Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Diaspora Indonesia Jadi Ahli AI Google AS, Sebut Publik Ingin Teknologi yang Bisa Atasi Masalah Nyata

Hilmi Setiawan • Rabu, 14 Januari 2026 | 19:17 WIB
Product Manager di Google AS Juan Anugraha Djuwadi. (Dokumen pribadi)
Product Manager di Google AS Juan Anugraha Djuwadi. (Dokumen pribadi)

JawaPos.com - Rekam jajak diaspora Indonesia di bidang IT semakin membanggakan. Kiprah terbaru dicatat Juan Anugraha Djuwadi, selaku Product Manager di Google AS. Dengan jabatannya itu, Juan punya peran strategis mengarahkan AI (kecerdasan buatan) tetap relevan, manusiawi, dan berdampak luas.

Secara khusus Juan menyapa masyarakat Indonesia secara daring pada Rabu (14/1). Dia berdiskusi secara santai namun nersisi lewat webinar bertajuk AI Streamline Your Business: Build Internal Apps with AI. Alumnus Jakarta Intercultural School itu meladeni pertanyaan yang dilempar peserta webinar secara mendalam.

Dalam kesempatan itu, Juan memaparkan pandangannya mengenai arah pengembangan AI ke depannya. Termasuk tantangan adopsi lintas pasar. Serta prinsip membangun produk berskala global. Sehingga bisa jadi rujukan penting pemerintah, dunia usaha, dan ekosistem digital di Indonesia maupun kawasan Asia Pasifik.

Menurutnya, kemajuan AI tidak boleh terjebak pada kompleksitas teknologi semata. Juan mengatakan pengguna tidak peduli seberapa canggih teknologi di belakang layar. "Mereka peduli apakah solusi itu berguna dan menyelesaikan masalah nyata,” tegas Master of Arts alumnus Design and Development of Digital Games, Game and Interactive Media Design, Columbia University itu. Prinsip tersebut jadi fondasi utama dalam pengembangan produk Google dalam melayani miliaran pengguna lintas budaya dan beragam tingkat literasi digital.

Juan menekankan dua filosofi kunci yang relevan bagi pembuat kebijakan dan enterprise. Yaitu less is more dan the details matter. Baginya dalam skala masif, satu persen kegagalan bukan angka kecil. “Ketika satu persen pengguna mengalami kesulitan, itu berarti jutaan orang. Di sinilah detail menjadi isu strategis, bukan sekadar teknis,” jelasnya.

Pandangan itu penting bagi pemerintah dan BUMN di Indonesia yang tengah membangun sistem digital berskala nasional. Termasuk layanan publik berbasis AI.

Terkait pengambilan keputusan, Juan memposisikan data dan intuisi sebagai dua pilar yang saling melengkapi. Data berperan sebagai kompas untuk optimasi. Seperti peningkatan efisiensi, performa, dan akurasi. Tetapi terobosan besar justru lahir dari intuisi dan visi produk.

“Data memvalidasi masa kini, intuisi mendefinisikan masa depan,” ujarnya. Di era AI yang bergerak cepat seperti sekarang, pendekatan itu jadi krusial bagi regulator dan enterprise. Supaya mereka tidak sekadar reaktif, tetapi visioner.

Dia juga menyinggung isu kepercayaan (trust) yang menjadi sorotan utama dalam penerapan AI lintas negara. Juan menilai bahwa solusi AI yang berdampak harus dibangun dengan pemahaman konteks lokal, budaya, serta ekspektasi pengguna. Google saat ini mengandalkan kolaborasi tim global dan lokal, supaya inovasi mereka tidak bersifat seragam, tetapi relevan.

Mengenai Indonesia, Juan melihat potensi besar sekaligus tantangan struktural. Dia mengatakan kondisi di Indonesia berbeda dari pasar AS. Di negara tempat dia bekerja saat ini, kondisinya sudah matang dalam adopsi dan monetisasi perangkat lunak. Sementara itu di Indonesia masih berada dalam fase transisi.

Namun Juan memprediksi bahwa seiring kematangan ekosistem digital, perhatian terhadap privasi data, etika AI, dan akuntabilitas sistem akan meningkat tajam. Urusan ini juga sedang menjadi isu utama di tingkat global.

Diaspora yang pernah berkarier di beberapa perusahaan ternama USA seperti Niantic, Scopely, Activision, dan Electronic Arts itu juga memproyeksikan perubahan fundamental dalam lanskap teknologi lima tahun ke depan. Demokratisasi AI akan mendorong lahirnya software yang bersifat on-the-fly. Software ini akan dihasilkan secara real-time sesuai kebutuhan pengguna.

Perubahan itu diperkirakan akan mengubah total cara pemerintah, enterprise, dan pelaku industri merancang layanan. Termasuk antarmuka berbasis teks dan suara. Dia menegaskan bahwa peran talenta Indonesia di panggung dunia bukan sekadar simbol. Tetapi jadi kontributor strategis dalam membentuk arah AI yang berdampak, beretika, dan berorientasi pada manusia.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#indonesia