Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Kita Sering Kesemutan? Ini Penyebab dan Penjelasan Ilmiahnya

R
Penulis: Rafi Akbar❯
Illustrasi Kesemutan (Dok. Magnific)
Illustrasi Kesemutan (Dok. Magnific)

Advertisement

JawaPos.com - Kesemutan menjadi salah satu sensasi yang cukup sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini biasanya muncul ketika seseorang duduk terlalu lama, tidur dengan posisi tertentu, atau tidak sengaja menekan bagian tubuh dalam waktu cukup lama.

Sensasi yang dirasakan pun beragam, mulai dari rasa geli, seperti tertusuk jarum-jarum kecil, hingga mati rasa pada bagian tubuh tertentu. Meski sering dianggap sepele, kesemutan sebenarnya berkaitan dengan cara kerja sistem saraf dalam tubuh manusia.

Dalam kondisi tertentu, kesemutan dapat mereda dengan sendirinya setelah seseorang mengubah posisi tubuh. Namun, jika sensasi tersebut sering muncul, berlangsung lama, atau disertai keluhan lain, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang perlu diperhatikan.

Advertisement

Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Tubuh Mengalami Kesemutan?

Secara medis, kesemutan dikenal sebagai parestesia, yaitu sensasi abnormal pada kulit yang dapat berupa rasa geli, tertusuk, terbakar, atau mati rasa. Kondisi ini dapat terjadi ketika saraf mengalami tekanan, iritasi, atau gangguan dalam menghantarkan sinyal.

Mengutip penjelasan Cleveland Clinic, kesemutan sementara umumnya terjadi ketika seseorang mempertahankan posisi tubuh tertentu terlalu lama sehingga saraf mengalami tekanan atau aliran darah di area tersebut terganggu.

Advertisement

Ketika posisi tubuh diubah dan tekanan berkurang, fungsi saraf secara bertahap kembali normal. Proses inilah yang membuat sensasi kesemutan biasanya menghilang dalam beberapa menit.

Meski demikian, kesemutan tidak selalu disebabkan oleh posisi tubuh. Ada sejumlah kondisi lain yang dapat mempengaruhi fungsi saraf dan menimbulkan sensasi serupa.

Apa Saja Penyebab Kesemutan?

1. Posisi Tubuh yang Terlalu Lama

Salah satu penyebab kesemutan yang paling umum adalah mempertahankan posisi tubuh dalam waktu lama. Misalnya, duduk dengan kaki terlipat, menyilangkan kaki terlalu lama, atau tidur dengan posisi tangan tertindih.

Posisi tersebut dapat memberikan tekanan pada saraf dan mengganggu penghantaran sinyal sensorik. Akibatnya, bagian tubuh yang terdampak terasa kebas atau seperti ditusuk-tusuk.

Biasanya, keluhan akan perlahan menghilang setelah posisi tubuh diubah dan tekanan pada saraf berkurang.

Advertisement
Editor : Bintang Pradewo
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp dan podcast kami?
WhatsApp
Jawa Pos MetropolitanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Spotify
Kami Haus GOL KamuBuka Spotify

Dari ruang redaksi ke telinga kamu, inilah Jawa Pos Podcast! Obrolan santai tapi bermakna soal isu terkini, olahraga, hiburan dan kehidupan sehari-hari. Karena setiap cerita layak untuk dibicarakan!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer