Daya Beli Warga Bandung Tertahan, DPRD Soroti Kesenjangan Sosial dan Dampak Efisiensi Anggaran

JawaPos.com – Kondisi ekonomi masyarakat Kota Bandung dinilai sedang menghadapi situasi yang cukup kompleks. Meski sejumlah barang di pasar masih terserap, daya beli masyarakat terutama dari kalangan bawah terlihat mulai tertahan.
Anggota Komisi II DPRD Kota Bandung Eko Kurniawanto mengatakan, di lapangan sebenarnya aktivitas ekonomi masih berjalan. Namun, banyak masyarakat menahan keinginan untuk berbelanja karena kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
“Data di lapangan menunjukkan barang masih terserap. Tapi animo masyarakat kelas bawah untuk belanja sekarang terlihat tertahan,” ujarnya pada Kamis (26/3).
Menurut dia, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah tingginya kesenjangan sosial di Kota Bandung. Dia menyebut angka gini rasio Kota Bandung berada di kisaran 0,4 yang tergolong cukup tinggi.
“Gini rasio Bandung sekitar 0,4 itu sudah termasuk cukup tinggi dan menunjukkan adanya kesenjangan sosial,” kata Eko Kurniawanto.
Selain itu, kondisi ketenagakerjaan juga ikut memberi dampak terhadap daya beli masyarakat. Apalagi banyak pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK), termasuk tenaga kerja dari skema PPPK maupun tenaga outsourcing.
“Banyak tenaga kerja yang terdampak PHK, termasuk PPPK dan outsourcing. PPPK paruh waktu juga ditiadakan, meskipun itu baru dari sisi formal,” jelasnya.
Eko menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor regional atau nasional, tetapi juga dinamika global yang ikut memengaruhi perekonomian daerah.








