Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan Olahraga

Bank Indonesia Pilih Perbesar Insentif daripada Naikkan BI Rate, Lebih Efisien untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Muhtamimah • Kamis, 23 Juli 2026 | 19:34 WIB
Sebagai gantinya, bank sentral memperbesar berbagai insentif bagi investor asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (Dok. BI)
Sebagai gantinya, bank sentral memperbesar berbagai insentif bagi investor asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (Dok. BI)

JawaPos.com – Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Sebagai gantinya, bank sentral memperbesar berbagai insentif bagi investor asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Sepanjang kuartal II 2026, aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik mencapai USD 8,5 miliar.

"Keputusan BI Rate dan kebijakan lain merupakan bagian terintegrasi dari bauran kebijakan Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global, sekaligus menjaga inflasi tetap berada pada sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, kemarin (22/7).

Modal Asing Terus Mengalir

Menurut Perry, strategi memperbesar insentif terbukti mampu menarik arus investasi portofolio asing. Pada kuartal II 2026, net inflow mencapai USD 8,5 miliar, yang sebagian besar mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Arus modal tersebut masih berlanjut memasuki kuartal III 2026. Hingga 20 Juli, investasi asing di pasar SBN kembali mencatat net inflow sebesar USD 0,1 miliar.

Masuknya dana asing turut menopang posisi cadangan devisa Indonesia yang hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar USD 145,6 miliar. Nilai tersebut setara pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Tanpa Membebani Dunia Usaha

Untuk menjaga momentum tersebut, BI memilih memperbesar insentif dibandingkan menaikkan suku bunga acuan. Insentif swap lindung nilai dinaikkan dari 10 persen menjadi 12,5 persen. Selain itu, BI untuk pertama kalinya memberikan insentif sebesar 15 persen bagi transaksi lindung nilai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

"Hari ini (kemarin) Bank Indonesia memiliki dua pilihan, menaikkan BI Rate atau meningkatkan insentif agar aliran portofolio asing semakin masuk. Kami memilih opsi kedua," ujar Perry.

Menurut dia, langkah tersebut lebih efektif karena tidak membebani dunia usaha melalui kenaikan biaya pinjaman.

Di sisi lain, BI juga memperluas insentif transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra, seperti Jepang, Tiongkok, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan maupun investasi.

"Pemanfaatan LCT akan memperdalam pasar valas domestik sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," katanya.

Otoritas moneter juga menyempurnakan kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Total insentif ditingkatkan menjadi maksimal 6 persen dari dana pihak ketiga (DPK), naik dari sebelumnya 5,5 persen.

Mulai 1 September 2026, BI juga akan meluncurkan KLM Pendalaman Pasar Uang untuk meningkatkan transaksi repo surat berharga sekaligus mengurangi segmentasi likuiditas di pasar antarbank. Kebijakan tersebut diharapkan mampu memperkuat pendalaman pasar keuangan domestik tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi. 


Pergerakan Aliran Modal Asing di Pasar Portofolio 2026

Periode Keterangan
19 Januari Net outflow USD 1,6 miliar
13 Februari Net inflow USD 1,6 miliar
16 Maret Net outflow USD 1,1 miliar
20 April Net inflow USD 1,9 miliar
18 Mei Net inflow USD 5,5 miliar
15 Juni Net inflow USD 3,9 miliar
20 Juli Net inflow USD 8,5 miliar

Sumber: Bank Indonesia

 
 
Editor : Hendra
Rupiah bank indonesia bi