JawaPos.com - Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) pertama kalinya berlangsung pada tahun 2000 di Semarang. Pada tahun 2025 ini, AICIS dirumuskan ulang; bukan hanya berubah nama menjadi Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+), tetapi AICIS+juga menjadi penanda bahwa simbol ‘plus’ yang baru ini memiliki makna cakupan interdisipliner yang lebih luas, keterlibatan global yang lebih mendalam, dan komitmen yang lebih kuat untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan transformatif yang menjawab tantangan kompleks dunia saat ini.
Pada AICIS terakhir tahun 2024 di Semarang, tema yang diusung adalah ‘Redefining the Roles of Religion in Addresing Human Crisis: Encountering Peace, Justice, and Human Right Issues’. Untuk AICIS+ 2025, tema yang diangkat adalah ‘Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidisciplinary Innovations for an Equitable and Sustainable Future’. Tema besar tentang Islam, ekoteologi, dan transformasi teknologi tersebut menjadi penanda bahwa AICIS memang benar-benar bertransformasi menjadi AICIS+. Dalam hal ini, AICIS+ memiliki tujuan untuk mengatasi isu-isu global yang mendesak, di antaranya adalah krisis lingkungan, kesenjangan ekonomi, konflik, dan kesehatan masyarakat, melalui dialog kolaboratif dan lintas disiplin yang berakar pada nilai-nilai keislaman.
Dari UIII untuk Dunia
Sebagai sebuah perguruan tinggi yang masih sangat muda usianya (mulai beroperasi pada tahun 2021), Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) didirikan sebagai sebuah perguruan tinggi pascasarjana yangberorientasi global untuk studi lanjutan tentang Islam dan dunia Muslim. Sebagai pusat keunggulan akademik, UIII menawarkan lima fakultas dan beragam program yang dirancang untuk mendorong kajian kritis, pertukaran intelektual, dan penelitian inovatif.
Untuk melengkapi layanan akademik internasionalnya, UIII juga menjadi rumah bagi pusat-pusat penelitian mutakhir yang membahas isu-isu strategis utama dan tantangan yang dihadapi masyarakat Muslim di seluruh dunia. Dengan komitmen untuk membentuk dan menghasilkan pemimpin dan cendekiawan masa depan, UIII berdiri di garda terdepan pendidikan tinggi Islam internasional yang belum begitu berkembang di Indonesia.
Dengan menjadi penyelenggara AICIS+ 2025, UIII memperlihatkan salah satu misinya untuk melestarikan dan memajukan budaya dan peradaban Islam, termasuk warisan Indonesia yang kaya dan beragam. Dalam konteks ini, dengan memadukan semangat keilmuan Islam dengan pemikiran terkini dalam sains, teknologi, dan inovasi sosial, UIII bercita-cita agar AICIS+ dapat mengilhami gagasan-gagasan yang bergema di luar ruang konferensi, sehingga perdebatan akademik yang tersaji dalam AICIS+2025dapat diwujudkan dalam menjawab beragam permasalahan di luar dunia akademik.
Kontribusi untuk Islam
AICIS+ tetap meneruskan gagasan penting AICIS untuk terciptanya peradaban Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi masa depan di mana Indonesia menjadi cerminan dari kondisi ideal tersebut. Sebagai sebuah universitas internasional dengan nilai-nilai keislaman yang kuat, UIII hadir untuk mewarnai ruang-ruang keilmuan yang di dalamnya terjalin unsur-unsur Islam, modernitas, pluralisme, demokrasi, dan keadilan sosial. AICIS+ dan UIII diharapkan dapat menjadi simbol agenda akademik dan perguruan tinggi internasional yang berusaha mewujudkan gagasan penting bahwa Islam Indonesia yang moderat dapat menjadi rujukan bagi terciptanya landasan intelektual untuk dunia yang lebih baik.
Dalam konteks AICIS+ 2025, forum besar tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang-ruang pertemuan akademik semata, melainkan juga sebagai sebuah wahana ilmu pengetahuan tempat para sarjana dunia meninjau ulang sepak terjang Islam dan peran besarnya dalam merespons beragam tantangan global, seperti isu-isu lingkungan, transformasi teknologi, kesetaraan sosial, sistem ekonomi berkelanjutan, industrialisasi dan inovasi, krisis kemanusiaan, dan juga kesehatan masyarakat.
