Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Terapkan Praktik Bisnis Berkelanjutan, Upaya DLH DKI untuk Usaha Kuliner

Yogi Wahyu Priyono • Selasa, 2 Desember 2025 | 05:48 WIB
DLH DKI menggelar sosialisasi program pembinaan ECO ACT melalui penguatan pemahaman dan kemampuan teknis pelaku usaha.
DLH DKI menggelar sosialisasi program pembinaan ECO ACT melalui penguatan pemahaman dan kemampuan teknis pelaku usaha.

JawaPos.com — Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mendorong pelaku usaha kuliner di seluruh wilayah Ibu Kota untuk menerapkan praktik ramah lingkungan dan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas lingkungan.

Upaya ini diperkuat melalui program pembinaan ECO ACT (Education, Collaboration, Action) dengan penguatan pemahaman dan kemampuan teknis pelaku usaha. Selain itu, terdapat peningkatan kolaborasi dengan akademisi, dunia usaha, mitra CSR, dan komunitas. Aksi nyata dan pilot project yang dapat direplikasi juga menjadi bagian dari program ini.

Wakil Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin menegaskan bahwa sektor kuliner yang jumlahnya masif merupakan salah satu kontributor terbesar dalam menghasilkan limbah di Jakarta. Karena itu, penerapan standar lingkungan tidak lagi bersifat opsional.

’’Pengelolaan limbah cair, sampah makanan, dan emisi harus menjadi bagian integral dari operasional usaha. Melalui ECO ACT, kami memastikan pelaku usaha memahami dan menjalankan standar lingkungan agar operasionalnya tidak menambah beban pencemaran Jakarta,” ujarnya, Senin (1/12).

Baca Juga: Gubernur DKI Lantik Uus Kuswanto Jadi Sekda, Gantikan Marullah Matali yang Pensiun November 2025 

Dari sisi pengelolaan sampah, Kapokja Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Ditjen Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular KLH, Wisti Noviani Adnin mengungkapkan bahwa UMKM kuliner di Jakarta menghasilkan lebih dari 500 ton sampah per hari. Ia menekankan perlunya pemilahan dan pengolahan sampah langsung dari sumbernya.

’’Pelaku usaha harus memilah sampah sejak di dapur. Kolaborasi dengan penyedia layanan pengelolaan sampah seperti peternakan, asosiasi maggot, atau komposter sangat penting agar sampah organik tidak lagi berakhir di TPA,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kapasitas Usaha Mikro Kementerian Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) Riesta Karentina. Ia menilai pelaku usaha perlu menguasai green skills untuk dapat beradaptasi dengan tuntutan usaha berkelanjutan. Keterampilan tersebut meliputi manajemen limbah, desain produk berkelanjutan, hingga strategi pengurangan dan daur ulang sampah.

’’Pelaku usaha bisa menjadi circular entrepreneur dengan mengubah model bisnis linear menjadi sirkular: buat, pakai, pulihkan. Pelajari juga eco-design dan upcycling untuk menciptakan nilai tambah,” tuturnya.

Ia turut mendorong penguatan komunikasi digital melalui komunitas daring dan kerja sama dengan micro-influencer untuk menyebarkan pesan keberlanjutan, terutama kepada generasi muda.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta