JawaPos.com - Alpha Women’s Specialist Indonesia berambisi menghadirkan layanan fertilitas berteknologi tinggi di tanah air dengan strategi transfer ilmu dan teknologi dari Malaysia. Salah satu teknologi yang menjadi sorotan adalah Cryotech, yakni teknik kriopreservasi hasil pengembangan dari Jepang.
Country Director Alpha Women’s Specialist Indonesia Siska Hernando menjelaskan pendekatan Alpha bersifat bertahap dan terukur. Pihaknya mendatangkan dua ahli dari Malaysia, menjalankan program pelatihan bagi dokter Indonesia, serta menyusun roadmap layanan untuk 1 hingga 5 tahun kedepan. Tujuannya, menjadikan tenaga medis lokal mampu mengoperasikan pusat IVF secara mandiri.
“Kami membawa standar teknologi dan keahlian yang selama ini kami terapkan di pusat utama kami,” kata Siska.
Teknologi Cryotech, menurut Siska, memberikan tingkat keberhasilan pencairan embrio (survival rate) yang konsisten. Alpha telah mencatat 100 persen survival rate sejak pertama kali menerapkan kombinasi teknologi dan protokol laboratoriumnya pada 2013, prestasi yang sempat diakui lewat catatan rekor di Malaysia. Alpha berencana mereplikasi kemampuan tersebut untuk pasien di Indonesia.
Ia menegaskan transfer teknologi ini merupakan bagian dari komitmen Alpha untuk meningkatkan kualitas layanan fertilitas bagi pasangan Indonesia.“Kami sangat bangga dengan teknologi cryopreservation ini. Ketika embrio atau blastosis dibekukan lalu dicairkan, kondisi yang utuh memberi keyakinan kuat bagi pasien saat proses transfer ke rahim,” ujar Siska.
Untuk menjaga harapan pasien tetap realistis, Siska juga menegaskan bahwa IVF masih menghadapi tantangan dan tidak ada jaminan keberhasilan absolut. Fokus Alpha adalah meminimalkan variabel yang dapat dikontrol melalui teknologi, standar laboratorium, dan kapabilitas medis. “Yang bisa kami janjikan adalah akses ke teknologi dan keahlian setara dengan yang kami berikan di markas besar kami,” tambahnya.
Dari sisi bisnis dan aksesibilitas, Siska menyebutkan bahwa struktur harga layanan di Indonesia akan dibuat setara dengan standar yang berlaku saat ini, sehingga tidak ada disparitas signifikan antara biaya layanan di Malaysia dan yang akan ditawarkan di Indonesia. Mengenai lokasi, Alpha akan memusatkan investasi awal pada dua kawasan ekonomi khusus: KEK Sanur dan KEK BSD, alih-alih langsung menyasar seluruh wilayah kepulauan Indonesia.
Target waktunya terbilang ambisius. Proses fitting out fasilitas dijadwalkan dimulai segera, dengan harapan layanan tatap muka untuk pasien sudah bisa dimulai pada kuartal keempat 2026. Jika terealisasi, langkah ini berpotensi memangkas kebutuhan pasien untuk pergi langsung ke luar negeri dan memberi alternatif lokal dengan dukungan standar internasional.
Dengan kombinasi transfer teknologi, penguatan SDM medis lokal, dan penempatan fasilitas strategis, Alpha menempatkan diri sebagai salah satu pemain yang berharap memperkaya ekosistem layanan fertilitas di Indonesia. Meski demikian, perusahaan tetap mengingatkan pasien agar menaruh ekspektasi realistis dan memahami bahwa keberhasilan program kehamilan melibatkan banyak faktor-teknis maupun biologis. (als/wir)
Editor : Arief Indra Dwisetyadi