JawaPos.com - Sabtu (4/4) malam kemarin, warga dihebohkan dengan sesuatu yang melintas di langit Lampung. Sekitar pukul 20.00 WIB, seberkas cahaya terang melintas perlahan, memancing decak kagum sekaligus tanda tanya. Warga merekam, membagikan, dan mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi.
Awalnya, banyak yang menyangka itu meteor. Kilatan terang di langit malam memang identik dengan fenomena tersebut. Namun, ada yang terasa janggal dari gerak dan bentuknya.
Cahaya itu tidak melesat cepat seperti meteor pada umumnya. Ia justru tampak lebih besar, lebih lambat, dan bertahan lebih lama di langit. Jejaknya pun terlihat seperti pecahan yang menyala.
Baca Juga: Lebaran Betawi 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Mengusung Konsep Perkuat Silaturahmi dan Persatuan
Dugaan lain mengarah ke komet, tetapi kembali tak cocok. Komet tidak melintas cepat dan biasanya terlihat dalam periode tertentu saat mendekati matahari. Sementara fenomena ini muncul tiba-tiba tanpa pola yang jelas.
Di sinilah analisis mulai mengarah pada satu kemungkinan: sampah antariksa. Benda buatan manusia yang telah habis masa pakainya kembali memasuki atmosfer bumi. Dalam proses re-entry, benda tersebut terbakar dan menghasilkan cahaya terang.
Sampah antariksa umumnya berupa bagian roket atau satelit yang sudah tidak aktif. Saat bergesekan dengan atmosfer, suhu tinggi membuatnya hancur menjadi serpihan bercahaya. Inilah yang kemudian terlihat dari permukaan bumi sebagai garis terang di langit.
Penjelasan ini juga diperkuat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional. BRIN menyebut ciri-ciri cahaya yang bergerak lambat dan terpecah menjadi beberapa bagian sangat identik dengan sampah antariksa. Fenomena ini berbeda dari meteor yang biasanya melintas cepat dan singkat.
Baca Juga: Cisadon Jadi Spot Trail Run Favorit: Trek Menantang dengan View Spektakuler, Dekat dari Jakarta
Petunjuk lain datang dari pengamatan posisi bintang. Tiga bintang sejajar yang terlihat diduga merupakan bagian dari Rasi Orion, diikuti kemunculan Salib Selatan. Dari sini, arah lintasan objek diketahui bergerak dari barat laut menuju selatan.
Validasi dilakukan melalui data milik The Aerospace Corporation. Pada 4 April, tercatat beberapa objek melakukan re-entry ke atmosfer bumi, termasuk CZ-3B R-B, badan roket milik China. Jalur orbitnya melintasi Sumatera Selatan hingga Pulau Jawa dan diperkirakan jatuh di Laut Jawa atau Samudera Hindia.
BRIN menegaskan bahwa fenomena ini umumnya tidak berbahaya karena sebagian besar benda akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan bumi. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dan melapor jika menemukan benda asing yang diduga berasal dari luar angkasa. Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa aktivitas manusia di orbit juga meninggalkan jejak yang suatu saat kembali ke bumi.
Editor : Bintang Pradewo