JawaPos.com - Universitas Pelita Harapan (UPH) kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang unggul dan berdampak melalui Sidang Terbuka Upacara Pengukuhan Lima Guru Besar dari berbagai disiplin ilmu. Pengukuhan berlangsung di Auditorium Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village, Tangerang, Senin (20/4).
Lima guru besar yang dikukuhkan berasal dari bidang pendidikan, hospitality dan pariwisata, ilmu politik, audit dan forensik keuangan, serta manajemen sumber daya manusia. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Drs. Khoe Yao Tung, MM., M.Kom., M.Sc.Ed., M.Ed., DTh.; Prof. Dr. Juliana, S.E., M.M., CPHCM, CMSP, CCBM.; Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.P.H., M.M., M.Si.; Prof. Dr. Tanggor Sihombing, B.A., M.B.A.; serta Prof. Dr. Drs. Ardi, M.M.Si., Ak., CA.
Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., yang turut melantik para guru besar baru, menyampaikan rasa bangga atas bertambahnya jumlah profesor di lingkungan UPH. Menurutnya, pencapaian ini menjadi bukti nyata komitmen universitas dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat kontribusi bagi bangsa.
Baca Juga: Serunya Berburu Bunga di Pasar Bunga Rawa Belong
“Atas nama UPH, saya menyampaikan selamat dan rasa bahagia. Dengan pengukuhan lima profesor kali ini, UPH telah memiliki 45 profesor. Pencapaian ini menjadi langkah penting bagi UPH untuk terus berkembang dan memajukan pendidikan tinggi di Indonesia,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Wakil Ketua MPR RI, Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M., yang hadir sebagai bagian dari keluarga besar UPH. Sebagai alumni Prodi Doktor Manajemen UPH angkatan 2019, ia mengaku merasakan langsung proses pembentukan karakter dan kecerdasan selama menempuh pendidikan di kampus tersebut.
“UPH bukan hanya sekadar nama institusi besar, tetapi sebuah kawah candradimuka. Saya sendiri merasakan bagaimana kecerdasan dan karakter dibentuk, disertai kasih serta dukungan yang luar biasa,” ungkapnya.
Lestari menegaskan, guru besar tidak hanya berperan sebagai akademisi, tetapi juga penjaga nalar publik dan pengarah kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. Ia berharap para profesor UPH dapat terus menghadirkan pemikiran yang relevan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Baca Juga: 5 Perbedaan Layanan DAMRI Premium vs Reguler untuk Rute Bandara yang Sering Bikin Bingung Penumpang
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., melalui tayangan video, menilai pengukuhan lima guru besar secara bersamaan merupakan capaian yang tidak biasa.
“Menorehkan sejarah dengan mengukuhkan lima guru besar tetap secara bersamaan bukanlah hal yang biasa. Bagi kami di LLDikti Wilayah III, ini adalah lompatan besar yang sangat menggembirakan,” ujarnya.
Dalam orasi ilmiah masing-masing, para guru besar memaparkan gagasan strategis sesuai bidang keilmuan mereka. Prof. Dr. Drs. Ardi, M.M.Si., Ak., CA., yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, mengangkat pendekatan Self-Mindset Development sebagai paradigma antikorupsi.
Melalui penelitiannya berjudul “Embrace the Corruptor,” ia menekankan pentingnya pembentukan karakter, spiritualitas, dan pola pikir dalam upaya pemberantasan korupsi.
“Strategi antikorupsi yang holistik memerlukan perbaikan sistem dan tata kelola sekaligus pembentukan mindset, karakter, dan spiritualitas individu,” tutur Prof. Ardi.
Dari bidang pariwisata, Prof. Dr. Juliana, S.E., M.M., CPHCM, CMSP, CCBM., yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Manajemen Hospitality and Tourism, menawarkan Model CITRA (Collaborative Inclusive Tourism Resilience Architecture).
Dalam penelitian berjudul “Model CITRA: Integratif Pariwisata Kreatif dan Inklusif Berbasis Co-Creation Experience untuk Membangun Indonesia Bahagia,” ia menyoroti pentingnya pariwisata yang berpusat pada manusia, kolaboratif, dan inklusif.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Botol, Tumbler Kini Jadi Lifestyle Saat Beraktivitas
“Pembangunan pariwisata Indonesia bukan sekadar meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi membangun ekosistem terpadu yang melibatkan pengalaman, kreativitas, dan partisipasi masyarakat,” ujarnya.
Pengukuhan Prof. Juliana juga menandai pencapaian istimewa. Ia sekaligus meraih Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai profesor termuda di bidang Ilmu Manajemen Perhotelan dan Pariwisata di Indonesia.
Sementara itu, Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.P.H., M.M., M.Si., yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Politik, mengangkat tema bonum commune atau kebaikan bersama. Dalam penelitiannya berjudul “Negara untuk Kebaikan Bersama (Bonum Commune): Sebuah Pencarian Makna Kekuasaan dalam Pemikiran Politik,” ia menekankan bahwa kekuasaan seharusnya dipahami sebagai amanah moral untuk menghadirkan manfaat bagi publik.
Baca Juga: Aksi Nyata Berbuah Besar Isu Ikan Sapu-sapu di Jakarta Jadi Sorotan
“Implementasi bonum commune dalam demokrasi adalah sebuah keharusan. Kekuasaan harus dijalankan secara etis, partisipasi publik perlu diperkuat, dan kepercayaan masyarakat menjadi dasar legitimasi demokrasi,” kata Prof. Thomas.
Dari bidang pendidikan, Prof. Dr. Ir. Drs. Khoe Yao Tung, M.M., M.Kom., M.Sc.Ed., M.Ed., D.Th., menyoroti masa depan pembelajaran berbasis personalized learning dan Artificial Intelligence (AI). Melalui penelitian berjudul “Personalized Learning, Desain Instruksional dan Artificial Intelligence sebagai Framework Pembelajaran Masa Depan,” ia menegaskan bahwa teknologi seharusnya mendukung peran guru dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih adaptif dan bermakna.
“AI bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi membantu merancang pengalaman belajar yang lebih personal, adaptif, dan bermakna bagi setiap siswa,” ujarnya.
Adapun Prof. Dr. Tanggor Sihombing, B.A., M.B.A., yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Financial Audit and Forensic Audit, menegaskan pentingnya audit dalam menjaga integritas informasi keuangan. Dalam penelitiannya berjudul “Laporan Keuangan: Peran Financial Audit dan Forensic Audit dalam Meningkatkan Kualitas Informasi Keuangan kepada Pengguna dalam Pembuatan Keputusan,” ia menyoroti risiko tinggi dalam laporan keuangan serta pentingnya kompetensi auditor.
“Untuk mengurangi praktik fraud, diperlukan langkah strategis, yaitu memperkuat sistem pengawasan internal, menegakkan hukum secara konsisten, serta memperkuat peran lembaga pendidikan dalam menanamkan integritas,” ujarnya.
Pengukuhan lima guru besar ini tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga menegaskan peran UPH sebagai institusi pendidikan tinggi yang terus melahirkan pemikiran strategis, inovasi ilmiah, dan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Melalui tenaga pendidik berkualitas, UPH berkomitmen mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang profesional, kompeten, berdampak positif, dan takut akan Tuhan.
Editor : Bintang Pradewo