Pace Besar Bukan Masalah, Komunitas Lari Ini Justru Bikin Pemula Makin Pede

Buat yang sudah lama terjun ke dunia running, istilah itu mungkin biasa saja. Tapi untuk orang yang baru mau mulai olahraga lari, angka-angka tersebut kadang malah bikin minder duluan.“Aduh pace aku masih gede.” “Takut paling belakang kalau ikut komunitas.” “Nanti malah bikin malu.”
Dalam dunia lari, pace adalah waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menempuh jarak tertentu, biasanya per kilometer. Jadi kalau seseorang punya pace 6, artinya ia membutuhkan waktu sekitar 6 menit untuk menyelesaikan 1 kilometer. Semakin kecil angka pace, biasanya semakin cepat ritme larinya.
Karena tren lari sekarang semakin ramai, pace akhirnya sering dianggap sebagai tolak ukur kemampuan seseorang. Tidak sedikit orang yang merasa harus punya pace kecil dulu baru pantas ikut komunitas atau upload hasil lari di media sosial.
Padahal, pace tiap orang tentu berbeda-beda. Faktor usia, kondisi tubuh, pengalaman olahraga, stamina, hingga kebiasaan sehari-hari bisa mempengaruhi ritme lari seseorang. Bahkan untuk pemula, pace besar sebenarnya hal yang sangat normal.
Fenomena ini juga yang akhirnya melahirkan komunitas-komunitas lari santai yang lebih ramah untuk pemula. Salah satunya adalah pace besar, komunitas yang membawa pesan sederhana bahwa pace besar bukan sesuatu yang harus dipermalukan.
Lewat berbagai unggahannya, komunitas ini sering mengajak orang untuk menikmati proses lari tanpa tekanan harus jadi yang tercepat. Tidak ada tuntutan harus kuat 10 kilometer, tidak harus punya personal record keren, bahkan tidak harus langsung jago.
Di tengah tren flexing pace dan statistik olahraga, konsep seperti ini justru terasa menyegarkan. Banyak orang ternyata hanya butuh lingkungan yang suportif untuk mulai bergerak, bukan lingkungan yang bikin makin insecure.
Fenomena komunitas “lari lambat” sendiri juga dianggap menjadi ruang aman untuk para pemula. Banyak orang merasa lebih nyaman berolahraga ketika tidak terus-menerus dibandingkan dengan pelari lain.
Padahal kalau dipikir-pikir, manfaat lari sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar mengejar angka pace. Lari rutin diketahui bisa membantu menjaga kesehatan jantung, meningkatkan stamina, membakar kalori, hingga membantu kualitas tidur menjadi lebih baik.
Bukan cuma untuk fisik, lari juga sering jadi cara banyak orang menjaga kesehatan mental. Ada yang merasa pikirannya lebih ringan setelah jogging sore, ada yang menjadikan lari sebagai pelarian dari stres kerja atau tugas kuliah, sampai ada juga yang akhirnya menemukan circle pertemanan baru lewat komunitas lari.





