Sabtu, 18 Juli 2026
Logo

Sejarah Nastar, Kue Lebaran yang Selalu Hadir di Meja Tamu

Senin, 16 Mar 2026 | 19:30 WIB
Resep Kue Nastar Gurih dan Lembut, Cocok untuk Lebaran./Tangkap Layar Youtube Devina Hermawan.
Resep Kue Nastar Gurih dan Lembut, Cocok untuk Lebaran./Tangkap Layar Youtube Devina Hermawan.

JawaPos.com - Hari Raya Idulfitri di Indonesia tidak hanya identik dengan tradisi silaturahmi dan saling memaafkan. Momen ini juga selalu diwarnai dengan berbagai hidangan khas yang disajikan untuk keluarga dan tamu yang datang berkunjung. Salah satu kue kering yang hampir selalu hadir di meja ruang tamu saat Lebaran adalah nastar.

Nastar dikenal sebagai kue kering berbentuk bulat kecil dengan isian selai nanas. Teksturnya lembut dengan rasa manis yang berpadu dengan sedikit rasa asam dari nanas. Kombinasi rasa tersebut membuat nastar menjadi salah satu kue kering yang digemari berbagai kalangan.

Secara historis, nastar memiliki akar dari pengaruh kuliner Eropa yang masuk ke Nusantara pada masa kolonial. Tradisi membuat pastry dan kue kering diperkenalkan oleh masyarakat Belanda yang tinggal di wilayah Hindia Belanda. Dari situ, berbagai jenis kue bergaya Eropa mulai dikenal oleh masyarakat lokal.

Nama nastar sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu kata “ananas” yang berarti nanas dan “taart” yang berarti kue atau tart. Istilah ananastaart kemudian berkembang menjadi nastar yang lebih sederhana dan mudah diucapkan. Kue ini pada awalnya merupakan adaptasi dari kue tart Eropa yang menggunakan buah sebagai isiannya.

Di Eropa, buah yang biasa digunakan untuk tart adalah apel atau beri. Namun bahan tersebut tidak mudah ditemukan di wilayah tropis seperti Indonesia pada masa itu. Karena itu masyarakat lokal menggantinya dengan nanas yang lebih melimpah dan mudah didapat.

Selai nanas kemudian menjadi ciri khas utama nastar hingga saat ini. Buah nanas dimasak bersama gula hingga mengental sebelum dibungkus dengan adonan kue berbahan dasar tepung, mentega, dan telur. Proses ini menghasilkan kue kecil dengan tekstur lembut yang cocok disajikan sebagai hidangan ringan.

Dalam perkembangannya, nastar tidak hanya menjadi bagian dari tradisi kuliner kolonial, tetapi juga beradaptasi dengan budaya lokal. Kue ini semakin populer dan mulai diproduksi secara luas oleh masyarakat Indonesia. Kehadirannya kemudian identik dengan perayaan hari besar, terutama Idulfitri.

Di kota besar seperti Jakarta, nastar bahkan menjadi bagian dari tradisi Lebaran masyarakat urban. Menjelang Idulfitri, berbagai toko kue, bakery, hingga pelaku usaha rumahan ramai memproduksi nastar untuk memenuhi permintaan warga. Banyak masyarakat ibu kota juga memilih membeli nastar sebagai hampers atau oleh-oleh untuk keluarga dan kolega.

Selain disajikan di rumah, nastar juga sering ditemukan di berbagai pusat perbelanjaan dan bazar Ramadan di Jakarta. Banyak tenant kue kering menawarkan berbagai varian nastar dengan tampilan modern dan kemasan menarik. Hal ini menunjukkan bagaimana kue tradisional tersebut tetap relevan di tengah gaya hidup masyarakat metropolitan.

 

Editor : Bintang Pradewo
Bagikan:
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp dan dan podcast kami?
Jawa Pos Metropolitan
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Kami Haus GOL Kamu
Dari ruang redaksi ke telinga kamu, inilah Jawa Pos Podcast! Obrolan santai tapi bermakna soal isu terkini, olahraga, hiburan dan kehidupan sehari-hari. Karena setiap cerita layak untuk dibicarakan!

Berita Terkini

Populer

LogoGraha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Telepon / Fax:
021-53699659 / 021-5349207
Dapatkan Informasi Lebih BanyakIkuti Saluran Whatsapp
Epaper
Akses EpaperBerlangganan Koran Digitalhttps://digital.jawapos.com/newspaper/51313
Download Google PlayDownload App Store
© 2026 PT. Jawa Pos Grup Multimedia