Bahaya Microsleep saat Berkendara, Kenali 5 Cara Efektif untuk Mencegahnya

Rafi Akbar • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:07 WIB
Microsleep saat Berkendara (Istimewa)
Microsleep saat Berkendara (Istimewa)

JawaPos.com - Rasa kantuk saat beraktivitas sering kali dianggap hal biasa, terutama setelah menjalani kegiatan yang padat. Namun, kondisi ini tidak boleh disepelekan, terlebih ketika seseorang sedang berkendara. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah microsleep, yaitu tertidur dalam waktu singkat tanpa disadari.

Microsleep bisa terjadi ketika seseorang mengalami kurang tidur atau kelelahan. Kondisi ini membuat otak kehilangan kewaspadaan selama beberapa detik sehingga seseorang tidak sepenuhnya menyadari keadaan di sekitarnya. Jika terjadi saat mengemudi, pengendara bisa kehilangan fokus, terlambat merespons situasi di jalan, bahkan berisiko mengalami kecelakaan.

Karena itu, penting untuk mengenali bahaya microsleep sekaligus mengetahui cara mencegahnya. Berikut lima cara efektif yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko microsleep, terutama ketika sedang berkendara.

1. Memenuhi Kebutuhan Tidur Setiap Hari

Salah satu langkah utama untuk mencegah microsleep adalah memastikan tubuh mendapatkan waktu tidur yang cukup. Kurang tidur dapat meningkatkan rasa kantuk pada siang hari dan membuat seseorang kesulitan mempertahankan konsentrasi saat beraktivitas. Kurang tidur juga merupakan salah satu penyebab utama microsleep. Untuk mengurangi risikonya, orang dewasa dianjurkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam.

Selain durasi tidur, kualitas istirahat juga perlu diperhatikan. Usahakan memiliki jadwal tidur yang teratur dan menciptakan suasana kamar yang nyaman agar tubuh dapat beristirahat dengan baik. 

Sebelum melakukan perjalanan jauh, pastikan tubuh sudah mendapatkan istirahat yang cukup. Jangan memaksakan diri berkendara setelah begadang atau menjalani aktivitas yang menguras tenaga.

2. Beristirahat Secara Berkala saat Perjalanan Jauh

Perjalanan panjang dapat membuat pengemudi mengalami kelelahan, terutama ketika melewati jalur yang monoton dalam waktu lama. Jika rasa kantuk mulai muncul, memaksakan diri untuk terus berkendara justru dapat meningkatkan risiko microsleep.

Karena itu, luangkan waktu untuk berhenti di tempat istirahat yang aman. Jika tubuh terasa sangat mengantuk, tidur sejenak dapat membantu meningkatkan kewaspadaan untuk sementara waktu.

Namun, istirahat singkat bukan pengganti kebutuhan tidur yang cukup. Apabila rasa kantuk masih terasa setelah beristirahat, sebaiknya jangan melanjutkan perjalanan sendiri.

3. Mengenali Tanda-Tanda Microsleep

Microsleep terkadang terjadi tanpa disadari. Meski begitu, tubuh dapat menunjukkan sejumlah tanda ketika mulai mengalami kantuk berat yang perlu diwaspadai.

Beberapa tanda yang bisa muncul antara lain sering menguap, mata terasa berat, berkedip lebih lambat, sulit berkonsentrasi, hingga kepala terangguk tanpa disengaja. Saat berkendara, pengemudi juga mungkin mulai keluar dari jalur atau melewatkan rambu lalu lintas karena kehilangan fokus.

Jika tanda-tanda tersebut mulai muncul, segera cari tempat yang aman untuk berhenti. Jangan menunggu sampai mata benar-benar terpejam atau kendaraan mulai kehilangan arah sebelum memutuskan untuk beristirahat.

4. Menghindari Alkohol dan Obat yang Menyebabkan Kantuk

Selain kurang tidur, konsumsi alkohol dan penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat meningkatkan rasa kantuk. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kewaspadaan, terutama ketika seseorang melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Jika sedang mengkonsumsi obat yang berpotensi menyebabkan kantuk, perhatikan peringatan pada kemasan dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Hindari mengemudi jika efek obat membuat tubuh kurang waspada.

Begitu pula dengan alkohol, sebaiknya hindari konsumsinya sebelum berkendara. Keselamatan di jalan perlu menjadi prioritas, sehingga pengemudi harus memastikan kondisi tubuh benar-benar siap sebelum memulai perjalanan.

5. Tidak Memaksakan Diri saat Mengantuk

Ketika rasa kantuk sudah sulit ditahan, keputusan paling aman adalah menghentikan perjalanan sementara. Membuka jendela, menyalakan musik dengan volume keras, atau mengandalkan kopi bukanlah solusi yang dapat diandalkan untuk mengatasi kantuk berat.

Jika rasa kantuk mulai mengganggu konsentrasi, menepilah di lokasi yang aman dan beristirahat. Pengemudi juga dapat meminta bantuan orang lain yang cukup istirahat untuk menggantikan posisi mengemudi.

Apabila microsleep terjadi berulang kali meski waktu tidur sudah cukup, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga kesehatan. Pasalnya, rasa kantuk berlebihan juga dapat berkaitan dengan gangguan tidur atau kondisi kesehatan tertentu.

Microsleep merupakan kondisi yang tidak boleh dianggap sepele karena dapat mengganggu konsentrasi dan meningkatkan risiko kecelakaan apabila terjadi saat berkendara. Kurang tidur, kelelahan, serta konsumsi zat atau obat tertentu dapat menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Oleh karena itu, menjaga pola tidur, beristirahat selama perjalanan, dan mengenali tanda-tanda kantuk menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko microsleep. Jangan memaksakan diri untuk terus berkendara ketika tubuh membutuhkan istirahat. Sebab, keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya harus tetap menjadi prioritas.

Editor : Bintang Pradewo
microsleep bahaya microsleep