Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia, AQI Capai 167

Antara • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:46 WIB
Kualitas udara Jakarta masuk peringkat kedua terburuk di dunia pada Minggu pagi. AQI mencapai 167 dengan konsentrasi PM2.5 79 µg/m³. (Antara)
Kualitas udara Jakarta masuk peringkat kedua terburuk di dunia pada Minggu pagi. AQI mencapai 167 dengan konsentrasi PM2.5 79 µg/m³. (Antara)

JawaPos.com - Jakarta masuk dua besar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Minggu pagi. Data IQAir menunjukkan AQI mencapai 167, dengan PM2.5 menjadi polutan utama.

Kualitas udara Jakarta masuk peringkat kedua terburuk di dunia pada Minggu (16/8) pagi. Berdasarkan data IQAir yang dipantau pukul 06.01 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai 167 atau masuk kategori tidak sehat.

Pada waktu yang sama, konsentrasi PM2.5 tercatat 79 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut menempatkan Jakarta di bawah Dubai, Uni Emirat Arab, yang berada di peringkat pertama dengan AQI 173.

Posisi berikutnya ditempati Manama, Bahrain, dengan AQI 159. Kemudian Doha, Qatar, berada di angka 155 dan Lahore, Pakistan, mencatat AQI 146.

Warga Diimbau Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Kondisi udara dengan AQI 167 masuk kategori tidak sehat. Dalam kategori ini, paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

IQAir merekomendasikan masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kondisi tersebut. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker serta menutup jendela untuk mengurangi masuknya udara luar yang tercemar.

PM2.5 menjadi perhatian utama karena partikelnya berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Kondisi kualitas udara juga dapat berubah sepanjang hari. Karena itu, angka AQI 167 tersebut perlu dipahami sebagai kondisi pada saat pemantauan dilakukan, bukan gambaran tetap kualitas udara Jakarta sepanjang hari.

Pemprov DKI Siapkan Pengendalian Pencemaran

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya menyiapkan respons terhadap pencemaran udara selama musim kemarau. Langkah tersebut mencakup peningkatan kualitas sistem pemantauan kualitas udara dan pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor.

Pemprov DKI juga memiliki Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang terus dievaluasi. Evaluasi mencakup tren PM2.5, beban emisi berdasarkan sektor, hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan hanya oleh satu wilayah. Pemprov DKI menilai diperlukan aksi bersama yang terintegrasi antarorganisasi perangkat daerah serta kolaborasi lintas wilayah di sekitar Jakarta.

Data resmi platform Udara Jakarta juga menunjukkan kualitas PM2.5 dapat berada pada kategori berbeda di sejumlah titik pemantauan, sehingga kondisi udara tidak selalu seragam di seluruh wilayah ibu kota.

Kondisi pada Minggu pagi tersebut kembali menunjukkan tantangan Jakarta dalam menjaga kualitas udara, terutama ketika konsentrasi polutan meningkat dan kondisi atmosfer kurang mendukung penyebaran polusi.

Editor : Hendra
Sumber : Antara
jakarta Polusi Udara kualitas udara jakarta