JawaPos.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya antisipatif menghadapi potensi terjadinya cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di wilayah Jakarta serta sekitarnya.
Kegiatan ini berlangsung selama lima hari berturut-turut, mulai tanggal 16 hingga 20 Januari 2026, dengan pelaksanaan yang dilakukan secara terpadu bersama pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara.
Tempat pusat pelaksanaan operasi dipusatkan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, dengan menggunakan pesawat CASA 212 A-2105 yang merupakan milik TNI Angkatan Udara. Alat dan lokasi ini dipilih untuk memudahkan koordinasi serta akses ke area yang menjadi target penyemaian bahan modifikasi cuaca.
Pada hari pertama pelaksanaan OMC yang jatuh pada hari Jumat (16/1), telah dilakukan dua kali sortie penerbangan. Total bahan semai yang digunakan pada hari pertama adalah sebanyak 1.600 kilogram Natrium Klorida (NaCl), yang seluruhnya disebarkan di wilayah perairan Selat Sunda.
’’Tujuan utama penyemaian adalah untuk meluruhkan massa awan hujan yang bergerak menuju arah daratan, sehingga proses presipitasi dapat terkonsterasi di kawasan perairan dan tidak memberikan dampak yang berlebihan pada daratan," kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Isnawa Adji, Minggu (18/2).
Sortie penerbangan pertama dilaksanakan pada pukul 13.28 hingga 14.48 Waktu Indonesia Barat (WIB), dengan menyebarkan sebanyak 800 kilogram NaCl pada ketinggian terbang antara 8.000 hingga 12.000 kaki. Kegiatan ini difokuskan untuk mendukung pengendalian pertumbuhan massa awan hujan yang berpotensi menyebabkan hujan intens tinggi. Berikutnya, sortie kedua dilakukan pada pukul 15.40 hingga 17.30 WIB dengan ketinggian terbang sekitar 9.000 kaki, juga menggunakan jumlah bahan semai yang sama, yaitu 800 kilogram NaCl.
Isnawa menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC pada hari pertama difokuskan pada wilayah perairan sebagai bagian dari strategi mitigasi dini. Tujuan utama adalah mengendalikan pertumbuhan awan hujan sebelum mencapai wilayah daratan Jakarta.
"Operasi Modifikasi Cuaca ini merupakan langkah preventif untuk mengurangi potensi hujan berintensitas tinggi yang dapat berdampak pada genangan dan banjir di wilayah DKI Jakarta. Seluruh pelaksanaan dilakukan berdasar analisis meteorologi dan hasil pemantauan cuaca terkini," ucapnya.
Menurut dia, sepanjang periode pelaksanaan 16 hingga 20 Januari 2026, BPBD DKI Jakarta bersama BMKG dan TNI AU akan terus melakukan evaluasi serta koordinasi secara harian. Hal ini dilakukan untuk menentukan waktu dan lokasi penyemaian yang paling efektif sesuai dengan dinamika kondisi atmosfer yang terus berubah.
BPBD Provinsi DKI Jakarta juga mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi terjadinya hujan lebat yang dapat disertai dengan petir dan angin kencang. Selain itu, masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif dalam menjaga kebersihan saluran air di lingkungan masing-masing untuk meminimalkan risiko genangan air.
Informasi terkini mengenai peringatan dini cuaca serta kondisi kebencanaan di wilayah DKI Jakarta dapat diakses melalui berbagai kanal resmi, antara lain melalui layanan Jakarta Siaga 112, aplikasi JAKI, situs resmi bpbd.jakarta.go.id, serta melalui akun media sosial resmi @bpbddkijakarta.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi