Senin, 20 Juli 2026
Logo

Urban Farming, Inovasi Hijau untuk Hidup Sehat di Perkotaan

Kamis, 23 Apr 2026 | 13:53 WIB
ILUSTRASI Lokasi urban farming untuk warga eks Kampung Bayam yang akan menghuni Kampung Susun Bayam. (Istimewa)
ILUSTRASI Lokasi urban farming untuk warga eks Kampung Bayam yang akan menghuni Kampung Susun Bayam. (Istimewa)

JawaPos.com - Di tengah padatnya kota yang identik dengan beton, polusi, dan gaya hidup serba cepat, muncul satu tren yang diam-diam mulai mengubah cara orang hidup: urban farming. Bukan cuma soal menanam tanaman di pot, tapi ini tentang bagaimana ruang sempit seperti balkon, rooftop, bahkan sudut rumah bisa disulap jadi “mini garden” yang produktif. Dari yang awalnya sekadar hobi, sekarang urban farming berkembang jadi gaya hidup yang relevan banget buat anak kota.

Secara sederhana, urban farming adalah praktik menanam, mengolah, dan mendistribusikan pangan di wilayah perkotaan. Aktivitas ini bisa dilakukan di berbagai tempat, mulai dari halaman rumah, atap gedung, hingga sistem modern seperti hidroponik dan vertical farming. Tidak heran kalau sekarang makin banyak orang yang mulai tertarik, karena konsep ini fleksibel dan bisa menyesuaikan dengan keterbatasan ruang di kota.

Kalau dulu bertani identik dengan sawah luas di desa, sekarang narasinya berubah. Urban farming hadir sebagai bentuk adaptasi terhadap tantangan modern seperti perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat. Bahkan, praktik ini juga dianggap sebagai bagian dari solusi menuju kota yang lebih berkelanjutan karena memproduksi makanan lebih dekat ke konsumen.

Menariknya, urban farming punya banyak bentuk. Ada yang berbasis komunitas seperti kebun bersama, ada juga yang lebih personal seperti tanaman di rumah. Bahkan, beberapa sudah berkembang ke arah komersial dengan teknologi canggih yang memungkinkan produksi dalam skala lebih besar di ruang terbatas. Jadi, ini bukan sekadar tren sesaat, tapi ekosistem baru dalam dunia pertanian.

Dari sisi manfaat, urban farming jelas punya banyak nilai plus. Salah satunya adalah meningkatkan akses terhadap makanan segar dan sehat. Dengan menanam sendiri, kita bisa lebih yakin soal kualitas makanan yang dikonsumsi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada distribusi panjang yang seringkali berdampak pada lingkungan.

Selain itu, urban farming juga punya dampak positif bagi lingkungan. Dengan memanfaatkan ruang kota, praktik ini membantu mengurangi jejak karbon karena distribusi makanan jadi lebih dekat. Bahkan, beberapa metode seperti kompos dan pemanfaatan air hujan juga mendukung keberlanjutan lingkungan secara keseluruhan.

Tidak cuma itu, dari sisi sosial, urban farming juga bisa jadi medium interaksi. Banyak komunitas yang terbentuk dari kegiatan berkebun bersama, yang akhirnya memperkuat hubungan antarwarga. Aktivitas ini juga sering jadi sarana edukasi, terutama buat generasi muda yang mungkin sudah jauh dari dunia pertanian.

Kalau dilihat dari gaya hidup, urban farming juga punya sisi “healing”. Di tengah tekanan hidup kota, kegiatan menanam dan merawat tanaman bisa jadi cara sederhana untuk melepas stres. Tidak heran kalau banyak orang mulai melihat ini bukan cuma sebagai aktivitas produktif, tapi juga self care.

Tapi ya, di balik semua kelebihannya, urban farming juga punya tantangan yang nggak bisa diabaikan. Salah satu yang paling utama adalah keterbatasan lahan. Tidak semua orang punya akses ke ruang yang cukup untuk bercocok tanam, sehingga perlu kreativitas ekstra untuk memanfaatkan ruang yang ada.

Selain itu, kualitas tanah di perkotaan juga sering jadi masalah. Beberapa area memiliki tanah yang terkontaminasi, sehingga perlu perlakuan khusus agar tetap aman untuk menanam pangan. Belum lagi soal biaya dan akses lahan yang cenderung mahal di kota besar.

Editor : Bintang Pradewo
Bagikan:
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp dan dan podcast kami?
Jawa Pos Metropolitan
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Kami Haus GOL Kamu
Dari ruang redaksi ke telinga kamu, inilah Jawa Pos Podcast! Obrolan santai tapi bermakna soal isu terkini, olahraga, hiburan dan kehidupan sehari-hari. Karena setiap cerita layak untuk dibicarakan!

Berita Terkini

Populer

LogoGraha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Telepon / Fax:
021-53699659 / 021-5349207
Dapatkan Informasi Lebih BanyakIkuti Saluran Whatsapp
Epaper
Akses EpaperBerlangganan Koran Digitalhttps://digital.jawapos.com/newspaper/51313
Download Google PlayDownload App Store
© 2026 PT. Jawa Pos Grup Multimedia