Setu Babakan Hidupkan Kembali Permainan Tradisional Betawi lewat Pameran

Antara • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:05 WIB
 
Ilustrasi permainan tradisional damdas dalam Gebyar Seni Budaya Setu Babakan di UPK Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan. (Luthfia Miranda Putri/Antara)
Ilustrasi permainan tradisional damdas dalam Gebyar Seni Budaya Setu Babakan di UPK Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan. (Luthfia Miranda Putri/Antara)

 

JawaPos.com - UPK Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, menghidupkan kembali permainan tradisional melalui pameran temporer tahunan.

"Kegiatan ini lebih dari sekadar nostalgia. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan, pengendalian diri, sportivitas, dan kerja sama yang terkandung dalam permainan rakyat kepada generasi muda," kata Kepala UPK PBB Setu Babakan Debby Novita Andriani seperti dilansir dari Antara di Jakarta, Minggu (16/8).

Debby mengatakan, pameran tersebut mengangkat berbagai jenis permainan dan hiburan tradisional masyarakat Betawi, seperti dampu, pletokan, hingga permainan karet.

Baca Juga: Pengamat Sebut Parkir Liar Hilangkan Potensi PAD Jakarta Rp 5,4 Miliar

Mengusung tema Saban Maen Bikin Girang, Hiburan Jadul yang Kagak Ilang, kegiatan ini diadakan untuk turut menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) 81 Republik Indonesia.

Dia menjelaskan, main atau maen sengaja dipilih untuk menegaskan identitas khas Betawi, meskipun dalam bahasa baku berarti main. Bagi masyarakat Betawi, maen bukan sekadar persoalan menang dan kalah.

"Bermain adalah tentang kebersamaan, belajar mengalah, bersabar, dan melatih pengendalian diri agar hati menjadi girang," ucap Debby Novita Andriani.

Baca Juga: Jumat Pagi, Kualitas Udara Jakarta Masuk Lima Besar Terburuk di Dunia

Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah nyata dalam menjaga permainan rakyat sebagai objek pemajuan kebudayaan di tengah era modernisasi.

"Sebagai satu-satunya pusat edukasi dan laboratorium budaya Betawi milik Pemprov DKI Jakarta, Setu Babakan terus berkomitmen memperkuat identitas kebudayaan lokal di tengah transformasi Jakarta menuju kota global," ujar Debby Novita Andriani.

Debby menuturkan untuk memastikan kelestarian budaya tetap berlangsung di DKI Jakarta, pendekatan kolaborasi pentaheliks diterapkan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, masyarakat, akademisi, perguruan tinggi, hingga pihak swasta.

Dia menambahkan selain menyajikan koleksi permainan tradisional, rangkaian pameran juga dilengkapi kegiatan pengetahuan atau knowledge management.

Para peserta diajak mengikuti lokakarya musik Gambang Kromong serta pelatihan pembuatan bir pletok, minuman khas Betawi yang telah diatur melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 11 Tahun 2017.

"Pameran temporer ini kami harapkan dapat diikuti oleh seluruh peserta ataupun pengunjung yang hadir hingga usai, sekaligus menjadi momentum untuk mempererat rasa bangga terhadap warisan budaya Jakarta," ucap Debby Novita Andriani.

Baca Juga: Bamus Betawi Minta Penista Agama di Festival Musik Ditindak Tegas

Debby berpesan kepada generasi muda agar tidak hanya mengandalkan jendela digital untuk memperluas perspektif, tetapi juga tetap mengedepankan nilai-nilai budaya dengan mengenal sejarah dan melestarikan kebudayaan.

"Melalui permainan ini, kita dapat mengembangkan karakter dan jati diri melalui kebersamaan, pengendalian emosi, serta kejujuran. Dengan demikian, nilai-nilai ini dapat menjadi pegangan dan pendamping hidup dalam bergaul, bekerja sama, serta berinteraksi secara sosial," ucap Debby Novita Andriani.

Sementara itu, Widyaiswara Ahli Utama pada Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi DKI Jakarta Widyastuti memberikan apresiasi kepada Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, khususnya UPK PBB Setu Babakan yang sudah mengangkat tema permainan tradisional Betawi.

Baca Juga: Terminal Lebak Bulus Gelar Lomba Tarik-Dorong Bus Meriahkan HUT Ke- 81 RI

"Kegiatan ini dapat menjadi aset pengetahuan yang penting bagi generasi muda," terang Widyastuti.

Dia menginginkan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dapat mengalihkan fokus generasi muda, termasuk Gen Z agar terdapat keseimbangan antara penggunaan teknologi dan permainan tradisional masa lalu.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
permainan tradisional betawi setu babakan