JawaPos.com – Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Sebagai gantinya, bank sentral memperbesar berbagai insentif bagi investor asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Sepanjang kuartal II 2026, aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik mencapai USD 8,5 miliar.
"Keputusan BI Rate dan kebijakan lain merupakan bagian terintegrasi dari bauran kebijakan Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global, sekaligus menjaga inflasi tetap berada pada sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, kemarin (22/7).
Modal Asing Terus Mengalir
Menurut Perry, strategi memperbesar insentif terbukti mampu menarik arus investasi portofolio asing. Pada kuartal II 2026, net inflow mencapai USD 8,5 miliar, yang sebagian besar mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Arus modal tersebut masih berlanjut memasuki kuartal III 2026. Hingga 20 Juli, investasi asing di pasar SBN kembali mencatat net inflow sebesar USD 0,1 miliar.
Masuknya dana asing turut menopang posisi cadangan devisa Indonesia yang hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar USD 145,6 miliar. Nilai tersebut setara pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Tanpa Membebani Dunia Usaha
Untuk menjaga momentum tersebut, BI memilih memperbesar insentif dibandingkan menaikkan suku bunga acuan. Insentif swap lindung nilai dinaikkan dari 10 persen menjadi 12,5 persen. Selain itu, BI untuk pertama kalinya memberikan insentif sebesar 15 persen bagi transaksi lindung nilai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
"Hari ini (kemarin) Bank Indonesia memiliki dua pilihan, menaikkan BI Rate atau meningkatkan insentif agar aliran portofolio asing semakin masuk. Kami memilih opsi kedua," ujar Perry.
Menurut dia, langkah tersebut lebih efektif karena tidak membebani dunia usaha melalui kenaikan biaya pinjaman.
Di sisi lain, BI juga memperluas insentif transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra, seperti Jepang, Tiongkok, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan maupun investasi.
"Pemanfaatan LCT akan memperdalam pasar valas domestik sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," katanya.
Otoritas moneter juga menyempurnakan kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Total insentif ditingkatkan menjadi maksimal 6 persen dari dana pihak ketiga (DPK), naik dari sebelumnya 5,5 persen.
Mulai 1 September 2026, BI juga akan meluncurkan KLM Pendalaman Pasar Uang untuk meningkatkan transaksi repo surat berharga sekaligus mengurangi segmentasi likuiditas di pasar antarbank. Kebijakan tersebut diharapkan mampu memperkuat pendalaman pasar keuangan domestik tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi.
Pergerakan Aliran Modal Asing di Pasar Portofolio 2026
| Periode | Keterangan |
|---|---|
| 19 Januari | Net outflow USD 1,6 miliar |
| 13 Februari | Net inflow USD 1,6 miliar |
| 16 Maret | Net outflow USD 1,1 miliar |
| 20 April | Net inflow USD 1,9 miliar |
| 18 Mei | Net inflow USD 5,5 miliar |
| 15 Juni | Net inflow USD 3,9 miliar |
| 20 Juli | Net inflow USD 8,5 miliar |
Sumber: Bank Indonesia