Sumbangsih untuk Ilmu Pengetahuan
Konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di lingkungan Kementerian Agama sebenarnya dapat dengan mudah ditemui di tiap-tiap perguruan tinggi tersebut. Namun, AICIS+ memiliki perbedaan besar dengan konferensi-konferensi yang digelar di PTKI-PTKI tersebut. Perbedaan terbesarnya adalah bahwa AICIS+ melampaui batas disiplin ilmu dan menempatkan keilmuan Islam di pusat pemecahan masalah global. Fokus AICIS+ 2025pada Islam, ekoteologi, dan transformasi teknologi menegaskan bahwa perspektif ilmu pengetahuan berbasis iman dapat memberikan solusi praktis dan etis bagi kemajuan dunia.
Selain itu, tanda ‘plus’ dalam AICIS+ 2025 ini memperlihatkan perluasan yang signifikan, baik dari segi cakupan maupun semangat. AICIS+ 2025 adalah upaya Kementerian Agama dan UIII untuk mengintegrasikan keilmuan Islam dengan diskursus global tentang ekologi, isu-isu gender, dekolonisasi, kesehatan, dan transformasi digital, sambil tetap berpijak pada nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Andil untuk Kemajuan Masyarakat Dunia
Salah satu aspek ‘plus’ dalam AICIS+ 2025 adalah ‘masyarakat’. Konferensi AICIS+ 2025 diharapkan dapat merespons pertanyaan-pertanyaan tentang keberlanjutan, keadilan global, dan transformasi digital yang menjadi karakter masyarakat global pada abad ke-21 ini. AICIS+ 2025 dapat menjadi bagian dari tanggung jawab moral perguruan tinggi agar tidak dipandang sebagai menara gading. Di forum inilah UIII dapat memantapkan posisinya, yaitu sebagai institusi yang menyediakan ruang akademik di mana etika keagamaan dan ilmu pengetahuan dapat bersumbangsih secara nyata bagi terciptanya masyarakat dunia yang lebih baik.
Di era demokratisasi ini, warga global mulai memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana kebijakan negara harus mampu memberdayakan mereka dan bagaimana negara dapat berfungsi dengan baik dalam good governance. Dalam hal ini, AICIS+ 2025 dapat menjadi forum yang mampu merepsons permasalahan kewargaan sebagai aspek sosial-politik yang belum banyak menyentuh warga sebagai sebuah subjek yang mandiri secara optimal. AICIS+ 2025 dapat merumuskan piagam yang mendukung konsep hubungan warga dan negara sebagai sebuah ruang politik tempat pertemuan antara berbagai kepentingan, sehingga idealnya akan tercipta masyarakat dunia yang lebih baik.
Bukan Sekadar Pemecah Rekor
Untuk AICIS+ 2025, panitia menerima total 2.434 abstrak yang menandai jumlah tertinggi dalam sejarah AICIS. Namun, kuantitas bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Untuk menjaga integritas konferensi, setiap abstrak yang diajukan menjalani proses penyaringan yang cermat, di mana setiap abstrak yang masuk ke meja panitia diperiksa kualitas dan kepatutannya sesuai dengan tema yang dituju.
Untuk AICIS+ 2025, panitia menerima pengiriman abstrak dari 31 negara, termasuk Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Jerman, India, India, Iran, Jepang, Libya, Malaysia, Belanda, Niger, Nigeria, Pakistan, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Tunisia, Uni Emirat Arab, Inggris, Amerika Serikat, Yaman, Arab Saudi, Kenya, Maroko, Qatar, Cina, Mesir, Swiss, Thailand, dan Uganda. Jumlah tersebut bukan sekadar angka statistik belaka.
