Kamis, 23 Juli 2026
Logo

AI Masuk Ruang Kelas, Mendikdasmen: Harus Disertai Pemahaman Etika yang Kuat

Selasa, 28 Okt 2025 | 19:32 WIB

Mendikdasmen Abdul Mu
Mendikdasmen Abdul Mu
 


JawaPos.com — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini telah menembus ruang kelas. Alih-alih pasang badan melawan, pelaku pendidikan dituntut lebih fleksibel, namun tetap bertanggungjawab.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, penggunaan AI harus disertai dengan pemahaman etika yang kuat. Tak hanya sekadar memasukkan mata pelajaran coding dan AI ke pembelajaran siswa, pihaknya juga melengkapinya dengan mengajarkan materi etika penggunaan AI.

“Makanya di dalam materi kita, di Capaian Pembelajaran Coding dan AI itu, ada khusus membahas mengenai etika penggunaan AI,” tuturnya dikutip Senin (27/10).

Terpisah, Alamanda Shantika, Pendiri BINAR Academy sekaligus mantan Vice President Gojek, mengingatkan bahwa pendidikan tak boleh sekadar menjadi pengikut teknologi. Menurut dia, pendidikan yang lamban beradaptasi justru menukar masa depan anak dengan nostalgia kurikulum lama.
Selain itu, anak-anak tak boleh hanya sekadar mengejar nilai. Ia menekankan pentingnya membentuk pembelajar yang kritis, gesit, dan siap belajar berdampingan dengan teknologi.

“Anak-anak perlu dibimbing menjadi pembelajar sepanjang hayat, bukan penghafal yang cepat usang,” katanya dalam talk show bertajuk The Global Skills Gap 2025: Preparing Children for Jobs that Still Don’t Exist.

Alamanda juga menegaskan bahwa AI bukan untuk menggantikan manusia. Akan tetapi, AI akan menggantikan mereka yang tidak tahu memanfaatkan teknologi tersebut. Karena itu, bukti kompetensi perlu ditunjukkan lewat proyek nyata dan sertifikasi profesional, dari Data Analytics, UI/UX Design, hingga Project Management yang membuka akses peluang di tingkat lokal dan global.

Ketua Yayasan Cendekia Harapan (CH) Lidia Sandra turut mengamini. Ia menyatakan, penerapan AI agent bagi seluruh SDM dan sertifikasi profesional bagi pendidik di satuan pendidikannya merupakan sebuah keharusan. “Pada akhirnya, CH mengambil posisi tidak menunggu perubahan, melainkan merumuskan arah. Guru tersertifikasi, proses belajar berbasis data, layanan sekolah yang lebih cepat dan akurat,” paparnya.

Lalu, bagaimana memastikan anak tetap kritis ketika AI sudah masif digunakan? Menurutnya ada banyak cara yang dapat diterapkan. Mulai dari mengaplikasikan kurikulum berbasis proyek, magang bermakna, penggunaan agentic AI untuk memecahkan masalah riil, hingga konektivitas jelas dengan industri. Dengan begitu, nalar siswa akan terus terpantik. (mia/oni)

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
Bagikan:
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp dan dan podcast kami?
Jawa Pos Metropolitan
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Kami Haus GOL Kamu
Dari ruang redaksi ke telinga kamu, inilah Jawa Pos Podcast! Obrolan santai tapi bermakna soal isu terkini, olahraga, hiburan dan kehidupan sehari-hari. Karena setiap cerita layak untuk dibicarakan!

Berita Terkini

Populer

LogoGraha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Telepon / Fax:
021-53699659 / 021-5349207
Dapatkan Informasi Lebih BanyakIkuti Saluran Whatsapp
Epaper
Akses EpaperBerlangganan Koran Digitalhttps://digital.jawapos.com/newspaper/51313
Download Google PlayDownload App Store
© 2026 PT. Jawa Pos Grup Multimedia