JawaPos.com - Ketika membicarakan stadion ikonik di Jakarta, banyak orang mungkin langsung teringat Gelora Bung Karno atau Jakarta International Stadium. Padahal, jauh sebelum kedua stadion megah tersebut berdiri, Jakarta sudah memiliki sebuah stadion yang menjadi saksi lahirnya sepak bola modern di kalangan pribumi. Namanya Stadion VIJ, sebuah lapangan bersejarah yang berdiri sejak 1928 dan hingga kini masih dapat ditemukan di kawasan Petojo, Jakarta Pusat.
Di balik ukurannya yang tidak sebesar stadion masa kini, Stadion VIJ menyimpan cerita penting tentang perjuangan, identitas, dan kecintaan masyarakat Jakarta terhadap sepak bola. Bahkan, stadion ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan lahirnya Persija Jakarta, salah satu klub sepak bola terbesar di Indonesia.
Nama VIJ sendiri merupakan singkatan dari Voetbalbond Indonesische Jacatra, sebuah perkumpulan sepak bola yang didirikan pada 28 November 1928. Menariknya, pendirian klub ini terjadi hanya beberapa minggu setelah peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak penting persatuan bangsa Indonesia. Pada masa itu, sepak bola bukan hanya olahraga, tetapi juga menjadi sarana untuk menunjukkan identitas dan semangat kebangsaan masyarakat pribumi di tengah masa kolonial.
Saat itu, kompetisi sepak bola di Hindia Belanda didominasi oleh organisasi yang banyak diikuti orang-orang Belanda. Kesempatan bagi pemain pribumi masih sangat terbatas. Kondisi inilah yang mendorong lahirnya VIJ sebagai wadah bagi para pesepak bola pribumi Jakarta untuk menunjukkan kemampuan mereka di lapangan hijau.
Perjalanan VIJ tidak bisa dilepaskan dari sosok pahlawan nasional MH Thamrin. Tokoh Betawi yang dikenal memperjuangkan hak-hak rakyat ini memberikan dukungan besar terhadap perkembangan sepak bola pribumi. Berkat dukungan dan bantuannya, Stadion VIJ berhasil dibangun pada 1928 dan menjadi salah satu simbol kebangkitan sepak bola Indonesia di masa kolonial.
Bagi masyarakat Jakarta saat itu, Stadion VIJ bukan sekadar tempat bermain sepak bola. Lapangan ini menjadi ruang berkumpul, berlatih, sekaligus membangun rasa percaya diri bahwa pemain pribumi mampu bersaing dengan klub-klub kolonial. Tak heran jika stadion ini kemudian dianggap sebagai salah satu simbol perjuangan masyarakat Jakarta melalui olahraga.
Seiring berjalannya waktu, VIJ berkembang menjadi salah satu kekuatan sepak bola nasional. Klub ini bahkan menjadi salah satu pendiri Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 1930. Dari sinilah perjalanan panjang yang kemudian melahirkan Persija Jakarta dimulai.
Setelah Indonesia merdeka, nama Voetbalbond Indonesische Jacatra resmi berubah menjadi Persija pada 1950. Meski nama dan identitas klub mengalami perubahan, akar sejarahnya tetap berawal dari VIJ dan stadion sederhana yang berdiri di Petojo tersebut. Karena itulah Stadion VIJ sering disebut sebagai rumah pertama Persija Jakarta.
Jika berkunjung ke Stadion VIJ saat ini, suasananya tentu sangat berbeda dibanding stadion modern. Stadion yang berada di tengah kawasan permukiman padat itu memiliki kapasitas yang relatif kecil dengan tribun sederhana dan fasilitas yang jauh dari stadion-stadion masa kini. Namun justru di situlah letak keunikannya. Stadion VIJ seolah menjadi mesin waktu yang membawa pengunjung kembali ke masa ketika sepak bola Indonesia baru mulai tumbuh.
Di tengah deretan rumah warga dan bangunan kota yang terus berkembang, stadion ini masih berdiri sebagai pengingat bahwa sejarah besar tidak selalu lahir dari tempat yang megah. Banyak orang mungkin mengenal Persija melalui Stadion Menteng, Gelora Bung Karno, hingga Jakarta International Stadium. Namun sebelum semua itu ada, terdapat Stadion VIJ yang menjadi titik awal perjalanan Macan Kemayoran.
Meski memiliki nilai sejarah yang sangat besar, Stadion VIJ saat ini sudah tidak lagi digunakan untuk pertandingan sepak bola profesional. Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya standar fasilitas olahraga, stadion yang hampir berusia satu abad ini tentu sulit memenuhi kebutuhan kompetisi modern yang membutuhkan kapasitas besar, sistem pencahayaan memadai, ruang media, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Namun bukan berarti Stadion VIJ kehilangan fungsinya. Hingga kini, lapangan bersejarah tersebut masih aktif digunakan oleh masyarakat sekitar. Anak-anak kerap bermain sepak bola di sana pada sore hari, sementara ada Sekolah Sepak Bola (SSB) juga yang memanfaatkan lapangan ini sebagai tempat latihan dan pembinaan pemain muda. Kehadiran aktivitas tersebut membuat Stadion VIJ tetap hidup sebagai ruang olahraga sekaligus ruang sosial bagi warga.
Keberadaan Stadion VIJ juga menjadi pengingat bahwa warisan kota tidak selalu berupa gedung tua, museum, atau monumen bersejarah. Sebuah lapangan sepak bola pun bisa menjadi bagian penting dari identitas Jakarta. Di sinilah sejarah olahraga, perjuangan kebangsaan, dan kehidupan masyarakat bertemu dalam satu ruang yang sama.
Karena itu, Stadion VIJ memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah olahraga di Jakarta. Dengan penataan kawasan yang lebih baik, fasilitas yang lebih nyaman, serta penyajian informasi sejarah yang lebih lengkap, stadion ini bisa menjadi ruang edukasi yang menarik bagi warga maupun wisatawan yang ingin mengenal perjalanan sepak bola Indonesia.
Sebagai stadion tertua di Jakarta sekaligus saksi lahirnya Persija, Stadion VIJ memiliki nilai sejarah yang penting dalam perjalanan sepak bola Indonesia. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang sudah berencana memberikan perhatian lebih melalui upaya revitalisasi yang tetap mempertahankan karakter dan nilai historis stadion. Dengan penataan yang lebih baik, Stadion VIJ berpotensi tampil lebih rapi, nyaman, dan representatif tanpa kehilangan identitasnya sebagai bangunan bersejarah.
Jika dilengkapi dengan area edukasi, papan informasi mengenai sejarah VIJ dan Persija, tribun yang lebih tertata, serta fasilitas pendukung yang memadai, stadion ini dapat berkembang menjadi destinasi wisata sejarah olahraga yang menarik. Tidak hanya menjadi ruang aktivitas bagi masyarakat dan sekolah sepakbola, Stadion VIJ juga berpotensi menjadi tempat yang memperkenalkan jejak awal perkembangan sepakbola Indonesia kepada generasi muda maupun wisatawan yang berkunjung ke Jakarta.
Editor : Bintang Pradewo