Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Ikuti Panggilan Nurani, Menag Geber Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta

Hilmi Setiawan • Rabu, 24 Desember 2025 | 21:32 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar (dua dari kanan) dalam acara Dialog Media Refleksi Kinerja 2025 di Jakarta (23/12).
Menteri Agama Nasaruddin Umar (dua dari kanan) dalam acara Dialog Media Refleksi Kinerja 2025 di Jakarta (23/12).

JawaPos.com – Selain ekoteologi, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar juga menggagas Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Dia mengatakan, Kemenag akan terus mengakampanyekan penerapan kurikulum cinta itu. Sebab, pada dasarnya inti dari ajaran agama-agama adalah cinta.

Pesan terkait penerapan kurikulum cinta itu disampaikan Nasaruddin dalam Dialog Media Refleksi Kinerja 2025 di Jakarta (23/12). Dia menegaskan, pemahaman mengenai nilai-nilai cinta dalam pendidikan sejatinya selama ini sudah ada. Tetapi praktiknya belum terukur. Dengan adanya KBC itu diharapkan penanaman cinta dalam pendidikan bisa lebih terukur.

Dia menegaskan, Kemenag berupaya menyiapkan generasi mendatang lewat kurikulum cinta. Menurut Nasaruddin, gagasan kurikulum cinta itu murni dari nuraninya.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, kehadiran kurikulum cinta bukan atas dasar politik. Nasaruddin mengatakan, program atau pekerjaannya saat ini, termasuk kurikulum cinta, bagian dari upaya menegakkan visi dan misi Presiden Prabowo Subianto. Ketika Prabowo mempunyai Asta Cita, Kemenag di bawah kepemimpinan Nasaruddin Umar punya Asta Program Prioritas (Protas). Dia menegaskan Astra Protas Kemenag linier dengan Asta Cita Presiden.

Baca Juga: Tak Terbuai Setumpuk Penghargaan, Menag Terus Berupaya Dekatkan Umat Beragama dengan Agama  

Menurut Nasaruddin, implementasi kurikulum cinta dalam pembelajaran sangat penting. Apalagi bagi guru-guru agama. Ada kalanya secara sadar atau tidak, oknum guru agama mendoktrin siswanya dengan ajaran kebencian. Baginya, doktrin kebencian yang didasarkan atas perbedaan agama itu berbahaya.

Dia menegaskan, lewat kurikulum cinta, pembelajaran tidak bisa lagi dilandasi perbedaan-perbedaan. Sebaliknya, yang digali adalah persamaannya. Dengan begitu,  Indonesia semakin dikenal dunia sebagai negara paling toleran. ’’Masak sesama bangsa Indonesia saling gontok-gontokan,’’ katanya. Nasaruddin menegaskan, perbedaan adalah hal biasa dan bukan sebuah masalah. (wan/oni)

 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#nasaruddin umar #Menteri Agama (Menag)