini," katanya.

Dia menjelaskan, pada tahap awal, sekolah telah melakukan musyawarah dengan pihak-pihak terkait dan menyerahkan seluruh temuan serta bukti kepada instansi yang berwenang. Saat ini, kasus tersebut telah memasuki ranah hukum dan sedang ditangani oleh pihak Polres Tangsel.

"Untuk informasi lebih lanjut terkait proses hukum dan pembuktiannya, kami sarankan untuk menghubungi pihak kepolisian secara langsung," tuturnya.

Dia menerangkan, terkait kronologinya berdasar informasi yang diterima itu sesuai dengan yang beredar di media bahwa korban adalah siswa kelas 10 dan pelaku adalah siswa kelas 12. Untuk lokasi kejadian, bukan terjadi di ruang menari namun detail lokasi dan bukti tidak dapat disampaikan karena sudah menjadi bagian dari penyelidikan pihak berwenang.

"Untuk rekam jejak pelaku, selama berada di lingkungan sekolah, yang bersangkutan tidak menunjukkan perilaku menyimpang secara mencolok. Dia dikenal sebagai siswa yang cukup baik, dan kenakalannya masih dalam batas wajar sebagaimana umumnya remaja seusianya," lanjutnya.

Dia menambahkan, adapun langkah sekolah terhadap pelaku sudah diambil sesuai prosedur dan arahan dari Dinas Pendidikan serta Kementerian. Yakni, tindakan disipliner sudah diterapkan dan prosesnya telah diserahkan sepenuhnya ke dinas dan aparat terkait. 

"Kami tidak dapat menyampaikan lebih lanjut mengenai status pelaku karena keterbatasan kewenangan kami. Kami juga ingin menegaskan bahwa proses penanganan kasus ini membutuhkan waktu, termasuk tahap klarifikasi kepada orang tua, korban, hingga koordinasi dengan pihak-pihak resmi. Jadi bukan berarti baru diproses sekarang, tetapi memang ada tahapan yang harus dilalui dengan hati-hati," ungkapnya.

Untuk mengantisipasi adanya kejadian serupa, lanjut dia, ke depan pihaknya akan meningkatkan sistem keamanan dan pengawasan di lingkungan sekolah. Termasuk optimalisasi penggunaan CCTV dan pengawasan aktivitas siswa. "Agar kejadian serupa tidak terulang," pungkasnya.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#pemkot tangsel #SMK Waskito