Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan Olahraga

Peringati Hari Suci Tumpek Uye, Ratusan Umat Hindu Padati Pura Parahyangan Agung Jagatkartta di Lereng Gunung Salak

Hilmi Setiawan • Sabtu, 7 Februari 2026 | 09:08 WIB

Sejumlah umat Hindu beribadah di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta di Gunung Salak, Kab. Bogor (6/2). Bertepatan dengan peringatan Hari Suci Tumpek Uye. (Hilmi/Jawa Pos)
Sejumlah umat Hindu beribadah di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta di Gunung Salak, Kab. Bogor (6/2). Bertepatan dengan peringatan Hari Suci Tumpek Uye. (Hilmi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Ratusan umat Hindu dari penjuru Indonesia memperingati Hari Suci Tumpek Uye di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta di lereng Gunung Salak (6/2). Pada momen ini, umat Hindu ikut menjalankan semangat ekoteologi. Yaitu menjalankan perintah agama dengan tetap konsisten menjaga lingkungan hidup.

Upaya menerapkan konsep ekoteologi diantaranya dengan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Upaya ini didukung dengan pemberian alat pencacah, untuk mengurangi penumpukan sampah di komplek Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.

Alat pencacah sampah itu merupakan hibah dari Ditjen Bimas Hindu Kemenag kepada pengelola pura terbesar kedua di Indonesia itu. Penyerahan alat pencacah sampah itu dilaksanakan pada momen Hari Suci Tumpek Uye (6/2). Selain penyerahan alat pencacah sampah, juga ada pelepasan ratusan ekor burung dan penanaman pohon.

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Dukbangga) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka ikut hadir bersama ratusan umat Hindu. Pada puncak acara, Isyana menyampaikan pidato tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Upaya menjaga hubungan baik itu dimulai dari keluarga.

Photo
Photo

Dia menjelaskan peringatan Hari Suci Tumpek Uye merupakan momentum untuk menegakkan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta. "Kita berkumpul di Pura yang suci ini, tidak hanya representasi spiritual umat. Tetapi juga menjaga harmoni dengan alam," katanya.

Dia menyambut baik adanya alat pencacah sampah di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta itu. Karena mendukung masalah sampah yang jadi perhatian bersama. Selain itu juga sejalan dengan semangat ASRI yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Yaitu upaya bersama untuk mewujudkan Indonesia yang aman, sehat, resik, dan indah.

Menurut Isyana kebersihan dan kesehatan lingkungan ikut berperan dalam menghadirkan keluarga yang berkualitas. Secara khusus Kementerian Dukbangga berupaya menjaga siklus hidup manusia yang berkualitas.

"Dimulai dari janin yang sehat, anak cerdas, remaja berkarakter, keluarga tangguh, sampai dengan lansia yang produktif dan bahagia," paparnya.

Menurut dia kualitas manusia tidak lepas dari kondisi tempat tinggal dan bertumbuh. Baginya lingkungan yang lestari, akan melahirkan generasi unggul. Dia menegaskan peran keluarga sebagai titik awal sangat penting.

"Mulai dari mengelola sampah, menanam pohon, ketika keluarga bergerak, komunitas bergerak dan bangsa bergerak," tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama Dirjen Bimas Hindu Kemenag Prof I Nengah Duija menjelaskan rangkaian peringatan Hari Suci Tumpek Uye kali ini spesial. Pasalnya menjadi momentum untuk menegakkan semangat ekoteologi yang digagas Menag Nasaruddin Umar.

Duija menjelaskan peringatan Tumpek Uye jadi momentum suci bagi umat Hindu untuk memperkuat kesadaran spiritual. Khususnya dalam memuliakan hewan dan menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari dharma kehidupan.

“Tumpek Uye adalah momentum suci bagi umat Hindu yanh diperingati setiap 210 hari sekali. Untuk memuliakan para hewan dan satwa yang tumbuh di atas bumi ini,” kata dia. Duija menjelaskan peringatan Tumpek Uye kali ini mengusung tema Green Dharma Bakti Pertiwi untuk Nusantara Jaya.

Dia menjelaskan peringatan Tumpek Uye memiliki makna mendalam. Mengajak manusia untuk menyadari bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung kepada keseimbangan alam. Termasuk pelestarian satwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Menurut Duija, Green Dharma sejalan dengan program Astacita Presiden Prabowo Subianto serta kebijakan Kemenag dalam penguatan ekoteologi untuk mengakselerasi kesadaran spiritual umat terhadap lingkungan hidup.

“Green Dharma bukan sekadar ritual, tetapi aksi nyata umat Hindu dalam merawat alam semesta, sejalan dengan Gerakan Indonesia Asri yang dicanangkan Presiden,” katanya. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#umat hindu