JawaPos.com - Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta, Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta (PRJ) kembali hadir dan resmi dibuka pada 11 Juni 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ajang yang digelar di JIExpo Kemayoran ini langsung menjadi magnet bagi warga yang ingin berburu promo, mencicipi kuliner, hingga menikmati konser musik dari musisi favorit mereka. Namun di balik kemeriahan yang selalu ditunggu setiap bulan Juni, Jakarta Fair ternyata menyimpan sejarah panjang yang tak kalah menarik.
Bagi banyak warga, Jakarta Fair sudah menjadi bagian dari tradisi perayaan ulang tahun Jakarta. Rasanya belum lengkap merayakan hari jadi ibu kota tanpa berkeliling di antara ratusan stand pameran, berburu barang incaran dengan harga miring, atau menikmati suasana pesta rakyat yang khas. Tak heran jika acara ini selalu berhasil menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya.
Tapi tahukah kamu? Festival yang kini dikenal sebagai salah satu pameran terbesar di Asia Tenggara ini ternyata lahir dari sebuah gagasan sederhana untuk memajukan Jakarta sekaligus memberikan hiburan bagi masyarakat. Kisahnya bahkan dimulai jauh sebelum kawasan Kemayoran menjadi rumah bagi Jakarta Fair seperti sekarang.
Sejarah Jakarta Fair berawal dari sosok Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Pada akhir dekade 1960-an, ia memiliki gagasan untuk menghadirkan sebuah pameran besar yang bisa menjadi wadah promosi produk dalam negeri sekaligus ruang hiburan bagi masyarakat. Saat itu, Jakarta sedang berkembang pesat dan membutuhkan ajang yang mampu mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan warga dalam satu perhelatan besar.
Ide tersebut kemudian diwujudkan melalui penyelenggaraan Djakarta Fair pertama pada 5 Juni 1968. Acara ini digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas) dan dibuka langsung oleh Presiden Soeharto. Antusiasme masyarakat begitu tinggi. Pada penyelenggaraan perdananya saja, Djakarta Fair berhasil menarik sekitar 1,4 juta pengunjung, angka yang sangat besar untuk ukuran saat itu.
Menariknya, konsep Djakarta Fair terinspirasi dari Pasar Gambir, pasar malam legendaris yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat Batavia pada masa kolonial. Pasar Gambir dikenal sebagai tempat berkumpulnya berbagai pertunjukan seni, budaya, pameran, dan hiburan rakyat. Semangat itulah yang kemudian dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih modern melalui Djakarta Fair.
Karena sukses besar, Djakarta Fair kemudian ditetapkan sebagai agenda tahunan yang digelar setiap bulan Juni bertepatan dengan perayaan ulang tahun Kota Jakarta. Seiring berjalannya waktu, nama Djakarta Fair berubah menjadi Jakarta Fair atau yang lebih populer disebut Pekan Raya Jakarta (PRJ). Meski namanya berubah, semangatnya tetap sama, yakni menjadi pesta rakyat sekaligus etalase perkembangan ekonomi dan industri Indonesia.
Selama lebih dari dua dekade, Jakarta Fair rutin diselenggarakan di kawasan Monas. Namun semakin besarnya skala acara membuat lokasi tersebut tidak lagi mampu menampung jumlah peserta dan pengunjung yang terus meningkat. Akhirnya pada tahun 1992, Jakarta Fair resmi dipindahkan ke Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran yang memiliki area jauh lebih luas.
Perpindahan ke Kemayoran menjadi titik penting dalam perjalanan Jakarta Fair. Di lokasi inilah acara tersebut berkembang menjadi festival raksasa yang kita kenal sekarang. Tidak hanya menghadirkan pameran produk dari berbagai sektor industri, Jakarta Fair juga menawarkan beragam hiburan mulai dari wahana permainan, parade budaya, festival kuliner, hingga konser musik yang selalu dipadati penonton.
Kini Jakarta Fair telah menjelma menjadi lebih dari sekadar pameran dagang. Acara ini sudah menjadi bagian dari identitas Jakarta dan selalu hadir untuk memeriahkan hari jadi ibu kota. Setiap tahunnya, jutaan orang dari berbagai daerah datang ke Kemayoran untuk merasakan atmosfer khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
Editor : Bintang Pradewo