JawaPos.com – Di era media sosial seperti sekarang, berbagai informasi dapat tersebar dalam waktu yang cepat, begitupun dengan penyajiannya. Informasi maupun hiburan dikemas dalam konten yang menarik dan dapat disimak dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan banyak orang bisa mendapat banyak informasi sekaligus dalam satu waktu melalui scroll konten di media sosial.
Akan tetapi, tak jarang seseorang “kebablasan”, lupa waktu saat scroll, terlalu banyak informasi masuk, terlebih tentang berita buruk, inilah yang disebut doom-scrolling. Banyak studi telah membuktikan bahwa doom-scrolling bisa berdampak langsung pada kesehatan mental, seperti meningkatkan kecemasan, stres, hingga menyebabkan depresi. Kebiasaan ini juga sering mengganggu tidur serta memicu ketegangan fisik, seperti sakit kepala dan otot kaku.
Berikut 8 cara yang dapat dilakukan untuk perlahan menghentikan kebiasan doom-scrolling.
Baca Juga: Rayakan Hari Transportasi Nasional, MRT, LRT hingga TransJakarta Cukup Bayar Rp 1 Hari Ini
1.Batasi waktu dan tempat membuka media sosial
Mengutip dari artikel Cleveland Clinic, menghentikan doom-scrolling dapat dimulai dengan “localize the behaviour”, seseorang perlu mengadopsi batasan untuk dirinya sendiri. Saat menetapkan batas yang jelas tentang dimana dan kapan melakukan scrolling, otak akan lebih mudah patuh. Dengan begitu, scrolling untuk mencari berita tidak melebar ke konten lainnya.
2. Pasang timer saat mulai scrolling
Batasan yang perlu ditetapkan juga termasuk waktu scrolling, berikan titik berhenti yang konkret, bukan sekedar niat untuk berhenti “nanti”. Beberapa sumber informasi kesehatan sangat menganjurkan untuk memasang timer atau menginstal aplikasi pengingat khusus. Cara ini akan membantu memberi sinyal pada diri untuk menghentikan kegiatan scroll.
Baca Juga: Lari Sambil Healing: Trail Run, Tren Outdoor yang Lagi Hype
3. Kurasi isi feed di media sosial
Algoritma konten yang muncul di timeline media sosial maupun mesin pencari umumnya dapat diatur oleh pengguna. Mengkurasi konten di media sosial, hingga unfollow sumber informasi negatif dapat mengurangi trigger untuk kembali tenggelam dalam konten negatif. Dengan begitu, informasi yang dikonsumsi akan lebih sehat, tidak terlalu membebankan pikiran.
4. Perhatikan perasaan yang timbul saat sedang scroll
Coba untuk mengenali emosi yang timbul saat sedang menerima informasi dari sebuah postingan. Rasa gelisah, cemas, emosi berlebih, hingga stres adalah sinyal alami dari tubuh. Semakin cepat reaksi negatif itu dikenali, semakin cepat pula seseorang termotivasi untuk berhenti scrolling.
5. Ambil jeda dan kembali lakukan “catch up news” lagi nanti
Baca Juga: Subathon, Marathon Digital yang Menguji Kreator dan Loyalitas Fans
Saat merasa terlalu “overwhelmed” atas semua informasi, ambil jeda dari kegiatan scrolling. Jeda ini dapat membantu otak teralihkan sekaligus menyegarkan kembali fokus dan energi yang telah terbuang. Kebiasaan mengambil jeda di tengah scrolling bisa menjadi pintu untuk mencegah “attachment” berlebih pada media sosial.
6. Matikan notifikasi yang tidak penting
Mematikan notifikasi dari sumber berita online atau media sosial akan mengurangi distraksi digital. Ketika notifikasi berbunyi, otak akan terpanggil untuk kembali online, mematikan notifikasi dapat mencegah hal ini terjadi. Dengan mematikan notifikasi tersebut, seseorang akan lebih punya kendali atas kapan ingin kembali membuka berita.
7. Jauhkan ponsel dari jangkauan
Baca Juga: Subathon, Marathon Digital yang Menguji Kreator dan Loyalitas Fans
Beberapa sumber, seperti artikel dari Mental Health Foundation hingga Harvard Health Publishing, merekomendasikan untuk menjauhkan ponsel pada saat yang kurang diperlukan, seperti jam makan dan saat tidur. Lingkungan fisik sangat mempengaruhi dorongan impulsif. Dengan menjauhkan gadget dari jangkauan, keinginan tersebut akan lebih sulit menang.
8. Alihkan waktu scrolling dengan aktivitas offline
Saat menjauhi ponsel atau sedang mengambil jeda dari scrolling, coba untuk mengalihkan fokus otak pada kegiatan lain. Aktivitas offline seperti berolahraga, membaca, atau sesederhana bernafas sembari memikirkan hal-hal positif yang ada di sekitar, dapat membantu memutus jeratan beban dari media sosial. Kebiasaan pengganti yang lebih sehat dan menyenangkan bisa melemahkan keinginan untuk kembali scrolling.
Cara-cara di atas dapat menjadi upaya awal untuk memutus kebiasaan buruk doom-scrolling. Melalui pola yang lebih terarah, seseorang dapat terus update tanpa ikut tenggelam dalam emosi negatif. Akan tetapi, jika pengaruh buruk yang ditimbulkan sudah terlalu jauh, hingga menimbulkan kecemasan berlebih atau depresi, pertimbangkan untuk mencari bantuan professional.
Editor : Bintang Pradewo