JawaPos.com - Ratusan ribu jamaah Jatma Aswaja berkumpul di Masjid Istiqlal. Peserta yang berangkat dari berbagai penjuru daerah di Indonesia tersebut hadir untuk bersama-sama memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa sekaligus meneguhkan kembali komitmen terhadap persatuan, cinta tanah air, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sekretaris Jenderal PB Jatma Aswaja KH Helmy Faishal Zaini mengatakan, zikir kebangsaan dan haul pendiri NKRI bukan sekadar ritual keagamaan. Tetapi juga menjadi ruang untuk mengingat kembali tanggung jawab spiritual dan kebangsaan setiap warga negara dalam merawat Indonesia dan mengingat kembali perjuangan dan pengorbanan para pendiri bangsa.
“Cinta Tanah Air bukan hanya sesuatu yang kita ucapkan, tetapi harus menjadi bagian dari laku kehidupan. Ketika kita berdoa untuk keselamatan bangsa, sesungguhnya kita sedang mengingatkan diri bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus kita rawat bersama,” ujar Helmy di depan puluhan ribu jamaah yang hadir di Masjid Istiqlal.
Baca Juga: Pakar Paru Ingatkan Cuaca Panas Berlebihan Tingkatkan Risiko ISPA
Dia menambahkan, di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, bangsa Indonesia membutuhkan kekuatan spiritual yang mampu memperkuat ketahanan sosial dan menjaga hubungan antar sesama.
Karena itu, menurut Ketua Panitia Zikir Kebangsaan PB atma Aswaja M. Hasan Chabibie spiritualitas tidak boleh berhenti pada kesalehan individual. Nilai-nilai keagamaan harus mampu menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan bersama.
“Zikir mengajarkan kita untuk mengingat Allah, tetapi dari ingatan itu harus lahir akhlak. Dari akhlak lahir kepedulian, dari kepedulian lahir persaudaraan, dan dari persaudaraan itulah kita bisa bersama-sama menjaga bangsa ini,” jelas Hasan.
Baca Juga: Ini Alasan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Bongkar Satu JPO Viral Love-Hate di Rasuna Said
Senada, Rasi Aam PB Jatma Asmaja Habib Luthfi bin Yahya menegaskan, laku spiritual sudah dicontohkan para pendiri NKRI.
“Karena itu malam ini juga kita gunakan sebagai momen refleksi untuk mendoakan para pendiri NKRI. Haul ini juga sebagai pengingat kita, bahwa eksistensi kita hari ini sebagai bangsa Indonesia merupakan buah dari perjuangan para pendiri NKRI,” jelas Habib Luthfi.
Doa dan zikir akbar itu juga dihadiri Menag sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Menko Pangan Zulkifli Hasan, dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Pramono menyampaikan sejumlah upaya mengurangi ketimpangan ekonomi di Jakarta. "Semua orang kaya ada di Jakarta. Sebagian orang miskin juga ada di Jakarta," kata Pramono.
Pemprov DKI Jakarta menjalankan sejumlah program untuk mengatasi ketimpangan itu. Di antaranya beasiswa atau sekolah gratis untuk masyarakat tidak mampu.
"Bahkan ada ribuan mahasiswa dari keluarga miskin dibiayai kuliahnya. Total anggaran (beasiswa pendidikan) Rp 4,8 triliun," tandas Pramono.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Kegiatan Akhir Pekan di Jakarta, dari Beragam Pameran hingga Festival Film
Sementara itu, Menag Nasaruddin Umar menekankan pentingnya rasa syukur. Khususnya menyambut peringatan 81 kemerdekaan Indonesia.
Dia mengatakan bangsa Indonesia patut bersyukur dengan capaian pertumbuhan ekonomi 5 persen lebih. Karena tidak banyak negara mayoritas Islam seperti Indonesia, yang ekonominya tumbuh sebesar itu.
Zulkifli Hasan mewakili Presiden Prabowo Subianto mengajak umat memperkuat persatuan dan kesatuan. Dia juga meminta doa supaya program pemerintah yang belum berhasil, supaya berhasil. Sementara yang sudah berhasil, supaya terus dijaga.
Baca Juga: BI Prediksi Perekonomian Jakarta Tetap Tumbuh Kuat
"Yang belum berhasil program MBG," kata dia.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah