Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

40 Persen Anak SMP di Jakarta Timur Kecanduan Gadget, Main Ponsel Sampai 6 Jam Tiap Hari

Hilmi Setiawan • Kamis, 15 Januari 2026 | 12:04 WIB
Senior Director, Advocacy, Campaign, and Government Relation Save The Children Tata Sudrajat menyampaikan penjelasan soal anak kecanduan gadget di Jakarta (14/1). (Hilmi/Jawa Pos)
Senior Director, Advocacy, Campaign, and Government Relation Save The Children Tata Sudrajat menyampaikan penjelasan soal anak kecanduan gadget di Jakarta (14/1). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Lembaga Save The Children menyampaikan data yang mengejutkan. Yaitu sebanyak 40 persen anak-anak usia SMP di Jakarta Timur kecanduan gadget. Mereka bisa menghabiskan waktu sampai 6 jam tiap hari dengan ponsel atau gawainya.

Data tersebut disampaikan Senior Director, Advocacy, Campaign, and Government Relation Save The Children Tata Sudrajat dalam diskusi tahunan di Jakarta (14/1). Dia mengatakan survei yang dilakukan saat ini masih sebatas uji coba. "Ke depan kami akan melakukan survei serupa dengan sasaran yang lebih luas," katanya.

Tata menuturkan survei tersebut mengambil sampel 500 anak usia SMP di Jakarta Timur. Salah satu kesimpulan adalah 40 persen anak-anak itu sudah kecanduan HP. "Dalam sehari mereka bermain gadget tiga sampai enam jam," katanya.

Aktivitas digital anak-anak itu beragam. Tidak hanya main game. Tetapi juga streaming video, scroll medsos, dan sejenisnya. Pada anak-anak yang seharusnya fokus belajar, kecanduan gadget tersebut tentu beresiko negatif. Apalagi aktivitas digital itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan pembelajaran.

Temuan lainnya dalam survei itu adalah anak-anak lebih percaya kepada teman sejawatnya. Khususnya ketika ada masalah. Padahal tempat konsultasi yang ideal seharusnya orang tua atau guru. Ketika anak-anak lebih dekat dengan teman seumuran, ketimbang dengan orangtua, maka bisa berdampak negatif juga.

Untuk itu Tata mengatakan tantangan orang tua saat ini cukup berat. Tidak hanya membentengi anak-anak dari pengaruh negatif dunia digital. Tetapi juga menjaga hubungan supaya tetap dekat dengan anak-anaknya.

Dalam kesempatan itu Tata juga menyampaikan resiko bullying atau perundungan di dunia digital. Cara mengatasinya adalah memperkuat literasi digital. "Literasi digital bukan hanya kepada anak-anak saja. Tetapi juga untuk orang tua dan guru," jelasnya.

Bagi anak yang sudah kecanduan gadget, resiko perundungan digital semakin besar. Baik itu sebagai pelaku perundungan, maupun korban perundungan digital. Anak-anak harus terus diedukasi supaya tidak terlalu larut dalam aktivitas digital.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#Save The Children