JawaPos.com – Indonesia mendorong penguatan ketahanan energi sekaligus perluasan akses energi yang terjangkau dalam G20 Energy Abundance Ministerial Meeting yang berlangsung di Houston, Texas, Amerika Serikat, pada 14–16 September 2026.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyampaikan posisi Indonesia dalam pertemuan tersebut. Indonesia menilai ketahanan energi perlu berjalan beriringan dengan upaya memastikan energi tetap terjangkau dan mudah diakses masyarakat.
Sejumlah langkah yang ditempuh Indonesia antara lain meningkatkan produksi minyak hingga target 1 juta barel per hari serta menerapkan program B50 yang ditargetkan dapat mensubstitusi impor solar hingga 310 ribu barel per hari.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Aktivitas Kreatif Di Jakarta, Dari Racik Parfum Sendiri Hingga Bikin Terrarium Mini!
Di sektor ketenagalistrikan, Indonesia menargetkan tambahan kapasitas listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW) melalui RUPTL 2025–2034, dengan 76 persen di antaranya berasal dari energi terbarukan. Pemerintah juga mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 GWp.
Menurut Yuliot, transisi energi perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing negara. Indonesia mendukung hak setiap negara untuk menentukan jalur energinya berdasarkan kondisi nasional.
Baca Juga: Indonesia-Bulgaria Perkuat Kerja Sama Bilateral, Puan Soroti Jejak Persahabatan Bung Karno
“G20 harus mendorong pendekatan yang seimbang yang memajukan ketahanan energi, keterjangkauan, aksesibilitas, dan berorientasi masa depan,” ujar Yuliot dalam pertemuan tersebut.
Indonesia juga menekankan pentingnya penguatan investasi dan kerja sama energi yang disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing negara. Dengan pendekatan tersebut, transisi energi diharapkan tetap berjalan tanpa mengesampingkan aspek ketahanan dan akses terhadap energi.