JawaPos.com — Komitmen Pemerintah Kota Tangerang dalam mempercepat eliminasi tuberkulosis (TBC) terus diperkuat melalui berbagai langkah nyata. Hingga Agustus 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang telah menemukan sekitar 7.200 kasus TBC terkonfirmasi melalui kegiatan skrining dan penemuan kasus secara aktif di berbagai wilayah.
Capaian tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memutus mata rantai penularan TBC sekaligus memastikan masyarakat yang terinfeksi mendapatkan pengobatan sedini mungkin.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, menegaskan bahwa penanganan TBC tidak hanya dilakukan setelah pasien terdeteksi positif. Pemerintah juga memperkuat pelacakan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien untuk mencegah terjadinya penularan berikutnya.
“Jadi kalaupun ada pasien yang sudah terdeteksi mengidap penyakit paru, kita obati, tapi juga kita lakukan pelacakan-pelacakan takutnya sebelum mereka kita obati, yang kita khawatirkan ada sentuhan-sentuhan sehingga ada penularan dan itu secara estafet biasanya melalui udara,” ujar Sachrudin,.
Berdasarkan data hingga 24 Agustus 2026, capaian penemuan kasus TBC di Kota Tangerang telah mencapai 73 persen. Sachrudin menegaskan, angka tersebut merupakan persentase capaian penemuan kasus dan bukan berarti 73 persen masyarakat Kota Tangerang menderita TBC.
Baca Juga: Mudahkan ASN Memasuki Masa Pensiun, Pemkot Tangerang Serahkan SK kepada 99 Calon Purnabakti
“Artinya, ini penemuannya ya, bukan masyarakat Kota Tangerang sebanyak 70 persen. Artinya kita tidak boleh berhenti. Terima kasih Dinas Kesehatan dan jajaran para kadernya yang terus melakukan pelacakan,” katanya.
Menurut Sachrudin, semakin aktif pemerintah menemukan kasus justru semakin besar peluang untuk menghentikan penularan. Setiap pasien yang terdeteksi harus segera memperoleh pengobatan dan mendapatkan pendampingan hingga terapi selesai.
“Kasus harus terus ditemukan, pasien harus segera diobati, dan pengobatan harus dipastikan sampai sembuh, sampai tuntas,” tegasnya.
Skrining Menjankau Masyarakat
Untuk memperluas jangkauan deteksi dini, Pemkot Tangerang melalui Dinkes mengintegrasikan tracking TBC dengan program cek kesehatan gratis. Skrining dilakukan menggunakan X-ray serta program Ransel TBC yang digelar di 430 lokus se-Kota Tangerang sejak Juli hingga November 2026.
Langkah ini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, sehingga pemeriksaan dapat dilakukan lebih mudah dan kasus TBC dapat ditemukan sedini mungkin.
“Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya kita untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat, menemukan kasus lebih dini, mempercepat penanganan, sekaligus memutus rantai penularan TBC,” ujar Sachrudin.
Upaya tersebut juga melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kecamatan, kelurahan, puskesmas, kader, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, keluarga hingga masyarakat.
“Pemerintah bersama tenaga kesehatan, Kecamatan, Kelurahan, Puskesmas, kader, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat harus bergerak bersama memastikan setiap kasus ditemukan, setiap pasien mendapatkan pengobatan dan pendampingan hingga tuntas dan sembuh,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, menjelaskan bahwa menemukan kasus menjadi langkah awal yang sangat menentukan dalam upaya memutus mata rantai penularan TBC.
Berbagai strategi terus dilakukan, mulai dari program Ransel TBC, active case finding, investigasi kontak erat, pemeriksaan rontgen hingga Tes Cepat Molekuler (TCM).
“Yang paling kita utamakan untuk menanggulangi TBC harus ketemu dulu kasusnya. Jadi berupaya untuk mencari kasus sebanyak-banyaknya dengan skrining TBC melalui program Ransel TBC, kemudian kita ada active case finding TBC, kemudian plus cek rontgen,” ujar Dini saat diwawancarai Tangerang Ekspres, Kamis (27/8).
Hasilnya menunjukkan capaian skrining yang cukup tinggi. Dari target sekitar 30 ribu pemeriksaan, jumlah terduga TBC yang berhasil ditemukan mencapai sekitar 40 ribu orang, atau sekitar 112 persen dari target skrining.
Dini menjelaskan, angka tersebut merupakan jumlah terduga TBC hasil skrining dan belum seluruhnya dinyatakan positif. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
“Ini baru terduga, baru skrining, baru mencari yang batuk-batuk lama, yang keringat dingin, yang berat badannya tidak naik. Nanti dari yang terduga itu diperiksa, di-rontgen, TCM dahaknya diperiksa,” jelasnya.
Dari rangkaian pemeriksaan tersebut, Dinkes Kota Tangerang telah menemukan sekitar 7.200 kasus TBC terkonfirmasi.
Pengobatan dan Pendampingan Hingga Sembuh
Setelah kasus terkonfirmasi, pasien langsung mendapatkan pengobatan dan pendampingan. Dinkes Kota Tangerang juga memberikan penanganan bagi pasien yang mengalami resistensi obat.
Salah satu tantangan dalam penanggulangan TBC adalah memastikan pasien menjalani pengobatan secara disiplin hingga selesai. Terapi TBC membutuhkan waktu sekitar enam bulan sehingga dukungan keluarga dan lingkungan sangat dibutuhkan.
“Tantangannya adalah mendampingi pasien supaya tidak putus minum obat selama enam bulan. Kalau putus, nanti khawatir bakterinya kebal. Nah, tadi munculnya resisten obat,” kata Dini.
Selain pengobatan pasien, Dinkes juga memperkuat investigasi kontak erat. Anggota keluarga dan orang yang memiliki kontak dekat dengan pasien akan diperiksa untuk memastikan tidak terjadi penularan lanjutan.
“Jadi dicari, ada tidak yang positif lagi di keluarga, kemudian diskrining, diinvestigasi kontak, di-rontgen, diambil dahaknya, diperiksa di laboratorium melalui TCM, melalui PCR,” tutur Dini.
Dini menegaskan, tingginya jumlah kasus yang ditemukan melalui skrining tidak selalu berarti penularan TBC semakin buruk. Sebaliknya, angka tersebut menunjukkan semakin aktifnya upaya pencarian kasus di masyarakat.
“Kalau ketemu banyak, kita obati. Mudah-mudahan dengan diobati itu kita putus rantai penularannya,” ujarnya.
Komitmen tersebut turut mendapat apresiasi di tingkat regional maupun nasional. Dini menyebut Kota Tangerang menjadi salah satu daerah yang mendapat apresiasi atas upaya penanggulangan TBC.
“Alhamdulillah, kita diapresiasi baik regional provinsi maupun nasional. Kita terbaik pertama di penanganan penanggulangan TBC,” katanya.
TBC Bisa Sembuh, Jangan Ada Stigma
Di tengah upaya memperluas penemuan kasus, Dinkes Kota Tangerang juga mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada penderita TBC. Dukungan keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting agar pasien tetap semangat menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Kalau ada yang keluarganya TBC, kita dorong supaya diperiksa lebih lanjut. Kemudian keluarga diperiksa, kemudian minum obat secara teratur. Insyaallah sembuh. Jadi TBC itu bisa sembuh,” tegas Dini.
Sejumlah kelompok masyarakat dinilai lebih rentan terkena TBC, antara lain lansia, anak-anak, bayi dan balita, serta masyarakat dengan penyakit penyerta seperti diabetes.
Karena itu, upaya pencegahan juga perlu dilakukan secara bersama-sama, mulai dari menjaga asupan gizi, kebersihan dan kesehatan lingkungan hingga memastikan imunisasi, termasuk vaksin BCG pada bayi.
Melalui penguatan skrining, penemuan kasus aktif, investigasi kontak, pengobatan serta pendampingan pasien, Pemerintah Kota Tangerang terus mendorong terciptanya masyarakat yang lebih sehat sekaligus mempercepat target eliminasi TBC.
Masyarakat pun memiliki peran penting dalam keberhasilan program tersebut. Mengenali gejala, tidak ragu memeriksakan diri dan memberikan dukungan kepada pasien menjadi langkah sederhana yang dapat membantu memutus mata rantai penularan.
TBC bukan akhir dari segalanya. Dengan ditemukan lebih cepat, diobati secara tepat dan didukung bersama, pasien dapat sembuh dan rantai penularan dapat diputus.
Editor : Mohamad Nur Asikin