JawaPos.com – Indonesia tak ingin BRICS hanya sebagai forum diplomasi ekonomi. Keanggotaan di kelompok negara-negara berkembang tersebut mulai diarahkan untuk menghasilkan kerja sama yang lebih konkret, mulai dari penguatan industri kecil dan menengah (IKM), startup, logistik, hingga industri panel surya.
Bahkan, dari forum BRICS di Jaipur, India, pemerintah sekaligus membuka jalan untuk memperluas akses pasar hingga Amerika Selatan melalui penjajakan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Mercosur.
’’Indonesia memandang BRICS sebagai wadah strategis untuk memperkuat kerja sama yang mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan industri,’’ ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza kemarin (9/8).
Menurut dia, kerja sama tersebut tidak boleh berhenti pada pertukaran kebijakan. Pemerintah ingin forum tersebut membuka peluang investasi, inovasi, perdagangan, hingga penciptaan lapangan kerja. Langkah itu dinilai penting karena industri manufaktur masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.
Pada kuartal I 2026, sektor manufaktur menyumbang lebih dari 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta berkontribusi lebih dari 82 persen terhadap ekspor nasional.
’’Posisi tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk memperluas keterlibatan industri nasional dalam rantai nilai global melalui kerja sama BRICS,’’ jelas Faisol.
Dalam The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers di Jaipur, Kamis (6/8), Indonesia membahas empat bidang prioritas melalui BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR). Yakni, pengembangan IKM, startup, logistik industri, dan industri panel surya.
Di sektor IKM, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong perluasan akses pembiayaan, adopsi teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta akses pasar internasional.
”Potensinya cukup besar. Kemenperin mencatat IKM mencapai hampir 99,8 persen dari total unit usaha industri di Indonesia. Sektor tersebut juga menyerap sekitar 65 persen tenaga kerja industri dan menyumbang lebih dari 21 persen nilai tambah manufaktur nonmigas,” paparnya.
Ekosistem startup juga menjadi ladang kerja sama berikutnya. Melalui program Startup4Industry, Kemenperin telah menghubungkan lebih dari 2.500 startup dengan pelaku industri, investor, perguruan tinggi, serta pemangku kepentingan lainnya.
’’Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam pengembangan BRICS Incubator Network dan BRICS Startup Knowledge Hub sebagai sarana kolaborasi inovasi, investasi, dan pengembangan teknologi di antara negara anggota,’’ kata Faisol.
Sementara itu, di sektor panel surya, Indonesia mendorong pengembangan kapasitas manufaktur photovoltaic (PV). Penguatan industri tersebut diharapkan tidak hanya mendukung transisi menuju industri rendah karbon, tetapi juga memperkuat rantai pasok energi bersih.
Untuk logistik industri, RI memperkenalkan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Sistem tersebut dinilai dapat menjadi instrumen untuk mengintegrasikan data industri sehingga mendukung perencanaan, efisiensi logistik, serta memperkuat ketahanan rantai pasok manufaktur.
BIDIK PASAR AMERIKA LATIN
Dari sisi perdagangan, keanggotaan dalam forum BRICS juga dimanfaatkan Indonesia untuk membuka pintu pasar baru. Menteri Perdagangan Budi Santoso menawarkan pembentukan PTA antara Indonesia dan Mercosur, blok perdagangan yang menjadi pintu penting menuju pasar Amerika Selatan.
Usulan tersebut disampaikan Budi saat bertemu Menteri Pembangunan, Industri, Perdagangan, dan Jasa Brasil Marcio Fernando Elias Rosa di Jaipur, Jumat (7/8). Pertemuan berlangsung di sela BRICS Trade Ministers’ Meeting (TMM) 2026 pada 6–7 Agustus.
’’Indonesia terbuka dengan opsi PTA sebagai langkah awal untuk memperkuat kerja sama perdagangan dengan Mercosur. Kami berharap kerja sama PTA dapat berkembang menjadi kemitraan ekonomi yang lebih komprehensif,’’ ujar Budi.
Potensi pasarnya cukup besar. Nilai perdagangan Indonesia dan Brasil sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai USD 3,53 miliar. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia ke Brasil tercatat USD 1,17 miliar. Sementara itu, sepanjang 2025, nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 7 miliar. Ekspor Indonesia ke Brasil mencapai USD 2,21 miliar. (bry/dio)
PAPARKAN EMPAT BIDANG DI BRICS PARTNERSHIP ON NEW INDUSTRIAL REVOLUTION
Sektor IKM
Jumlah IKM mencapai hampir 99,8 persen dari total industri. Sektor tersebut juga menyerap sekitar 65 persen tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 21 persen nilai tambah manufaktur nonmigas.
Startup
Program Startup4Industry telah menghubungkan lebih dari 2.500 startup dengan pelaku industri, investor, perguruan tinggi, serta pemangku kepentingan lainnya.
Panel Surya
Indonesia mendorong pengembangan kapasitas manufaktur photovoltaic (PV). Penguatan industri tersebut diharapkan tidak hanya mendukung transisi menuju industri rendah karbon, tetapi juga memperkuat rantai pasok energi bersih.
Logistik
RI memperkenalkan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) yang dinilai dapat menjadi instrumen untuk mengintegrasikan data sehingga mendukung perencanaan, efisiensi logistik, serta memperkuat ketahanan rantai pasok manufaktur.
Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran, Kemenperin