Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Awal Puasa dan Idul Fitri Berpotensi Tidak Serentak, Muhammadiyah 18 Februari, Pemerintah Besoknya

Hilmi Setiawan • Selasa, 23 Desember 2025 | 16:13 WIB
Profesor riset sekaligus ahli astronomi BRIN Prof Thomas Djamaluddin menyampaikan pidato di kampus ITB.
Profesor riset sekaligus ahli astronomi BRIN Prof Thomas Djamaluddin menyampaikan pidato di kampus ITB.

JawaPos.com - Profesor riset ahli astronomi BRIN Thomas Djamaluddin menyampaikan, 1 Ramadan serta lebaran 2026 tidak serentak. Muhammadiyah sudah menetapkan awal puasa 18 Februari. Kemungkinan besar Pemerintah besoknya atau 19 Februari, namun tetap masih menunggu hilal.

Thomas menjelaskan, akhir bulan Syaban jatuh pada 17 Februari. Menurut perhitungan hisab, tinggi hilal pada 17 Februari sore masih di bawah ufuk. "Ada di minus 0,5 sampai minis 2,5 derajat," katanya (22/12).

Biasanya, ketika hilal masih minus atau di bawah ufuk, Muhammadiyah belum bisa menetapkan masuk bulan baru. Tetapi saat ini kondisinya berbeda. Pasalnya Muhammadiyah sudah menggunakan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Sehingga meskipun pada 17 Februari hilal masih di bawah ufuk, besoknya atau 18 Februari sudah 1 Ramadan. "Potensi perbedaan pada awal Ramadan dan Syawal," tegasnya.

Thomas menekankan perbedaan penetapan hari-hari besar agama Islam ke depan akan makin sering terjadi. Sumber perbedaan saat ini bukan lagi masalah ketinggian hilal. Sumber perbedaan saat ini adalah perbedaan konsep lokal-regional dan konsep global. Thomas menuturkan, konsep lokal-regional diadopsi oleh pemerintah dan sebagian ormas Islam di Indonesia.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#itb #BRIN