Investasi Jakarta Tembus Rp 173,6 Triliun

Ryandi Zahdomo • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 07:51 WIB
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bersama Wakil Gubernur (Wagub) Rano Karno menghadiri Festival Imlek Jakarta 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), pada Jumat (13/2) malam. (Istimewa)
ILUSTRASI: Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bersama Wakil Gubernur (Wagub) Rano Karno menghadiri Festival Imlek Jakarta 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), pada Jumat (13/2) malam. (Istimewa)
JawaPos.com - Jakarta kembali memperkokoh posisinya sebagai lokasi investasi terbesar di Indonesia. Sepanjang Semester I Tahun 2026, Provinsi DKI Jakarta sukses mencatatkan realisasi investasi fantastis mencapai Rp173,6 triliun, atau menyumbang 17,2 persen dari total capaian investasi secara nasional.

Berdasarkan data resmi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI, dominasi aliran modal ke ibu kota didorong oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menyumbang Rp106,5 triliun. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) mencatatkan nilai sebesar Rp67,1 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DKI Jakarta Heru Hermawanto menuturkan, angka ini menjadi bukti nyata tingginya tingkat kepercayaan para pelaku usaha terhadap iklim bisnis di Jakarta.

Baca Juga: RSUD Ujungberung Bakal Jadi Kebanggaan Bandung, Pansus Minta Skema Multiyears Punya Dasar Hukum Kuat

"Kepercayaan investor yang terus meningkat merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif, didukung arah kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono yang menempatkan kemudahan investasi dan pelayanan publik sebagai prioritas pembangunan," ujar Heru di Jakarta, Kamis (6/8).

Jakarta Selatan Masih Jadi Magnet Utama

Dari seluruh wilayah di DKI Jakarta, Jakarta Selatan menjadi lokasi yang paling banyak diserbu oleh para investor. Nilai investasi di wilayah ini menembus angka Rp62,7 triliun.

Posisinya disusul oleh Jakarta Pusat yang membukukan nilai Rp49,9 triliun, Jakarta Utara sebesar Rp23,1 triliun, Jakarta Barat Rp20,6 triliun, dan Jakarta Timur sebesar Rp17,1 triliun. Adapun Kabupaten Kepulauan Seribu mencatatkan realisasi modal masuk sebesar Rp289 miliar.

Kematangan ekosistem bisnis, ketersediaan sumber daya manusia yang kompetitif, hingga infrastruktur fisik yang terintegrasi menjadi faktor kunci yang membuat Jakarta Selatan dan wilayah kota lainnya tetap superior.

3 Sektor Unggulan yang Paling Banyak Diserbu Modal

Aktivitas ekonomi perkotaan dan akselerasi transformasi Jakarta menuju kota global turut memengaruhi arah aliran modal. Terdapat tiga sektor utama yang menjadi penyumbang terbesar realisasi investasi pada paruh pertama tahun ini:

- Transportasi, Pergudangan, dan Telekomunikasi: Rp54,3 triliun (31%)

- Sektor Jasa Lainnya: Rp43,6 triliun (25%)

- Perdagangan dan Reparasi: Rp28,4 triliun (16%)

Selain tiga sektor utama tersebut, sektor Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran turut memberikan kontribusi sebesar Rp14 triliun (8%), disusul sektor Konstruksi senilai Rp12,9 triliun (8%), serta sektor-sektor lainnya sebesar Rp20,3 triliun (12%).

Untuk menjaga tren positif ini, Pemprov DKI terus memoles kemudahan perizinan melalui optimalisasi Mal Pelayanan Publik (MPP), layanan jemput bola, hingga pengembangan Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang matang secara teknis maupun finansial.

"Kami memastikan peluang investasi yang ditawarkan telah memiliki kesiapan dari sisi teknis, finansial, maupun pasar. Dengan demikian, investor memperoleh kepastian yang lebih baik dalam mengambil keputusan," jelas Heru.

Dampak Nyata: Serap Hampir 300 Ribu Tenaga Kerja

Aliran modal yang masuk ke Jakarta tidak sekadar menjadi angka statistik di atas kertas, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat.

Kepala Unit Pengelola Jakarta Investment Centre (UP JIC), Ezrin Kartika, mengungkapkan bahwa realisasi investasi selama Semester I 2026 tersebut berhasil menyerap lebih dari 289 ribu tenaga kerja. Rinciannya, sektor PMDN membuka ruang bagi 220 ribu pekerja, sedangkan PMA menyerap sekitar 78 ribu tenaga kerja.

"Keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari banyaknya proyek yang sudah atau berhasil dibangun, tetapi juga dari dampak ekonominya. Investasi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan aktivitas usaha, serta mendorong pertumbuhan ekonomi," tutur Ezrin.

 

Guna memastikan kenyamanan investor dari hulu ke hilir, UP JIC juga terus memperkuat pendampingan komprehensif mulai dari pemetaan minat, business matching, koordinasi lintas BUMD, hingga realisasi proyek secara nyata di lapangan.

Editor : Bintang Pradewo
investasi jakarta investasi