Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Fenomena “Warteg Fancy” di Jakarta, Pasang Harga hingga Ratusan Ribu Jadi Sorotan

Deby Alya Ramadhani • Minggu, 12 April 2026 | 15:38 WIB
Beberapa menu makanan yang disajikan di Salira (menu book)
Beberapa menu makanan yang disajikan di Salira (menu book)

JawaPos.com – Akhir-akhir ini, fenomena “warteg fancy” kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Pasalnya, konsep warteg yang identik dengan makanan rumahan dengan harga terjangkau, kini bertransformasi menjadi lebih premium. Perubahan yang terjadi tidak hanya pada tampilan, tapi juga pada pengalaman makan yang ditawarkan.

Seakan terpengaruh oleh tren gaya hidup, konsep sederhana dan murah meriah telah diubah menjadi berkelas dengan harga “premium”. Salah satu yang sering menjadi sorotan yaitu Salira, sebuah restoran yang mengusung konsep warteg versi premium. Kehadirannya di kawasan elit Jakarta memicu perdebatan terkait esensi warteg itu sendiri.

Salira adalah restoran milik The Union Group yang berlokasi di Senopati, Jakarta Selatan. Menjadi restoran dengan menu Nusantara pertama dari grup tersebut. Meskipun mengadopsi sistem penyajian dan menu ala warteg, suasana serta pengalaman yang ditawarkan jauh lebih premium.

Baca Juga: Hindari Macet! Begini Cara Mudah ke Halal Bihalal Jakarta 2026 Pakai Transportasi Umum 

Restoran ini tetap mempertahankan ciri khas warteg, seperti cara pemilihan lauk di etalase. Akan tetapi, bahan makanan, teknik memasak, hingga pelayanan dan plating dibuat lebih berkelas. Hal ini menjadikan Salira sebagai representasi warteg dalam versi “fine dining”.

Dari segi harga, Salira memasang rentang yang cukup beragam, tergantung menu yang dipilin. Hidangan pembuka, seperti gorengan tahu, tempe bakwan, hingga terong raos dan gado-gado, berada di rentang harga Rp 35.000 hingga Rp 55.000. Sedangkan untuk menu hidangan utama, mulai dari lidah cabe ijo, cumi isi udang, ayam bakar madu, hingga salmon asap lodeh, dijual dengan harga mulai dari Rp85.000 hingga Rp.195.000 per porsinya.

Selain hidangan “khas warteg”, di Salira, pelanggan bisa memesan menu lain yang biasanya tidak dijual di warteg kebanyakan. Seperti aneka sate dan soto di rentang harga Rp60.000 hingga Rp95.000. Aneka minuman, mulai dari kopi yang berada di rentang harga Rp 30ribuan, jamu, hingga dessert seharga Rp55.000 juga bisa dipesan sebagai pencuci mulut.

Baca Juga: Habitat Park SCBD: Oase Hijau di Tengah Kota, Tempat Rehat Favorit Usai Kerja

Tidak semua menu dijual dengan harga di atas Rp 50 ribu, beberapa diantaranya masih dijual di harga Rp 20 ribuan, seperti aneka pepes dan camilan. Salah satu yang menarik dari Salira adalah menu-menu langka yang bisa ditemukan di “warteg” ini, seperti Sate Tuna Gorontalo, Kangkung Bunga Pepaya Sei, Ongseng Singkong Kecombrang, hingga manisan Bubur Kampiun juga tersedia di menu. Bagi yang ingin datang, sangat dianjurkan reservasi sekaligus menanyakan kembali menu yang tersedia pada hari kunjungan.

Di Jakarta, selain Salira, terdapat beberapa warteg lain yang juga mengadopsi konsep lebih modern. Dua diantaranya yang sempat viral yaitu Warteg HITZ di Lebak Bulus dan Wahteg di Tanjung Duren. Keduanya juga menawarkan suasana yang lebih nyaman dibandingkan warteg pada umumnya, namun dengan harga lebih terjangkau dibandingkan Salira.

Munculnya “warteg fancy” ini turut memancing beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menilai konsep ini menarik karena mengangkat kuliner Nusantara ke level yang lebih tinggi. Namun, tidak sedikit juga yang mengkritik harganya karena dianggap terlalu mahal untuk kategori warteg.

Beberapa netizen berkomentar di konten yang membahas warteg fancy ini. Ada yang menyebut bahwa harga menu tersebut sebanding dengan kualitas yang ditawarkan, mempertimbangkan kualitas bahan premium, kebersihan, hingga fasilitas restoran. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa “warteg” seharusnya tetap mempertahankan konsep terjangkau bagi semua kalangan.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai “warteg” di tengah masyarakat urban. Dari yang semula diingat sebagai tempat makan murah, kini warteg mulai dibawa menjadi bagian dari gaya hidup perkotaan yang terkenal lebih mahal. Perubahan ini kembali membuka diskusi terkait batas antara inovasi bisnis kuliner dengan mempertahankan esensi dari konsep sebuah warung makan.

Editor : Bintang Pradewo
#warteg fancy #warteg