JawaPos.com - Ratusan siswa diantar orangtuanya untuk mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari pertama di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bogor di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (20/8). Sekolah dengan konsep boarding school seluas 6,9 hektar itu dibangun pemerintah khusus untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu yang masuk kategori desil 1 dan desil 2.
Kepala Sekolah SRT 1 Bogor Iksan Cahyana mengatakan, sekolah ini ditargetkan bisa menampung seribu siswa pada 2027 dengan jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Rakyat Dasar (SRD), Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP), hingga Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA).
"Saat ini sudah ada siswa yang masuk dari Juli 2025 yang jumlahnya 100 orang. Nah, yang baru datang sekarang SRMA ada 120 siswa, SMRP 120 siswa, dan titipan dari Sukabumi 60 siswa karena mereka masih belum selesai membangun sekolah. Lalu ada SRD sebanyak 23 siswa," ujar Iksan.
Baca Juga: Cookie Tin Dessert Viral yang Sedang Ramai di TikTok
Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran seperti halnya sekolah pada umumnya. Para siswa dijaring secara langsung oleh petugas PKH (Program Keluarga Harapan) dari Kementerian Sosial (Kemensos) yang turun langsung ke lapangan mencari anak-anak yang butuh sekolah namun tidak mampu secara ekonomi.
"Keluarga atau anak yang berhak masuk Sekolah Rakyat sudah ada di data BPS (Badan Pusat Statistik), lalu dikonfirmasi oleh petugas PKH atau dinas sosial setempat. Jadi tidak asal-asalan dan tidak ada titip-titipan. Semua berdasarkan data desil 1 dan desil 2," tegasnya.
Selain itu, Iksan menegaskan tidak ada kriteria prestasi atau rangking untuk menerima siswa Sekolah Rakyat."Sejauh ini betul-betul khusus siswa yang membutuhkan sekolah tapi terkendala oleh ekonomi. Presiden ingin memberikan akses pendidikan yang layak dan berkualitas bagi mereka," ungkapnya.
Menurut Iksan, selain gratis keberadaan berbagai fasilitas di Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah menyediakan lingkungan belajar yang layak. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana membentuk siswa agar memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk masa depannya ketika mereka kembali ke masyarakat.
Baca Juga: KPK Bantah Gelar OTT di Kabupaten Bogor, Kadiskominfo Buka Suara: Belum Ada Informasi
Karena itu, menurut dia, sekolah memberikan ruang bagi siswa yang memiliki ketertarikan pada bidang kewirausahaan dan keterampilan. Pemetaan tersebut bahkan mulai diarahkan lebih spesifik ketika siswa memasuki kelas 11. Sekolah menyiapkan program keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi siswa, termasuk bidang seperti otomotif, pertanian, dan keterampilan lainnya.
Iksan menyebut sekolah juga memiliki program kerja sama dan sertifikasi kompetensi yang diakui secara nasional. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh siswa dapat menjadi modal ketika memasuki dunia usaha.“Kalau dunia usaha bisa lihat, ini ternyata sudah tersertifikasi, ada sertifikat yang legal,” jelasnya.
Sekolah juga memberikan ruang bagi beragam minat melalui kegiatan ekstrakurikuler. Mulai dari olahraga, kesenian, hingga bahasa asing menjadi bagian dari aktivitas siswa. Sementara bidang bahasa juga mendapat perhatian melalui kegiatan seperti klub bahasa Inggris dan bahasa Jepang.
Editor : Bintang Pradewo