JawaPos.com - Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Inggris membawa beberapa hasil positif. Diantaranya adalah bergabungnya Indonesia dalam The Coalition to Grow Carbon Markets. Indonesia tercatat sebagai anggota Pemerintah ke-11 dalam koalisi bursa karbon dunia itu.
Negara lain yang ada dalam daftar keanggotaannya adalah Kanada, Prancis, Panama, Peru, Swiss, Selandia Baru, dan Zambia. Kemudian para Ketua Bersama Koalisi Kenya, Singapura, serta Inggris. Seluruh anggota koalisi ini berkomitmen memajukan aksi iklim melalui peningkatan pemanfaatan kredit karbon berintegritas tinggi oleh dunia usaha.
Pengumuman bergabungnya Indonesia dalam Koalisi Bursa Karbon Dunia itu disampaikan oleh Menteri Kehutanan (Menurut) Raja Juli Antoni, dalam diskusi Advancing Indonesia–UK Collaboration on High-Integrity Carbon Markets di kantor pusat Standard Chartered di London. Kegiatan ini berlangsung setelah pertemuan Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer. Keduanya bertemu dalam rangka peluncuran Kemitraan Strategis Indonesia–Inggris (UK–Indonesia Strategic Partnership).
“Merupakan suatu kehormatan bagi saya mengumumkan bahwa hari ini Kementerian Kehutanan bergabung dengan The Coalition to Grow Carbon Markets, mewakili sektor kehutanan Indonesia," kata Raja dalam keterangannya (21/1). Dia mengatakan Indonesia memiliki modal alam yang signifikan dan pengalaman nyata dalam solusi berbasis alam.
Pasalnya Indonesia tercatat sebagai negara dengan hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, ekosistem mangrove yang luas, serta lahan gambut tropis yang besar. Dengan keunggulan itu, Indonesia dapat memberikan kontribusi penting bagi upaya global dalam mencapai target iklim.
Raja menjelaskan sebagai anggota koalisi yang mewakili sektor kehutanan, Indonesia akan bekerja bersama negara-negara yang memiliki visi serupa. Yaitu visi untuk meningkatkan permintaan terhadap kredit karbon berintegritas tinggi dari sektor kehutanan dan solusi berbasis alam.
"Semua ini tujuannya untuk mendukung pertumbuhan hijau. Tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia," paparnya.
Lebih lanjut Raja menyampaikan, Indonesia bergabung bersama sepuluh pemerintah anggota Koalisi lainnya yang berkomitmen memajukan aksi iklim. Khususnya melalui peningkatan pemanfaatan kredit karbon berintegritas tinggi oleh dunia usaha,
Sementara itu, Perwakilan Khusus Inggris untuk Iklim Rachel Kyte menyambut baik bergabungnya Indonesia dalam The Coalition to Grow Carbon Markets. "Delapan negara lain dari seluruh dunia kini telah bergabung dengan kami," sambutnya.
Seluruh negara yang berada dalam Koalisi berkomitmen mengamankan kepemimpinan negara-negara dalam memastikan perusahaan memahami apa yang perlu mereka lakukan untuk berpartisipasi di pasar karbon secara berintegritas.
Menurut dia, pasar karbon dapat memainkan peran penting dalam mewujudkan kemajuan menuju target iklim negara. Sekaligus memastikan tersedianya aliran pendanaan untuk berinvestasi dalam melindungi alam dan membangun ketahanan.
Upaya Indonesia dalam solusi berbasis alam akan memastikan Koalisi membantu mendorong investasi sektor swasta ke dalam proyek-proyek berintegritas tinggi. Dengan tujuan melestarikan hutan, mengurangi emisi, dan memajukan pembangunan berkelanjutan.
Sebagai mitra lama bagi Inggris dan Indonesia, Standard Chartered secara aktif terlibat dalam pengembangan pembiayaan berkelanjutan. Termasuk mendukung pengembangan pasar kredit karbon berintegritas tinggi di Indonesia. Donny Donosepoetro selaku CEO Standard Chartered Indonesia menyatakan sangat bangga dapat memfasilitasi proses itu.
Baginya keikutsertaan Indonesia dalam Koalisi ini akan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan standar kualitas, transparansi, serta permintaan terhadap pasar kredit karbon berintegritas tinggi. Khususnya yang mendukung solusi berbasis alam.
Untuk diketahui Koalisi Pasar Karbon itu Diluncurkan pada London Climate Action Week pada Juni 2025. Koalisi ini telah membangun keselarasan internasional yang penting terkait penggunaan kredit karbon oleh korporasi. Diantaranya melalui peluncuran Shared Principles for Growing High-Integrity Use of Carbon Credits pada COP30 di Brasil.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi