Kubu Pemilik 995 Senjata di Sekolah Bantah Tuduhan, Sebut Kasus Sarat Rekayasa

Zalzilatul Hikmia • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 11:27 WIB
Polisi menemukan 995 senjata, amunisi, narkoba, dan mesin pembuat peluru di bunker sekolah swasta Jakarta. Satu ruangan masih terkunci. Kubu pengurus lama membantah tudingan kepemilikan 995 senjata di sekolah dan menyebut kasus tersebut sarat rekayasa. Polisi masih menyelidiki. (Dok. Ist)
Polisi menemukan 995 senjata, amunisi, narkoba, dan mesin pembuat peluru di bunker sekolah swasta Jakarta. Satu ruangan masih terkunci. Kubu pengurus lama membantah tudingan kepemilikan 995 senjata di sekolah dan menyebut kasus tersebut sarat rekayasa. Polisi masih menyelidiki. (Dok. Ist)

JawaPos.com – Upaya mengungkap tabir di balik temuan ratusan senjata dan sejumlah barang terlarang di salah satu lembaga pendidikan di Jakarta Selatan terus berlangsung.

Hingga kemarin (7/8), tim Polres Metro Jakarta Selatan masih mendalami sederet misteri sekaligus dinamika di balik insiden tersebut. Termasuk dugaan keterkaitannya dengan konflik antarpengurus yayasan.

Meski demikian, kasus yang menghebohkan publik itu disebut tidak sampai mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Seluruh siswa tetap menjalani aktivitas seperti biasa.

”Sejauh ini anak-anak tetap belajar dan bermain seperti biasa. Tidak ada gangguan. Seluruh senjata yang ditemukan pun sudah diamankan kepolisian,” ujar kuasa hukum yayasan, Hermawanto, kemarin (7/8).

Dia menjelaskan, pengurus baru telah berkomunikasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), serta Pemprov DKI Jakarta. ”Langkah ini untuk memastikan keamanan lingkungan sekolah, sehingga kegiatan belajar siswa berjalan baik,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Hermawanto menyebut penemuan barang-barang terlarang tersebut berawal dari sengketa kepengurusan internal yayasan. Pengurus baru yang menjabat sejak 18 April 2026 memecat ketua pengurus lama yang telah memimpin selama 15 tahun karena diduga menyalahgunakan dana dan aset yayasan.

Setelah akses ke ruangan terbuka, pengurus baru mengaku baru mengetahui keberadaan barang-barang tersebut di ruangan yang selama ini tertutup. ”Tanpa adanya sengketa kepengurusan, kami tidak akan bisa masuk ke ruangan itu. Mungkin barang-barang itu masih tersembunyi hingga kini,” ungkapnya.

Menurut Hermawanto, berdasarkan keterangan para guru, di sekolah tersebut tidak pernah ada kegiatan ekstrakurikuler menembak maupun kegiatan sejenis. ”Kami juga melaporkan adanya bangunan berupa bunker. Namun sejauh ini belum ditindaklanjuti,” katanya.

Hermawanto mengatakan, pengurus baru yayasan menyayangkan lambatnya penanganan. Sebab, laporan dugaan penyalahgunaan senjata baru ditindaklanjuti lebih dari tiga minggu setelah dilaporkan pada 10 Juli 2026.

Klarifikasi Pengurus Yayasan Lama

Saat penemuan itu mencuat ke publik, kubu pengurus baru yayasan menuding bahwa senjata dan barang-barang terlarang tersebut dimiliki ketua yayasan lama berinisial IWD. Diketahui, dia adalah Indra Wargadalem.

Kemarin, kubu IWD membantah seluruh tudingan tersebut. Mereka menyebut kasus itu sarat rekayasa.

Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin Alhadid Endar Putra, sekaligus kuasa hukum Indra Wargadalem (IWD), menegaskan bahwa seluruh senjata tersebut legal. ”Itu adalah airsoft untuk olahraga. Dipakai untuk ekstrakurikuler menembak dan panahan di sekolah. Dan sudah ada sejak tahun 2021,” ujar Alhadid.

Dia juga mengklaim bahwa ratusan senjata tersebut sudah diketahui pembina yayasan saat itu, yakni Jenderal Suryo, yang juga ayah Niniek, pihak yang kini menguasai yayasan.

Namun, rencana itu tidak terlaksana karena Suryo meninggal dunia. Akhirnya, barang-barang tersebut disimpan dan sebagian sudah tidak layak pakai. ”Hanya tersisa sebagai cadangan suku cadang,” katanya.

Selain itu, Alhadid mengklaim seluruh airsoft tersebut dibeli pada 2008 menggunakan dana pribadi, bukan anggaran sekolah. ”Guna keperluan pelatihan atlet olahraga menembak untuk ajang PON, maupun ajang internasional lainnya,” katanya.

Tak hanya itu, dia juga mengklaim seluruh perizinan atas kepemilikan senjata airsoft tersebut telah diterbitkan Mabes Polri. ”Bukan hanya izin tingkat Polres maupun Polda,” katanya.

Alhadid mempertanyakan mengapa persoalan tersebut baru dibesar-besarkan saat ini. Dia menduga ada rekayasa di baliknya dan membeberkan sejumlah fakta yang menjadi dasar dugaan tersebut.

Salah satunya pada April 2026. Saat itu pengurus lama sudah tidak diperbolehkan masuk ke lingkungan sekolah. Ruangan-ruangan tempat penyimpanan barang-barang tersebut sepenuhnya telah dikuasai kelompok yang dipimpin Niniek, Bambang Prajuritno, dan Untung Sanggadi. ”Kalau seandainya mereka mau geledah, harusnya pada April mereka geledah, ya kan? Biar fair,” tandasnya.

Sementara itu, terkait tudingan bahwa IWD menggelapkan dana yayasan, Alhadid membantahnya. Dia mengklaim sebaliknya. Indra telah menyetor kontribusi lebih dari Rp 5 miliar kepada yayasan sejak 2010 dan hingga kini masih memiliki piutang kepada yayasan sekitar Rp 3 miliar. ”Tidak ada satu pun laporan keuangan yang menyebut adanya kerugian atau penggelapan dana oleh pihak Indra,” katanya.

Telusuri Keterkaitan Pengurus Lama

Sementara itu, Polres Metro Jakarta Selatan menyampaikan hasil pemeriksaan atas kasus tersebut kemarin (7/8).

Dari pemeriksaan awal, polisi mengamankan 995 unit senjata jenis airsoft gun, terdiri atas 776 unit revolver, 215 unit pistol, empat pucuk senapan angin, satu pucuk senjata api merek Francispa, serta empat laras senjata panjang.

”Senjata api beserta empat laras senjata panjang diamankan ke Unit Reskrim, sedangkan ratusan airsoft gun dititipkan di gudang senjata Polda Metro Jaya,” kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi Wibowo.

Dia menjelaskan, penemuan pertama terjadi pada Jumat (10/7) saat tim Unit Identifikasi melakukan olah TKP di gudang yayasan sekolah. Penemuan berikutnya terjadi pada Rabu (5/8).

Tak hanya senjata, pada kesempatan itu juga ditemukan barang bukti berupa dua linting diduga ganja dan satu paket diduga sabu. Barang bukti narkotika tersebut kini ditangani Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Selatan.

Hingga saat ini, penyidik Satreskrim masih mendalami berbagai hal, mulai kepemilikan, dokumen yang ikut ditemukan, hingga latar belakang penyimpanan ratusan senjata di sekolah.

”Selain barang-barang yang ditemukan di lokasi juga ada dokumen. Untuk isinya, sedang melakukan penyelidikan dan pendalaman,” jelasnya.

Dia juga memastikan senjata-senjata tersebut tidak berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Polisi menyinggung adanya kemungkinan keterkaitan temuan itu dengan pergantian kepengurusan yayasan.

Awalnya laporan dibuat berdasarkan peristiwa pada 10 Juli. Namun, pihak yayasan kembali membuat laporan dengan dasar laporan tertanggal 15 Juli. Hal itu diduga berkaitan dengan sengketa antara pengurus lama dan pengurus baru yayasan. ”Dugaannya memang seperti itu. Dan tentunya akan kami undang semua pihak,” katanya.

Joko juga menyebut saat ini masih ada ruangan yang dilaporkan berisi brankas hingga bunker bawah tanah yang diklaim belum sempat dibuka. Dia memastikan hal tersebut akan segera ditindaklanjuti.

Dia menegaskan, jajaran Polres Metro Jakarta Selatan akan menyelidiki seluruh aspek yang berkaitan dengan kasus tersebut. Mulai asal-usul barang, status kepemilikan, perizinan, hingga hal-hal lain yang berkaitan. ”Kami akan menyampaikan perkembangan selanjutnya kepada masyarakat,” katanya.

Respons Mendikdasmen

Sementara itu, ditemui terpisah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti meminta perkara tersebut ditanyakan langsung kepada pihak berwenang.

Dia menegaskan bahwa proses belajar mengajar di sekolah tersebut tetap berjalan dengan baik. Namun, apabila guru dan murid membutuhkan pendampingan lebih lanjut, pihaknya siap memberikan dukungan.

”Sehingga mereka tidak terpengaruh oleh isu-isu yang berkembang,” ujarnya ditemui usai acara Perludem di Jakarta, Jumat (7/8). (ygi/mia/ris)

Editor : Hendra
senjata jakarta selatan polres metro jakarta selatan