Bantuan itu bahkan disebutkannya disampaikan langsung kepada Gubernur Banten Andra Soni. ‘’Saya mengatakan kepada pak gubernur Banten, Pak kalau memang Banten belum sanggup, Tangerang Selatan belum bisa, sementara Jakarta mempunyai kemampuan, Jakarta yang meng-cover pembiayaannya,’’ terang Pramono.
Hal itu disampaikannya karena ingin menunjukkan tidak ada sekat antara Jakarta dan Banten. Bahwa, kolaborasi bisa dibangun atas kepentingan bersama, bukan ego wilayah.
Untuk bantuan, Pramono menegaskan, bukan untuk pengolahan sampah. Melainkan, untuk mengangkut sampah yang sempat viral karena menumpuk di banyak wilayah. Menurutnya, armada pengangkutan sampah yang dimiliki DKI bisa dimanfaatkan untuk itu.
‘’Saya membayangkan, kalau memang problemnya adalah transportasi, tentunya Jakarta punya alat transportasi yang bisa digunakan,’’ terangnya. Jadi, setelah sampah dibantu diangkut, jajaran Pemprov DKI akan menyerahkan pengelolaan kepada Banten.
‘’Mengenai pembuangannya, ya tentunya sepenuhnya kewenangan dari Tangerang Selatan. Kami ingin saling mengisi,’’ katanya.
Dibalik hal itu, produksi sampah Jakarta sendiri terus meningkat, kini mencapai 8.000 ton per hari. Untuk pengolahannya, Pemprov DKI paling besar mengandalkan TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
Sementara untuk RDF Rorotan, yang digadang-gadang akan menjadi teknologi baru pengolahan sebanyak 2.500 ton sampah harian Jakarta, belum juga diresmikan. Hingga kini, RDF yang menelan alokasi APBD DKI 2024 sebesar Rp 1,3 triliun itu masih banyak kendala dan ditolak warga sekitar.