Anti FOMO di Ibu Kota: Tips Menahan Godaan Gaya Hidup Konsumtif di Jakarta

JawaPos.com – Gaya hidup di Jakarta hampir selalu berkaitan dengan tren, nongkrong, dan branding di media sosial. Banyak warga Jakarta, baik yang sedang merantau atau yang memang tinggal, merasa harus selalu “ikut arus” agar tidak tertinggal. Dari sinilah fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mulai muncul dan mempengaruhi cara orang mengambil keputusan yang berkaitan dengan tren gaya hidup.
Mengutip dari Psychology Today, FOMO sendiri adalah rasa takut tertinggal dari pengalaman sosial yang dianggap menarik atau penting. Orang mengalami FOMO seringkali merasa kurang puas sebelum mencoba pengalaman tersebut. Akibatnya, banyak yang terdorong untuk ikut membeli, datang, atau mencoba sesuatu agar merasa tidak tertinggal.
Di Jakarta, tekanan ini bisa terasa lebih kuat karena ritme kehidupan yang cepat serta standar gaya hidup yang tinggi. Ritme yang cepat juga memacu perubahan tren dengan cepat, belum lagi pengaruh dari media sosial yang membuat hal baru menjadi tren yang diikuti banyak orang. Mulai dari cafe hits, tempat instagramable, hingga gadget baru, apabila tidak dikontrol dari diri sendiri, ini bisa mengganggu kondisi finansial hingga kesehatan mental.
Berikut beberapa tips yang bisa diikuti untuk membatasi diri dari tindakan impulsif FOMO.
Tentukan Tujuan Keuangan Dengan Jelas Sejak Awal
Tanpa memiliki tujuan keuangan yang jelas, seseorang bisa dengan mudah mengeluarkan uang untuk hal-hal impulsif. Memiliki target dalam keuangan juga bisa membantu memilah mana pengeluaran yang penting dan mana kurang perlu. Target keuangan bisa mulai dari memprioritaskan tabungan, investasi, atau untuk dana darurat.
Budgeting dan Disiplin Menjalankannya
Mengatur anggaran bulanan adalah salah satu cara paling efektif untuk menghindari gaya hidup konsumtif. Budgeting bisa dilakukan dengan membagi alokasi dana ke dalam beberapa pos, seperti kebutuhan, tabungan, juga hiburan. Melalui cara ini, seseorang bisa tetap menikmati hidup tanpa “kebobolan” dalam finansial.
Membuat perencanaan budget juga bisa berfungsi sebagai “rem” ketika muncul keinginan impulsif. Meskipun cukup sulit di awal, cara ini bisa memberikan perlindungan untuk kondisi finansial jangka panjang. Kuncinya adalah disiplin dan konsisten dalam mengikuti rancangan budget tersebut.
Batasi Konsumsi Media Sosial
Mengutip dari laman Forbes, dengan mengaktifkan fitur “ad blockers” dan “restrict engagement” dengan marketing influencer bisa mengurangi trigger untuk belanja impulsif. Hal ini karena konten influencer umumnya hanya menampilkan gaya hidup yang terlihat sempurna, seperti nongkrong di tempat viral atau belanja barang mahal. Terlalu banyak paparan konten seperti ini akan menimbulkan rasa tidak puas dan tertinggal pada diri seseorang.
Membatasi waktu penggunaan media sosial dapat mengurangi tekanan tersebut. Selain itu, unfollow akun-akun dengan konten serupa juga bisa membantu mengurangi dorongan untuk melakukan tindakan impulsif. Dengan cara tersebut, seseorang bisa lebih fokus pada realita di kehidupannya sendiri.
Latih Mindful Spending
Sebelum membeli sesuatu, biasakan untuk berpikir: apakah ini benar kebutuhan atau hanya keinginan sesaat. Mindful spending bisa membantu seseorang untuk lebih sadar akan setiap pengeluaran dan alasan dibaliknya. Melatih praktik ini juga bisa membuat orang lebih menghargai uang yang dimilikinya.\







