Sabtu, 25 Juli 2026
Logo

Anti FOMO di Ibu Kota: Tips Menahan Godaan Gaya Hidup Konsumtif di Jakarta

Rabu, 1 Apr 2026 | 07:42 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami tekanan akibat FOMO (Binus University)
Ilustrasi seseorang yang mengalami tekanan akibat FOMO (Binus University)

JawaPos.com – Gaya hidup di Jakarta hampir selalu berkaitan dengan tren, nongkrong, dan branding di media sosial. Banyak warga Jakarta, baik yang sedang merantau atau yang memang tinggal, merasa harus selalu “ikut arus” agar tidak tertinggal. Dari sinilah fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mulai muncul dan mempengaruhi cara orang mengambil keputusan yang berkaitan dengan tren gaya hidup.

Mengutip dari Psychology Today, FOMO sendiri adalah rasa takut tertinggal dari pengalaman sosial yang dianggap menarik atau penting. Orang mengalami FOMO seringkali merasa kurang puas sebelum mencoba pengalaman tersebut. Akibatnya, banyak yang terdorong untuk ikut membeli, datang, atau mencoba sesuatu agar merasa tidak tertinggal.

Di Jakarta, tekanan ini bisa terasa lebih kuat karena ritme kehidupan yang cepat serta standar gaya hidup yang tinggi. Ritme yang cepat juga memacu perubahan tren dengan cepat, belum lagi pengaruh dari media sosial yang membuat hal baru menjadi tren yang diikuti banyak orang. Mulai dari cafe hits, tempat instagramable, hingga gadget baru, apabila tidak dikontrol dari diri sendiri, ini bisa mengganggu kondisi finansial hingga kesehatan mental.

Berikut beberapa tips yang bisa diikuti untuk membatasi diri dari tindakan impulsif FOMO.

  1. Tentukan Tujuan Keuangan Dengan Jelas Sejak Awal

Tanpa memiliki tujuan keuangan yang jelas, seseorang bisa dengan mudah mengeluarkan uang untuk hal-hal impulsif. Memiliki target dalam keuangan juga bisa membantu memilah mana pengeluaran yang penting dan mana kurang perlu. Target keuangan bisa mulai dari memprioritaskan tabungan, investasi, atau untuk dana darurat.

  1. Budgeting dan Disiplin Menjalankannya

Mengatur anggaran bulanan adalah salah satu cara paling efektif untuk menghindari gaya hidup konsumtif. Budgeting bisa dilakukan dengan membagi alokasi dana ke dalam beberapa pos, seperti kebutuhan, tabungan, juga hiburan. Melalui cara ini, seseorang bisa tetap menikmati hidup tanpa “kebobolan” dalam finansial.

Membuat perencanaan budget juga bisa berfungsi sebagai “rem” ketika muncul keinginan impulsif. Meskipun cukup sulit di awal, cara ini bisa memberikan perlindungan untuk kondisi finansial jangka panjang. Kuncinya adalah disiplin dan konsisten dalam mengikuti rancangan budget tersebut.

  1. Batasi Konsumsi Media Sosial

Mengutip dari laman Forbes, dengan mengaktifkan fitur “ad blockers” dan “restrict engagement” dengan marketing influencer bisa mengurangi trigger untuk belanja impulsif. Hal ini karena konten influencer umumnya hanya menampilkan gaya hidup yang terlihat sempurna, seperti nongkrong di tempat viral atau belanja barang mahal. Terlalu banyak paparan konten seperti ini akan menimbulkan rasa tidak puas dan tertinggal pada diri seseorang.

Membatasi waktu penggunaan media sosial dapat mengurangi tekanan tersebut. Selain itu, unfollow akun-akun dengan konten serupa juga bisa membantu mengurangi dorongan untuk melakukan tindakan impulsif. Dengan cara tersebut, seseorang bisa lebih fokus pada realita di kehidupannya sendiri.

  1. Latih Mindful Spending 

Sebelum membeli sesuatu, biasakan untuk berpikir: apakah ini benar kebutuhan atau hanya keinginan sesaat. Mindful spending bisa membantu seseorang untuk lebih sadar akan setiap pengeluaran dan alasan dibaliknya. Melatih praktik ini juga bisa membuat orang lebih menghargai uang yang dimilikinya.\

Editor : Bintang Pradewo
Bagikan:
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp dan dan podcast kami?
Jawa Pos Metropolitan
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Kami Haus GOL Kamu
Dari ruang redaksi ke telinga kamu, inilah Jawa Pos Podcast! Obrolan santai tapi bermakna soal isu terkini, olahraga, hiburan dan kehidupan sehari-hari. Karena setiap cerita layak untuk dibicarakan!

Artikel Terkait

Pramono Janji Jadikan Jakarta Kota Ramah Anak di Hari Anak Nasional

Pramono Janji Jadikan Jakarta Kota Ramah Anak di Hari Anak Nasional

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berjanji mewujudkan Jakarta sebagai kota ramah anak dengan terus memperkuat perlindungan serta meningkatkan kesejahteraan mereka.

Fauzi Bowo: Ali Sadikin Letakkan Fondasi Kebudayaan Jakarta hingga Jadi Kota Metropolitan

Fauzi Bowo: Ali Sadikin Letakkan Fondasi Kebudayaan Jakarta hingga Jadi Kota Metropolitan

Fauzi Bowo menilai Ali Sadikin meletakkan fondasi pembangunan kebudayaan Jakarta melalui TIM, Dewan Kesenian Jakarta, dan Lembaga Kebudayaan Betawi.

Jakarta Kembali Jadi Daerah Tujuan Investasi Terbesar, Semester I 2026 Tembus Rp 173,6 Triliun

Jakarta Kembali Jadi Daerah Tujuan Investasi Terbesar, Semester I 2026 Tembus Rp 173,6 Triliun

Jakarta kembali menjadi daerah dengan investasi terbesar di Indonesia. Realisasi investasi Semester I 2026 mencapai Rp173,6 triliun dan tertinggi secara nasional.

Berita Terkini

Populer

LogoGraha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Telepon / Fax:
021-53699659 / 021-5349207
Dapatkan Informasi Lebih BanyakIkuti Saluran Whatsapp
Epaper
Akses EpaperBerlangganan Koran Digitalhttps://digital.jawapos.com/newspaper/51313
Download Google PlayDownload App Store
© 2026 PT. Jawa Pos Grup Multimedia