Emas Jadi Mesin Pertumbuhan Baru BSI dan Pegadaian

Muhtamimah • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:24 WIB
Ilustrasi: Emas. BSI dan Pegadaian menjadikan bisnis emas sebagai mesin pertumbuhan baru. Kelolaan emas keduanya terus meningkat melalui beragam layanan. (Dok/Jawa Pos)
Ilustrasi: Emas. BSI dan Pegadaian menjadikan bisnis emas sebagai mesin pertumbuhan baru. Kelolaan emas keduanya terus meningkat melalui beragam layanan. (Dok/Jawa Pos)

JawaPos.com – Emas tak lagi sekadar menjadi layanan pelengkap bagi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dan PT Pegadaian (Persero). Dua perusahaan tersebut mulai menjadikan komoditas emas sebagai mesin pertumbuhan baru, tidak hanya melalui pembiayaan dan perdagangan emas.

BSI kini menyiapkan skema simpanan emas hingga produk berbasis exchange-traded fund (ETF). Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pengembangan bisnis simpanan emas masih berada pada tahap persiapan.

”Kalau simpanan emas itu mesti punya hub-nya dulu. Ini kita lagi bangun hub-nya, supaya kalau ada masyarakat yang simpan emas, kita bisa menyalurkan kepada toko-toko emas yang butuh,” kata Anggoro di Jakarta kemarin (25/8).

Menurut dia, pembangunan ekosistem menjadi penting karena skema tersebut merupakan model bisnis baru bagi perseroan. Dalam skema simpanan emas yang disiapkan, logam mulia fisik menjadi underlying asset transaksi sehingga mekanismenya berbasis emas dengan emas (gold-to-gold).

BSI juga tertarik mengembangkan produk berbasis ETF emas. Namun, realisasi produk tersebut masih menunggu kesiapan regulasi dan internal perbankan.

”Kita masih menyiapkan. Regulasinya kalau di perbankan kan menyiapkannya tidak secepat fintech,” tutur Anggoro.

Hingga Juni 2025, BSI mencatat aset kelolaan emas mencapai 24 ton.

Sementara itu, PT Pegadaian (Persero) mencatat geliat bisnis emas juga semakin kuat. Total kelolaan emas perseroan telah melampaui 153 ton.

Angka tersebut berasal dari berbagai layanan, mulai Pinjaman Modal Kerja (PMK) Emas, perdagangan emas, deposito emas, hingga jasa titipan emas korporasi.

”Pencapaian tersebut telah melampaui target perseroan selama setahun. Tingginya minat masyarakat menjadi salah satu pendorong utama,” kata Direktur Jaringan dan Operasi Pegadaian Eka Pebriansyah.

Lonjakan transaksi terutama terjadi pada Januari hingga Mei 2026. Saat itu, harga emas sempat menembus level Rp 3 juta lebih sehingga mendorong masyarakat meningkatkan transaksi pembelian, tabungan, maupun cicilan emas.

”Memang terjadi lompatan pada awal tahun ini,” tuturnya.

Namun, tren pembelian emas belakangan mulai melandai. Fluktuasi harga membuat sebagian masyarakat memilih menunggu dan mencermati perkembangan pasar. Kondisi geopolitik global turut memengaruhi pergerakan harga emas.

”Ketika kondisi seperti saat ini, masyarakat relatif wait and see,” ungkapnya. (mim/dio)

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran
bsi bank syariah indonesia Bisnis Emas Investasi Emas pegadaian