JawaPos.com – Cinépolis Cinemas Indonesia kembali menegaskan komitmennya sebagai pelopor inovasi pengalaman sinema dengan menghadirkan Magnify8, teknologi kursi sensorik generasi terbaru dari LUMMA, untuk memperdalam imersi emosional penonton tanpa stimulasi berlebihan.
Teknologi ini resmi diperkenalkan melalui kemitraan strategis Cinépolis Cinemas Indonesia dengan LUMMA, sekaligus menandai peluncuran tujuh bioskop Lumma Magnify8 di berbagai kota utama di Indonesia (Jakarta, Medan, Serang, Banjarbaru, Malang, Pekanbaru, dan Sidoarjo).
Berbeda dari format sensorik berintensitas tinggi, Magnify8 menghadirkan pendekatan baru dalam imersi sinematik. Teknologi ini dirancang untuk menjadi penguat suasana yang memperdalam emosi cerita, bukan sekadar efek teknologi. Getaran halus yang tersinkronisasi dengan audio dan dinamika film di layar memungkinkan penonton merasakan suasana dan ketegangan secara lebih imersif, tetap nyaman, dan tidak mengganggu fokus menonton.
Baca Juga: Sudinkes Jakarta Selatan Siagakan Tim Petugas Kesehatan pada Malam Tahun Baru 2026
Alejandro Aguilera Garibay selaku CEO Cinépolis Cinemas Indonesia, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam evolusi pengalaman menonton di Indonesia.
“Cinépolis Cinemas Indonesia sedang mendefinisikan ulangkenyamanan dan imersi melalui kolaborasi menarik denganLUMMA, membawa kursi Magnify8 ke pasar Indonesia. Ini adalah langkah inovatif yang dirancang untuk meningkatkanpengalaman sinematik para tamu kami,” ujar Alejandro.
Sementara itu, Sebastián Franco, Partner dan COO LUMMA, menyampaikan bahwa peluncuran Magnify8 di Indonesia memperkuat kemitraan global yang telah terjalin dengan Cinépolis Indonesia.
“Kami dengan bangga mengumumkan peluncuran Magnify8 bekerja sama dengan Cinépolis Indonesia di beberapa bioskop unggulan di seluruh Indonesia. Momen penting ini semakin memperkuat kolaborasi jangka panjang kami dengan Cinépolis, yang telah berhasil menerapkan teknologi 4D E-Motion kami di Argentina, Eropa, dan Timur Tengah,” ungkap Sebastian.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi