Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Minat Anak Muda Belajar Ilmu Hisab dan Rukyat Turun, Ini yang Bakal Dilakukan Kemenag!

Hilmi Setiawan • Senin, 22 Desember 2025 | 10:16 WIB
Ilmu Falak, termasuk soal hisab dan rukyat, punya peran strategis. Seperti penentuan awal puasa dan kapan lebaran tiba. Sayangnya minat belajar ilmu Falak, di kalangan anak muda mengalami penurunan.
Ilmu Falak, termasuk soal hisab dan rukyat, punya peran strategis. Seperti penentuan awal puasa dan kapan lebaran tiba. Sayangnya minat belajar ilmu Falak, di kalangan anak muda mengalami penurunan.

JawaPos.com - Ilmu Falak, termasuk soal hisab dan rukyat, punya peran strategis. Seperti penentuan awal puasa dan kapan lebaran tiba. Sayangnya minat belajar ilmu Falak, di kalangan anak muda mengalami penurunan.

Fenomena tersebut disampaikan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Hisab Rukyat di Wajo, Sulawesi Selatan. Dia mengatakan, Kemenag mendorong pengenalan dan penguatan kembali ilmu falak kepada generasi muda di tengah menurunnya minat serta literasi terhadap hisab rukyat.

Upaya itu penting untuk menjaga kesinambungan keilmuan yang memiliki peran strategis dalam penentuan waktu-waktu ibadah umat Islam. Arsad mengaku prihatin terhadap semakin berkurangnya ketertarikan generasi muda pada ilmu falak.

“Kalau ditanya generasi muda, tahu ilmu falak? Umumnya menjawab tidak tahu,” ujar Arsad dalam keterangannya (22/12). Menurutnya, Kemenag perlu mengarahkan program-program keumatan agar lebih relevan dengan karakter generasi masa depan, mulai dari Generasi Z, Alpha, hingga Beta.

Orientasi itu juga sejalan dengan tema Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag yang menekankan kesiapan umat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Ke depan, program kegiatan Kementerian Agama harus mulai berorientasi kepada Gen Z, Gen Alpha, bahkan Gen Beta. Karena generasi itu merupakan calon pemimpin 2045.

Arsad menilai revitalisasi ilmu falak mendesak dilakukan melalui pendekatan yang lebih menarik dan adaptif bagi generasi muda. Saat ini, Kemenag tengah memformulasi ulang kegiatan hisab rukyat agar mampu menjadi pintu masuk ketertarikan anak muda terhadap ilmu falak. “Jangan sampai ilmu falak hilang,” tegasnya.

Dia juga mengungkapkan minimnya pengajaran ilmu falak di banyak pondok pesantren. Meski terdapat sejumlah pesantren yang mengajarkan falak secara khusus, sebagian besar belum menjadikannya sebagai bagian dari kurikulum utama. Kondisi ini dinilai berpotensi melemahkan regenerasi ahli falak dalam jangka panjang.

Dalam konteks tersebut, pelaksanaan Bimtek Hisab Rukyat dipandang sebagai momentum strategis untuk menumbuhkan kesadaran dan minat bersama. Arsad menekankan bahwa bimtek ini berfungsi sebagai pengantar dan pemantik ketertarikan, sementara pendalaman keilmuan membutuhkan komitmen belajar secara berkelanjutan. “Kalau ingin ahli, mau tidak mau harus belajar sendiri karena ini baru pancingan,” ujarnya.

Arsad berharap, langkah ini dapat memperluas basis peminat dan pelaku ilmu falak di kalangan generasi muda. Sekaligus memastikan keberlanjutan keilmuan hisab rukyat sebagai fondasi penting layanan keagamaan di masa depan. Dengan pendekatan yang relevan dan inklusif, Kemenag menargetkan lahirnya generasi baru ahli falak yang mampu menjawab tantangan zaman.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#kemenag