Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Anggawira mengatakan, permintaan batu bara di pasar ekspor masih akan tumbuh pada paruh kedua tahun ini. Hanya saja, lajunya diperkirakan lebih moderat dibandingkan beberapa tahun terakhir.
”Proyeksinya permintaan ekspor batu bara meningkat sekitar 2–4 persen dibandingkan semester I 2026,” kata Anggawira di Jakarta kemarin (9/8).
Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Agustus 2026 tercatat USD 124,44 per ton. Sementara itu, harga acuan global berada di level USD 128,2 per ton. Dengan kondisi tersebut, rata-rata harga acuan batu bara pada kuartal III 2026 diperkirakan berada di kisaran USD 120–USD 130 per ton. Namun, memasuki kuartal IV, harga berpotensi mulai mengalami normalisasi.
’’Peluang harga bertahan di atas USD 120 per ton masih ada, tetapi tidak sepanjang semester kedua. Skenario yang lebih realistis adalah harga akan berfluktuasi dan tetap berada pada kisaran di atas USD 100 per ton, kecuali terjadi guncangan geopolitik yang lebih besar atau gangguan pasokan global,’’ terangnya.
Ekonom sekaligus Manajer Riset Strategis Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyebutkan, permintaan batu bara hingga akhir tahun masih akan selektif.
Tiongkok dan India tetap menjadi pasar utama. Namun, keputusan impor kedua negara tersebut sangat bergantung pada kondisi stok, produksi domestik, dan kebutuhan listrik.
’’Permintaan dari Asia Tenggara berpotensi tetap tumbuh, namun secara keseluruhan saya belum melihat ruang bagi volume ekspor untuk meningkat signifikan kecuali ada relaksasi kuota produksi atau lonjakan permintaan musiman,’’ ungkap Yusuf.
Dari sisi harga, Yusuf memperkirakan batu bara masih berada dalam fase konsolidasi. Harga HBA awal Agustus dan indeks Newcastle memang masih berada di atas USD 120 per ton. Namun, level tersebut telah terkoreksi dari puncaknya.
’’Ini menunjukkan premi risiko geopolitik mulai mereda dan pasar kembali dipengaruhi faktor fundamental,’’ ujar Yusuf. (bry/dio)
Editor : HendraSumber : Jawa Pos Koran