Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Peringatan HAB Digelar di Lapangan Banteng, Menag Ingatkan Bahaya AI Tanpa Muatan Religi

Hilmi Setiawan • Sabtu, 3 Januari 2026 | 14:34 WIB

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memimpin upacara Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 di kantor Kemenag Lapangan Banteng Jakarta (3/1). (Dok. Kemenag)
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memimpin upacara Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 di kantor Kemenag Lapangan Banteng Jakarta (3/1). (Dok. Kemenag)
 

JawaPos.com - Upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 digelar di kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Upacara dipimpin langsung oleh Menag Nasaruddin Umar. Selain urusan kerukunan, dia juga menyinggung soal kecerdasan buatan (AI).

Keberadaan AI di tengah-tengah masyarakat tidak sebatas urusan kemajuan teknologi saja. Bagi Nasaruddin, pemanfaatan AI ke depan akan semakin kuat. Termasuk di kalangan umat beragama.

Menurut dia, AI itu mempunyai dua sisi. Sisi positif dan negatif. "AI itu seperti atom atau nuklir," kata Nasaruddin. Imam Besar Masjid Istiqlal itu menuturkan, banyak negara maju memanfaatkan atom atau reaktor nuklir sebagai pembangkit listrik yang murah dan bersih.

Tetapi di sisi lain nuklir juga bisa disalahgunakan menjadi senjata pemusnahan massal. Seperti yang pernah dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima pada 1945 silam. Untuk itu, tegas Nasaruddin, keberadaan AI harus dikawal. Supaya tidak digunakan untuk urusan negatif.

Diantara upaya mengawal keberadaan AI adalah dengan memasukkan aspek religi atau keagamaan. "Pemanfaatan AI tanpa spiritual, bisa memicu dehumanisasi," tegasnya. Menurutnya konten AI harus diisi juga dengan muatan keagamaan yang moderat.

Nasaruddin menegaskan umat beragama saat ini menghadapi tantangan AI di era perubahan yang berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Pada momen peringatan HAB itu, dia minta jajaran Kemenag tidak sekadar menjadi penonton. Tetapi juga mampu memberi warna substansi AI.

Dia menceritakan dahulu para ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah. "Hari ini ASN Kemenag harus mampu mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan,” pesannya.

Kemenag harus memastikan bahwa algoritma masa depan tidak hampa dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Maka AI harus dikawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan. Bukan sebaliknya, jadi pemicu disinformasi dan perpecahan.

Kemudian terkait dengan kerukunan, dia menekankan harus dijaga terus. Nasaruddin bersyukur pada 2025 indeks kerukunan mengalami kenaikan. Baginya upaya menjaga kerukunan tetap di level tertinggi adalah tantangan yang harus dijalankan.

Dia menekankan bahwa tanpa kerukunan, pembangunan tidak akan berjalan. Begitupun dengan stabilitas ekonomi dan lainnya. Untuk itu dia mengapresiasi tema HAB tahun ini yaitu, Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju.

Dia mengajak jajaran Kemenag untuk menyatukan tekad melanjutkan semangat Kemenag Berdampak dalam aksi nyata untuk kemajuan bangsa. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#kemenag