Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Tidak Hanya untuk Trading, Masjid Istiqlal Kampanyekan Berwakaf Lewat Saham

Hilmi Setiawan • Minggu, 14 Desember 2025 | 15:57 WIB

 

Peluncuran kampanye berwakaf lewat instrumen saham yang dilakukan di Masjid Istiqlal Jakarta. Dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)
Peluncuran kampanye berwakaf lewat instrumen saham yang dilakukan di Masjid Istiqlal Jakarta. Dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com - Minat investasi lewat saham di kalangan remaja semakin besar. Saham tidak hanya bisa dipakai untuk trading. Saham juga bisa jadi sumber pahala, dengan skema wakaf saham. Istiqlal Global Fund bersama Majoris Asset Management berkolaborasi untuk sosialisasi berwakaf lewat saham.

Kampanye berwakaf lewat saham itu dikemas dalam program Wakaf Saham Masjid Istiqlal. Peluncuran itu dihadiri langsung Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar. Peluncuran itu merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang ditandatangani oleh Majoris dan IGF-BPMI (Istiqlal Global Fund - Badan Pengelola Masjid Istiqlal) pada Oktober lalu. Melalui kampanye Yuk Wakaf Saham, masyarakat dapat berwakaf melalui instrumen pasar modal syariah.

Dalam kerjasama itu IGF-BPMI bertindak sebagai nazhir atau pengelola wakaf. Tugasnya menghimpun dan menyalurkan manfaat. Sementara Majoris berperan sebagai manajer investasi dan mengelola portofolio sesuai prinsip syariah. Manfaat wakaf akan dialokasikan pada tujuh pilar pembinaan sosial Masjid Istiqlal. Mulai dari pendidikan, kesehatan, dan pengelolaan sampah (waste management). Kemudian penyediaan air bersih, energi berbasis solar panel, kewirausahaan, dan pemberdayaan ekonomi melalui Istiqlal Mart.

Direktur IGF-BPMI menambahkan Ahsanul Haq mengatakan, IGF-BPMI sebagai Nazhir bertanggung jawab mengelola aset wakaf saham dengan amanah dan profesional. "Melalui acara itu proses penerimaan wakaf dari wakif juga dibuka perdana hari ini menandai dimulainya implementasi program sesuai prinsip syariah dan regulasi yang berlaku," katanya (14/12).

Nasaruddin Umar mengatakan ada sejumlah keuntungan berwakaf dengan saham. Selain pahalanya terus mengalir, juga tidak kena pajak. "Kalau misalnya menyimpan Rp 1 miliar di deposito, itu kena pajak," katanya. Tetapi jika disimpan dalam bentuk wakaf produktif, tidak kena pajak.

Direktur Utama Majoris Zulfa Hendri menyampaikan peluncuran program itu menandai dimulainya fase sosialisasi Program Wakaf Saham kepada masyarakat. "Kami telah menyiapkan rangkaian kampanye sosialisasi komprehensif untuk tahun 2026," katanya. Mereka juga akan membuka platform untuk mendengarkan masukan dari berbagai stakeholder guna menyempurnakan implementasi program.

Program kampanye berwakaf lewat saham itu diluncurkan di tengah momentum kuat potensi wakaf dan perluasan pasar modal syariah di Indonesia. Badan Wakaf Indonesia (BWI) mencatat akumulasi wakaf uang sekitar Rp 3,5 triliun. Namun potensi wakaf uang diperkirakan mencapai Rp 181 triliun per tahun. Angka ini menunjukkan ruang besar yang bisa dimobilisasi.

Di pasar modal, KSEI melaporkan 19,2 juta Single Investor Identification (SID) per Oktober 2025. Menandakan basis investor ritel yang kian meluas dan memberi fondasi bagi pengembangan instrumen wakaf berbasis saham. Secara makro, Bank Indonesia mencatat pangsa aset keuangan syariah telah mencapai 51,42 persen per Agustus 2025. Data ini empertegas peran ekonomi syariah sebagai pilar penting dalam perekonomian nasional.

Inisiatif Wakaf Saham Istiqlal menjadi langkah konkret mendukung implementasi Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2025–2029 dan RPJMN 2025–2029 yang dicanangkan pemerintah. Serta menegaskan peran sektor swasta dalam mengembangkan inovasi wakaf berbasis pasar modal yang inklusif dan berkelanjutan. Program sosialisasi akan berlanjut sepanjang tahun 2026 dengan berbagai kegiatan edukasi dan kampanye publik, dimulai dari penerimaan wakaf perdana pada acara peluncuran hari ini. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#masjid istiqlal