JawaPos.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terus mengkampanyekan ekoteologi. Sederhananya adalah sebuah konsep keberagamaan yang juga memikirkan kelestarian alam. Praktiknya tidak sebatas menanam pohon semata.
Penegasan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam Dialog Media Refleksi Kinerja 2025 di Jakarta (23/12). Dialog tersebut menjadi ajang pertemuan antara Nasaruddin beserta petinggi Kemenag lainnya bersama wartawan jelang pergantian tahun. Sejumlah wartawan penasaran dengan konsep ekoteologi yang digaungkan Kemenag saat ini.
’’Ekoteologi bukan hanya menanam pohon. Tetapi hijau sejak di pikiran dan hati,’’ katanya. Nasaruddin menjelaskan konsep beragama Aku adalah Engkau dan Engkau adalah Aku. Dalam ekoteologi, terminologi Engkau itu diperluas. Engkau tidak sebatas hubungan antara sesama manusia saja. Tetapi juga alam.
Baca Juga: Minat Anak Muda Belajar Ilmu Hisab dan Rukyat Turun, Ini yang Bakal Dilakukan Kemenag!
’’Engkau bukan sesama manusia saja. Tetapi juga hewan, sungai, pohon, dan lainnya,’’ tuturnya. Dengan konsep ekoteologi itu, umat beragama juga mempunyai hubungan yang erat dengan hewan, sungai, pohon, dan lainnya.
Misalnya hubungan dengan sungai, maka manusia akan menjaga sungai tetap bersih. Tidak rela ketika sungai dijadikan tempat sampah raksasa. Bagi Nasaruddin, sungai bukan benda mati. Sebab, dalam konsep agama Islam, semua yang ada di alam semesta bertasbih kepada Allah. Maka, sungai juga bisa marah ketika diperlakukan tidak baik.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu menegaskan bahwa bahasa Agama harus digunakan untuk kepentingan menjaga lingkungan hidup. Manusia sebagai khalifah di muka bumi tidak boleh lagi dimaknai bisa eksplorasi bumi seenaknya sendiri. Sebab, makna dari khalifah itu juga sekaligus menjaga. (wan/oni)
Editor : Arief Indra Dwisetyadi