‘’Untuk yang terdampak banjir, kalau di Jakarta semuanya gratis. Karena semuanya bisa dilayani di puskesmas maupun rumah sakit,” kata Pramono, Rabu (27/1).
Menurutnya, fasilitas kesehatan milik Pemprov DKI cukup banyak untuk memberikan layanan kesehatan kepada warga yang terdampak banjir tersebut. Perinciannya, 44 puskesmas kecamatan, 292 puskesmas kelurahan, serta 31 rumah sakit daerah yang siap melayani korban banjir tanpa pungutan biaya.
‘’Kalau ada korban terdampak banjir, maka kami gratiskan,’’ imbuhnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah potensi penyakit akibat bakteri dari genangan air. Misalnya, leptospirosis atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit kencing tikus. Penyakit itu menular dari hewan (terutama tikus) ke manusia melalui urine yang mencemari air atau tanah, sering terjadi saat banjir. Gejalanya meliputi demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri otot, terutama pada betis.
‘’Mengenai kencing tikus, saya jadi terngiang-ngiang. Dan ternyata, di Jakarta belum ada. Toh kalau ada, kami pasti akan secara preventif melakukan pencegahan terhadap itu,’’ katanya.
Sementara itu, Wali Kota Jakarta Utara Hendra HIdayat menuturkan, telah berkoordinasi dengan puskesmas kelurahan dan kecamatan untuk pencegahan penyakit pasca banjir kepada warga Jakarta Utara. Upaya pencegahan dilakukan dengan penyemprotan cairan disinfektan saat warga melakukan pembersihan rumah pasca banjir.
“Setelah banjir, kami langsung koordinasi dengan puskesmas untuk memberikan karbol (cairan disinfektan). Pada saat mereka bersih-bersih, kita siram semuanya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.