Beragamnya pengirim abstrak menandakan bahwa AICIS+ 2025 mampu menarik minat calon peserta yang akan mempresentasikan hasil penelitiannya. Hal tersebut juga menandakan bahwa ada peningkatan kepercayaan komunitas akademik internasional terhadap konferensi tahunan di bawah kendali Kementerian Agama yang pada akhirnya menunjukkan bahwa konferensi ini telah menjadi ruang vital untuk pertukaran pengetahuan, pembangunan kolaborasi, dan pembahasan isu-isu global yang mendesak melalui perspektif Islam, sains, dan masyarakat.
Dalam konteks para pembicara kunci, AICIS+ 2025 menghadirkan ilmuwan-ilmuwan terkemuka dunia, di antaranya adalah Ayman Shihadeh (SOAS, University of London), Stéphane Lacroix (Sciences Po, Paris), Shahram Akbarzadeh (Deakin University, Geelong), Mohammed Quaddus (Curtin University, Perth), Meiwita Paulina Budiharsana (UI, Depok), Sulfikar Amir (NTU, Singapura), Hamrila binti Abdul Latif (Universiti Malaysia Sarawak, Sarawak), dan akademisi-akademisi dari UIII sendiri, seperti Farish Noor (Malaysia), Aria Nakissa (Amerika Serikat), dan Fajar Hirawan (Indonesia).
Terakhir, AICIS+ 2025 juga menghadirkan inovasi baru melalui Riset Expoyang akan menampilkan karya-karya penelitian dari madrasah unggulan hingga perguruan tinggi. Di sini, AICIS+ 2025 berupaya menjadi arena ilmu pengetahuan yang terbuka yang bukan hanya menjadi milik perguruan tinggi, tetapi juga madrasah. Selain itu, AICIS+ 2025 juga akan menampilkan pameran buku, festival kuliner halal, dan beragam pertunjukan budaya. Kegiatan-kegiatan tambahan tersebut menjadi penanda penting bahwa AICIS telah bertransformasi menjadi AICIS+ yang jauh lebih inklusif, terbuka, dan beragam dalam menjadi salah satu agenda penting Kementerian Agama melalui PTKI di bawahnya.
Tantangan AICIS+
Sebagai sebuah transformasi baru, tentu saja AICIS+ memiliki tantangan, bukan hanya untuk penyelenggaraan pada tahun 2025 ini saja, melainkan juga pada tahun-tahun mendatang. Yang pertama adalah bahwa AICIS+ harus benar-benar lepas dari sekadar simbol konferensi PTKI yang menjadi ajang tahunan belaka. AICIS+ harus benar-benar produktif menjadi penanda perdebatan akademik internasional yang muncul dari Indonesia.
Kedua, kehadiran para pembicara kunci dan juga pemakalah dari luar negeri seharusnya menjadi pembuka bagi kolaborasi akademik antara dunia akademik Indonesia dan dunia akademik internasional. Kehadiran akademisi asing harus benar-benar berdampak bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia, bukan sekadar tamu asing semata.
Ketiga, kehadiran jurnal-jurnal akademik di lingkungan PTKI dalam AICIS+ harus benar-benar dimanfaatkan untuk diseminasi hasil-hasil penelitian di lingkungan PTKI. Jurnal-jurnal yang diundang khusus harus berhasil memanfaatkan momen AICIS+ untuk menyaring hasil-hasil penelitian terbaik.
Terakhir, AICIS+ harus benar-benar menjadi corong dalam memperkenalkan dan mempromosikan Islam moderat ala Indonesia, sehingga gambaran Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamindapat benar-benar terlihat dalam konferensi akademik ini. Pada akhirnya, dunia diharapkan dapat melihat bahwa Islam adalah sumber solusi dalam menjawab berbagai tantangan global.
Di sinilah peran UIII untuk Islam, ilmu pengetahuan, dan masyarakat dunia yang lebih baik akan teruji. UIII melalui AICIS+ harus mampu menjadi institusi yang mewujudkan optmisme tersebut bahwa Islam dari Indonesia dapat menjadi cerminan dari perwujudan agama yang membawa kemajuan, keadilan sosial, dan perdamaian dunia.
Oleh: Yanwar Pribadi
Fakultas Studi Islam Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Editor : Arief Indra Dwisetyadi