JawaPos.com – Pemerintah telah menyiapkan renovasi besar-besaran pada Stasiun Gambir di Jakarta Pusat. Proyek ini ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan fasilitas stasiun sekaligus menjadikannya titik integrasi antarmoda transportasi. Renovasi ini ditargetkan rampung pada tahun 2028 mendatang.
Rencana renovasi tersebut disampaikan pada 11 Juni lalu oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin. Pembahasan terkait hal ini disampaikan setelah keduanya melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto.
Saat ini Stasiun Gambir masih berfungsi sebagai stasiun kereta api jarak jauh, dan setelah renovasi, stasiun ini diproyeksikan menjadi stasiun nasional yang terintegrasi. Nantinya, KRL bisa memiliki tempat pemberhentiannya sendiri sekaligus dapat melayani penumpang dari dan ke Stasiun Gambir.
Dalam rancangan pengembangannya, akan dilakukan proyek penambahan jalur khusus untuk layanan KRL. Kehadiran jalur tersebut menjadi bagian penting dari misi menjadikan transportasi rel di Jakarta dan sekitarnya terintegrasi. Integrasi ini diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat, terlebih saat melakukan perpindahan antar layanan kereta.
Selain penghubungan layanan kereta jarak jauh dan KRL Commuter Line, pemerintah juga menyiapkan pembaruan fasilitas penumpang di kawasan stasiun. Area tunggu akan diperluas untuk menampung lebih banyak pengguna layanan. Area komersial baru dan sistem tiket yang lebih modern juga akan tersedia di kemudian hari.
Sejauh ini, Stasiun Gambir telah memiliki akses transportasi umum yang cukup lengkap. Di sekitar stasiun ini, terdapat dua halte Transjakarta, yaitu Halte Gambir dan Halte Gambir 2. Melalui kedua halte tersebut, calon penumpang dapat mengakses beberapa koridor Transjakarta, termasuk koridor 2, 2A, 6H, 1P, 2P, 7F, serta bus wisata Monas (BW2).
Stasiun Gambir juga memiliki lokasi yang strategis di pusat kota Jakarta. Lokasinya berdekatan dengan sejumlah landmark, seperti Monas dan Masjid Istiqlal, serta ruas jalan utama Jakarta. Hal ini menjadi salah satu alasan pendukung dilakukannya renovasi pada Stasiun Gambir agar menjadi pusat transportasi yang terintegrasi.
Rencana tersebut juga sejalan dengan program modernisasi jaringan perkeretaapian nasional. Dalam pelaksanaan proyek tersebut, setidaknya sebanyak 172 perlintasan sebidang telah ditutup dan 490 lainnya tengah dalam proses untuk ditutup. Selain itu, sebanyak 1.148 titik perlintasan sudah mulai dipasangi palang pintu.
Tidak hanya pembangunan fisik, keberhasilan proyek ini akan tetap dikaitkan dengan kualitas layanan transportasi setelah beroperasi. Salah satu yang krusial yaitu mengenai ketepatan waktu. Data ketepatan waktu KRL Jabodetabek pada Triwulan 1 2026 menunjukkan bahwa layanan ini memiliki ketepatan waktu keberangkatan mencapai 96,9% dan kedatangan, sebesar 95,9%.
Tingginya persen ketepatan waktu perjalanan menjadikan layanan ini sebagai salah satu transportasi umum yang banyak digunakan masyarakat. Setidaknya terdapat 1.065 perjalanan setiap harinya dengan jumlah pengguna mencapai 87.979.372 orang. Jumlah tersebut meningkat 7% dari jumlah pengguna pada tahun 2025 yang mencapai angka 82.114.334.
Jika rencana proyek berjalan lancar sesuai tahapan yang dirancang, transformasi stasiun dapat terwujud pada tahun 2028. Nantinya, Stasiun Gambir akan memegang peranan baru sebagai simpul integrasi transportasi berbasis rel di wilayah Jakarta. Dengan begitu, pengguna kereta jarak jauh dapat langsung mengakses layanan KRL Commuter Line tanpa perlu keluar dari area stasiun.
Editor : Bintang Pradewo