JawaPos.com - Ketegangan di Selat Hormuz kembali menyoroti pentingnya jalur perdagangan maritim, termasuk Selat Malaka. Pada akhir April, mantan Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan agar kapal yang melintasi Selat Malaka dapat dikenakan pungutan, dengan pendapatan yang dibagi antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Usulan tersebut mendapat respons berbeda. Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menolaknya dengan alasan kebebasan navigasi, sementara Malaysia mengatakan keputusan semacam itu harus disepakati bersama. Meski demikian, wacana tersebut menunjukkan betapa strategisnya Selat Malaka bagi perdagangan global.
Selat Malaka membentang hampir 900 kilometer dan menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan. Lebih dari 100.000 kapal melewatinya setiap tahun, membawa sekitar 25–30 persen kargo global senilai US$3,5 triliun. Sekitar 35 persen minyak yang diangkut melalui laut dan 20 persen perdagangan LNG dunia juga melewati jalur ini. Bagi Cina, Jepang, dan Korea Selatan, sekitar 75–80 persen perdagangan mereka bergantung pada Selat Malaka.
Baca Juga: Me Time Itu Penting, Ini 5 Tanda Kamu Butuh Waktu Sendiri
Ketergantungan tersebut membuat selat ini sekaligus menjadi titik rawan. Jalurnya yang sempit dan padat rentan terhadap kecelakaan, cuaca buruk, kemacetan, dan pembajakan. Jalur alternatif seperti Selat Sunda, Lombok, dan Makassar tersedia, tetapi lebih panjang dan mahal.
Bagi Cina, ketergantungan ini dikenal sebagai “Malacca Dilemma”. Pada 2003, Hu Jintao memperingatkan bahwa sebagian besar impor minyak Cina bergantung pada Selat Malaka dan dapat terancam jika terjadi blokade dalam konflik, termasuk terkait Taiwan atau Laut Cina Selatan. Cina kemudian membangun jalur perdagangan alternatif dan memperkuat kemampuan militernya untuk mengurangi kerentanan tersebut.
Pengalaman di Selat Hormuz menunjukkan bahwa chokepoint maritim dapat menjadi bukan hanya jalur perdagangan, tetapi juga aset ekonomi dan alat geopolitik. Thailand bahkan tengah mendorong pembangunan land bridge untuk menyediakan alternatif terhadap Selat Malaka.
Dengan meningkatnya persaingan geopolitik, Selat Malaka berpotensi menjadi semakin penting sekaligus semakin rentan. Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang menggunakan jalur ini, tetapi apakah posisi strategisnya suatu saat dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan ekonomi atau menjadi alat tekanan geopolitik.
Editor : Bintang Pradewo